Memaknai Peran Pendidikan Melalui Kisah Tara Westover dalam Buku Educated

Facebook
Twitter
WhatsApp
Gambar: Pinterest

Oleh: Rusmianti

Memoar berjudul Educated yang ditulis oleh Tara Westover pada 2018 lalu ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 2020 dalam booklist saya, namun baru terbeli pada 2023 lalu dan menyelesaikannya dalam waktu kurang lebih 2 bulan saat luang. Kembali melihat buku ini berjejer diantara buku-buku di rak saya, ini seakan memanggil saya kembali untuk menyelesaikan resensi yang sudah saya tunda sejak 2023 lalu. Hal pertama yang membuat saya tertarik pada buku ini adalah judul dan ilustrasi sampulnya yang terlihat begitu sederhana namun seperti menyimpan cerita yang begitu dalam. Buku ini direkomendasikan oleh The Economist, Amy Chua (The New York Times Book Review) hingga Bill Gates (Founder dari Microsoft). Tapi diantara beberapa alasan itu, saya merasakan ketertarikan intrinsik yang membuat saya merasa belong dan perlu membaca buku ini, Feels like there is something sparkling whenever I saw this book. Saya pun kaget ketika pertama kali memegang buku ini secara fisik, ternyata cukup tebal— 516 halaman! Ingatan saya mengenai bab-bab awal pun terasa mulai memudar, but I’ll try my best to write all the parts that hit my brain the most.

Buku ini terdiri dari 3 bagian utama dan 40 bab, menyimpan kisah-kisah kehidupan Tara dengan rapi yang akan membuatmu ragu dan tidak percaya atas apa yang kamu baca, saya sampai harus beberapa kali memastikan bahwa buku ini adalah memoar dan bukan fiksi. Pembawaan Tara yang sederhana dalam tulisannya dengan mudah mengajak pembaca memposisikan diri sebagai dirinya.

Bagian pertama; Masa kecil tanpa sekolah
Buku ini dibuka dengan penggambaran kehidupan sehari-hari Tara mulai anak-anak hingga berusia 16 tahun yang kebanyakan ia habiskan membantu ayahnya di tempat rongsokan dan membantu ibunya yang adalah bidan ‘kampung’ untuk memilah herbal temuan obat-obatanya. Kamu benar jika bertanya apakah Tara tidak sekolah. Tara tinggal bersama kedua orangtuanya dan 6 orang saudara lainnya di area pegunungan bernama Buck’s Peak di Idaho, Amerika Serikat.

Tara membagikan pengalaman-pengalamannya ditempat barang rongsokan saat bekerja untuk ayahnya dengan alat berat, bagaimana ia terluka saat jatuh dari cengkraman bulldozer dan untuk penyembuhannya ayahnya lebih mengandalkan herbal yang dibuat oleh ibu Tara daripada melarikannya ke dokter, bukan karena tidak memiliki cukup banyak uang namun karena menganggap dokter sebagai ancaman dan melawan keyakinannya. Meski tumbuh dengan pandangan dogmatis, Tara tetap menaati setiap aturan ayahnya sebagai hal yang normal karena begitulah ia besarkan dan diperintahkan.

Bungsu dari 7 bersaudara ini tumbuh dengan ayah yang begitu taat atas keyakinan mormon yang dianutnya. Pada beberapa malam ayahnya sampai berpikir bahwa tuhan telah menurunkan wahyu untuk tidak melakukan hal tertentu dan untuk selalu bersiap karena sesuatu yang buruk akan segera datang. Tara tidak pernah mengetahui alasan sebenarnya mengapa ayahnya tidak ingin menerima bantuan dari pemerintah, dokter, tidak mengirimnya kesekolah seperti anak-anak lainnya dan mengapa orangtuanya selalu hidup dalam mode bertahan hidup (survival mode) untuk ‘Hari Akhir’ yang ia percayai akan segera datang. Saat remaja, ayahnya adalah seorang pemuda yang periang, penuh energi, tawa dan gairah dengan kumis tebalnya hingga kian dewasa ia menjadi pria yang dibalut oleh kekhawatiran dan kecemasan bahkan melihat ibunya sendiri yang bekerja di kota sebagai radikal bagi komunitas mormon di pedesaannya “Tempat seorang wanita adalah dirumah!”.

Sesuatu mulai berubah ketika Tara menyadari bahwa Tyler (salah satu kakak laki-lakinya) memiliki kebiasaan yang berbeda, Tara membaca banyak buku namun hanya kisah-kisah rohani dalam aliran mormon seperti yang ayahnya selalu khutbahkan. Sedangkan Tyler membaca buku-buku yang ayahnya sebut sebagai pembelajaran komunisme dan illuminati karena itu berasal dari kota. Rasa penasaran Tara mulai terpupuk melalui buku-buku kakaknya yang ia baca, atas kehidupan seperti apa yang menantinya diluar sana jika saja ia menempuh pendidikan. Against all odds, Tara mencoba melakukan hal diluar zona nyamannya dimulai dengan mengikuti tes masuk ke perguruan tinggi Brigham Young University di yang saat itu menerima calon mahasiswa homeschooling mengingat Tara tidak pernah menginjak lantai sekolah sebelumnya. Tentu tanpa restu sang ayah.

Bagian Kedua; Menemukan kenormalan
Menjadi mahasiswa dengan beasiswa atas kerja kerasnya, Tara gelapan dengan lingkungan baru yang sangat berbeda dengan kehidupannya di pegunungan, setiap pelajaran terasa asing baginya, ia pertama kali menjumpai dokter dan mengonsumsi obat diluar herbal ibunya saat sakit. Hari-hari perkuliahan dengan tantangan-tantangannya ia jalani, awal-awalnya Tara giat belajar hanya untuk mempertahankan IPK demi beasiswanya sampai ia benar-benar jatuh cinta dengan pendidikan.

Suatu waktu saat mengikuti kuliah Psikologi 101, Tara mendengarkan profesornya menjelaskan gejala-gejala gangguan bipolar seperti depresi, mania, paranoia, euforia, delusi keagungan hingga persekusi. Ini pertama kalinya ia mendengar istilah itu, ia membuka catatannya dan menuliskan “Ini ayahku, dia sedang menggambarkan tentang ayahku”.

Bagian kedua dalam buku ini mengurai apa yang sebenarnya terjadi kepada ayah Tara melalaui pendekatan ilmu psikologi yang Tara pelajari. Tara, ibunya, dan saudara-saudaranya telah hidup dengan menahan sakit, kebingungan dan kebohongan-kebohongan yang dinormalisasi selama puluhan tahun dalam dunia ayahnya. Memberi pembaca ruang dalam memahami bagaimana Bipolar dan Skizofrenia bekerja.

Bagian Ketiga; Menjadi terdidik
Pada bagian ini, semakin jelas dampak jangka panjang parenting dengan gangguan psikologis kepada anak, Tara merasakan ancaman-ancaman itu tidak datang hanya dari ayahnya namun juga dari saudaranya dalam bentuk kekerasan fisik yang dibalut oleh manipulasi sehingga menganggap itu sebagai hal yang normal.

Dengan pengetahuannya, Tara mencoba ‘memperbaiki’ ayahnya dan membalas kakaknya atas ketidakberdayaannya dimasa lalu. Namun, ia menyadari bahwa ada beberapa hal yang memang tidak bisa ia rubah. Tara berhasil membentuk ulang dirinya, menjadi Tara yang baru seperti terlahir kembali di dunia yang seharusnya dengan menggandeng gelar Doktor dari Cambridge University. Pada saat yang sama, tidak ada yang berubah di Buck’s Peak, pegunungan itu tetap menyembunyikan senyum ibunya dan menyelimuti ayahnya dengan rasa takut tak berujung.

Ada banyak cara istilah untuk menggambarkan perjalanan hidup Tara, mungkin transformasi, metamorfosis, kepalsuan, atau mungkin penkhianatan seperti pandangan ayahnya.

Tapi, tara menyebutnya pendidikan.

Buku ini menunjukkan kelemahan yang bisa diperkuat oleh pendidikan, masalah yang bisa dijawab oleh pendidikan, besarnya peran pendidikan dalam pembentukan seorang pribadi dan bagaimana pendidikan bisa menembus limitasi. Apakah kamu akan menyukai buku ini, saya rasa ya.

Deskripsi Buku:
Judul: Educated
Penulis: Tara Westover
Tahun Terbit: 2018
Bahasa: Indonesia, diterjemahkan dari Bahasa Inggris.
Halaman: 516; 20 cm

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Alauddin Makassar

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami