Washilah – Pagi di Jalan Pao-Pao, Gowa, berjalan tenang meski gerimis masih turun. Di sebuah sudut jalan, Hartati mulai sibuk menata tokonya. Ia mengeluarkan peralatan masak berupa wajan, spatula, nutella, keju juga alat tempur lainnya. Tertata sedemikian rupa agar terlihat rapi dan siap digunakan.
“Enak we, baru murah juga,” ungkap anak SD yang kerap kali beli di sana, dan kini sudah menjadi mahasiswa. Rutinitasnya kini, telah ia jalani selama lebih dari satu dekade.
Bermula pada tahun 2012. Saat itu, Hartati memutuskan resign dari pekerjaannya di salah satu restoran pizza karena sedang mengandung anak pertamanya. Begitupun suaminya, resign dari pekerjaannya. Uang yang mereka miliki tersisa dari acara akikah anak pertamanya. Alih-alih habis begitu saja untuk kebutuhan hidup, uang itu ia putar menjadi modal kecil untuk mencoba berjualan crepes.
Tidak ada alasan khusus, mengapa Hartati memilih berjualan crepes, jika menyukainya mengapa tidak ia jual saja.

Pada 2015, setelah penantian panjang, Hartati (37) dan suaminya, Ogi (40), akhirnya membuka toko sendiri – Ogi Crepes, iya benar nama ini diambil dari nama sang suami. Saat itu, crepes dijual dengan harga Rp. 2500 per porsi. Dalam sehari, pendapatannya bisa mencapai sekitar Rp. 200 ribu.
“Alhamdulillah, dulu bisa dapat sekitar dua ratus ribu sehari,” kenangnya.

Di tahun yang sama, Ogi Crepes menjadi satu-satunya penjual crepes di Gowa. Usaha ini terus bertahan hingga kini, genap 12 tahun berjalan sampai sekarang.
Menariknya, sebelum berjualan, Hartati sama sekali tidak bisa memasak, hanya gemar makan crepes. Namun, Ia sempat mengikuti kursus singkat selama tiga hari di tempat penjual crepes lain. Meski begitu, ia tidak langsung membuka usaha. Hampir satu tahun ia habiskan untuk mempertimbangkan banyak hal, sebelum akhirnya benar-benar memutuskan membuka toko.
Tokonya beroperasi mulai jam 8 pagi sampai sore sebelum adzan maghrib berkumandang.

Pembelinya pun beragam.
“Bukan cuma anak-anak, orang dewasa sampai orang tua juga beli,” ujarnya. Tak hanya pembeli yang beragam, toping crepes yang ia jual juga beragam, tapi tetap mempertahankan harga lima ribu, bisa satu toping, dua atau bahkan tiga.

Namun, pendapatan saat ini tak lagi sebesar dulu.
“Kalau sekarang bisa dapat lima puluh sampai tujuh puluh ribu sehari, itu sudah sangat disyukuri,” katanya.
Jika dulu ia bisa menghabiskan hingga 10 kilogram adonan per hari, kini persaingan membuat penjualan tak seramai sebelumnya. Meski begitu, Hartati tetap bertahan dengan keyakinannya.
“Setiap orang sudah ada rezekinya masing-masing,” ucapnya pelan.

Dari usaha crepes itulah, Hartati tak menyangka mampu merenovasi tokonya, mencicil rumah, memiliki mobil, dan menyekolahkan anak perempuannya yang kini duduk di kelas dua SMA.
Nama Ogi Crepes tetap dipertahankan. Selain singkat dan mudah diingat, kata “Ogi” atau Bugis dikenal sesuai khas Bugis Pinrang. Meski tokonya berada di Gowa, identitas itu tetap ia jaga.

Foto & Teks: Nurfadillah
Editor: Redaksi











