Washilah – Himpunan Mahasiswa Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam (HIMASKI) Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Alauddin Makassar sukses menggelar Webinar Nasional dengan mengusung tema “Narasi Sejarah Kemerdekaan” melalui aplikasi via Zoom, Sabtu (29/07/20).
Webinar nasional ini merupakan serpihan dari segala upaya memperingati seremonial bertajuk kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-75 tahun, tepatnya ditanggal 17 Agustus 2020.
Dalam webinar nasional kali ini mengundang pembicara dibidang sejarah, yakni Prof Anhar Gonggong yang merupakan peneliti sekaligus sejarawan Indonesia, serta Bonnie Triyana Pimpinan Redaksi (Pemred) majalah HistoriA.id.
Dalam pemaparannya, Prof Anhar menjelaskan bahwa akar permasalahan yang harus dihilangkan adalah warisan karakter feodalistik. Sebab menurutnya karakter tersebut adalah warisan kolonial pada masa lalu.
“Akar permasalahan yang harus kita hilangkan adalah karakter feodalistik kita. Sebab karakter tersebut adalah warisan para kolonial dimasa lalu, yang akan berdampak terhadap watak-watak eksploitatif yang akut untuk pemuda dalam mewujudkan sebuah kemerdekaan yang sebenarnya,” ucapnya.
Sebaliknya, Bonnie Triyana berpendapat bahwa kolonialisme bertumpu pada feodalisme dan kebijakan yang diskriminatif berdasarkan penggolongan ras serta kedudukan sosial dan menjelaskan kesadaran kita sebagai sebuah bangsa yang harus bersatu muncul pada 1928.
“Disinilah upaya negara mencari lagi makna merdeka, dahulu sebelum tahun 1928, kesadaran kita itu hanya bersifat etnisitas hingga pada akhirnya kesadaran kita muncul pada decade kedua abad 20, yang dengan ini melahirkan gerakan-gerakan politik yang biasa kita sebut proto nasionalisme. Sifatnya masih embrionik yang seiring dengan waktu sistem politik yang sifatnya dinamis mengantarkan gerakan politik muda ini untuk mengikrarkan janji yang sering kita sebut dengan sumpah pemuda dan dengan ikrar satu nusa, satu bahasa & satu bangsa ini berhasil menghancurkan sedikit demi sedikit sistem politik sarialistis, diskriminatif dan segregatif (Regeeringsreglement 1854),” jelasnya.
Melinda, selaku Ketua Umum HMJ SKI mengatakan bahwa tujuan kegiatan tersebut untuk bagaimana generasi muda atau para regenerasi penerus bangsa selanjutnya mampu menumbuhkan semangat patriotisme, nasionalisme, maupun menjadi stimulus membangkitkan kesadaran akan tradisi intelektual.
“Kegiatan ini merupakan upaya-upaya api kecil sebagai spirit pembangkit kesadaran akan pentingnya ilmu kesejarahan dalam kehidupan keseharian kita maupun pada ruang lingkup perkuliahan,” tuturnya.
Penulis: Ilham Hamzah
Editor: Rahmania











