Oleh : Muhammad Jufriadi
Bercerita mengenai perempuan mandar atau towaine Mandar tentu sangat menarik kita deskripsikan. Towaine Mandar sangat memelihara harkat martabatnya dengan laki-laki dan juga peka terhadap segala sesuatu, pada hal apa pun.
Banyak hal yang bisa kita lihat di kehidupan perempuan yang ada di Mandar, terutama mereka yang tinggal di daerah pesisir pantai. Kebanyakan disana bekerja sebagai panette lipaq sa’be (penenun sarung sutra), dan pa’balu bau (penjual ikan).
Keunikan di towaine Mandar di situ tidak melihat lelah meskipun suami sudah ada yang bekerja, semisal bekerja sebagai nelayan. Tetapi sang istri bukan berarti diam atau hanya mengurusi anaknya, melainkan juga bekerja untuk membatu atau menambah keberlangsungan hidup keluarganya.
Mungkin faktor yang mempengaruhi ini adalah budaya yang ada di Mandar. Sebagaimana kita ketahui, di Mandar, ada konsep dalam berumah tangga, yakni siwaliparri. Siwaliparri sendiri dalam bahasa Indonesia berarti saling berbagi susah, kebersamaan, gotong-royong sekaligus kesetaraan.
Siwallipari merupakan salah satu nilai-nilai kearifan lokal masyarakat mandar, siwallipari terdiri dari tiga suku kata, si (berhadapan), wali (lawan, musuh;bila dapat awalan me-berarti membantu), dan parri (susah) jadi, secara sederhana siwallipari berarti saling membantu atau gotong royong.
Siwallipari berangkat dari konsep rumah tangga masyarakat mandar, yakni pemahaman bahwa perempuan mandar, saling sangat setia, juga pandai menempatkan diri sebagai perempuan dan sebagai istri, ibu saya mengambarkan; “siwallipari menurut saya dapat dicontohkan misalnya, bila bapakmu memanjat kelapa, maka ibu yang membuat minyak untuk digunakan sehari-hari atau dijual guna menambah penghasilan keluarga.
Pada dasar, didalam rumah tangga, dipahami bahwa siwallipari adalah konsep yang mengharuskan perempuan mandar atau istri untuk membantu suami. Dengan pemahaman ini, posisi perempuan dan laki-laki di mata orang mandar tidak pandang timpang atau tidak berbeda. Perempuan mandar juga memiliki tangung jawab yang sama atas kehidupan dan urusan pendidikan.
Dalam pandangan sebagian masyarakat mandar, siwallipari diartikan sebagai suatu yang harus ditanggung bersama. Senang ditanggung bersama, sedih ditanggung bersama, maka jangan heran melihat perempuan mandar mengembalakan hewan ternak atau memiliki aktivitas rumah tangga sebagai pembuat lipa sa’be dan aktivitas lainnya.
Disini jelas tergambarkan bahwa siwallipari merupakan nilai yang kendati berakar dari konsep lokal, namun menjadi unik dan harus dipertahankan. Dalam konteks kekinian, tidak berlebihan jika konsep ini diterjemahkan sebagai konsep kesetaraan peran yang dalam diskursus nya lebih dimaknai sebagai konsep gender yang digali dari kearifan lokal masyarakat mandar.
*Penulis Merupakan Mahasiswa Jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Semester X.











