Oleh: Sigit
Ada yang ganas tapi bukan Harimau. Organisme satu ini memiliki keganasan yang tak mengenal batas negara dan benua, lautan mereka seberangi gunungpun mereka lewati. Virus, bakteri, memang tak kenal ampun. Dengan ukurannya yang mikroskopis, pandemi atau wabah ini telah memberikan warna tersendiri pada sejarah kehidupan manusia.
Sejarah mencatat telah terjadi banyak wabah besar atau pandemi yang cukup penting. Salah satunya wabah besar yang tercatat dalam sejarah yaitu pada tahun 541 muncul suatu wabah yang menyerang Mesir yang dikenal dengan wabah Justinian atau Plaugue of Justinian (Pes). Virus ini menewaskan lebih dari sepuluh ribu orang setiap hari dari penduduk kota Piramida tersebut. Dengan begitu, tak dapat dilupakan bahwa keganasan suatu pandemi memang tak kenal ampun.
Saat ini dunia sedang dirundung kepanikan atas virus jenis Corona yang menyerang saluran pernapasan bernama Covid-19, pertama kali ditemukan di Wuhan, Cina. Di mana kehidupan benar-benar berubah drastis dikarenakan dominasi virus ini. Kehadirannya mengubah cara hidup manusia.
Saat awal ramai dari kicauan isu mengenai wabah corona, masyarakat Indonesia merespon fenomena global ini dengan berbagai reaksi. Ada yang serius, tenang, takut, lebay, dan acuh akan wabah ini. Namun, hari-hari terkini banyak orang mulai satu frekuensi dalam merespon pandemi ini. Ketakutan kian terasa di kehidupan ini saat mendapati tiap hari kabar di layar media sosial ada nyawa yang melayang disebabkan virus ini.
Tak heran semua orang merasa waspada pada virus corona ini, mulai dari kalangan orang tua, anak muda, dan anak-anak dengan cara melakukan beberapa usaha agar terjaga dari serangan wabah ini. Dalam memutus mata rantainya kebanyakan orang memilih mengisolasi diri. sebab wabah ini kapan dan dimana saja dapat menggerogoti diri kita.
Kendatipun demikian, tak dapat dipungkiri masih ada segelintir orang yang sulit meninggalkan kebiasaan berada di keramaian. Padahal sangat jelas imbauan untuk tidak melaksanakan suatu perkumpulan pada fase ini. Bahkan sepasang kekasih pun lebih memilih digerogoti oleh rindu daripada digerogoti virus ini.
Hanya saja perlu dipahami, terlepas dari beberapa orang yang seolah-olah kebal terhadap pandemi ini, ada beberapa orang perlu dikecualikan, yaitu mereka yang bekerja dengan penghasilan hanya cukup satu hari saja. Karena untuk melihat suatu realitas tidak bisa jika memandang pada satu kaca mata saja.
Di kehidupan modern ini, dimana manusianya mempunyai penyakit kesombongan stadium empat. Merasa Ka’bang dalam segala hal. Virus ini menjadi pengingat bahwa manusia adalah makhluk yang lemah. Corona tak kenal kata Ka’bang.
*Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Manajemen Haji dan Umrah (MHU) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Semester IV











