Cegah Penyebaran Covid-19, Mahasiswa UIN Alauddin Lakukan Karantina di Gubuk Empang

Facebook
Twitter
WhatsApp
Tri Buana Lestari Sutandi (kanan) mahasiswa UIN Alauddin Makassar bersama dengan kakaknya, Dwi Reskiyah Fajriyanti Sutandi yang merupakan mahasiswa Fakultas Teknik Industri (FTI) UMI Makassar saat melakukan karantina mandiri di Gubuk Empang, Rabu (8/4/2020).

Washilah – Salah seorang mahasiswa UIN Alauddin Makassar melakukan karantina mandiri di Gubuk Empang. Hal ini dilakukan untuk mencegah penyebaran Virus Corona di lingkungan keluarga dan masyarakat, Selasa (07/04/2020).

Ia adalah mahasiswa asal Desa Tappilina, Kecamatan Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah Sul-Bar yang kuliah di UIN Alauddin Makassar jurusan Ilmu Peternakan, Tri Buana Lestari Sutandi melakukan karantina mandiri bersama dengan kakaknya mahasiswa Fakultas Teknik Industri (FTI) UMI Makassar, Dwi Reskiyah Fajriyanti Sutandi.

Mereka melakukan karantina mandiri sejak tanggal 1 April, saat tiba dari Makassar. Karantina mandiri ini dilakukan selama 14 hari ke depan di Gubuk Empang milik keluarganya yang terletak di Desa Kabunung, Kecamatan Karossa, Provinsi Sulawesi Barat.

Tri Buana Lestari Sutandi menuturkan hal ini ia lakukan sebagai contoh yang baik bagi warga desa agar melakukan karantina mandiri selama 14 hari.

“Di rumah saya itu banyak orang. Banyak tamu yang selalu datang, karena posisi bapak saya sebagai Kepala Desa. Ada kakak saya yang sakit-sakit otomatis imunnya lemah, juga orang tua yang sudah paruh baya. Dan juga ada warga yang menjaga posko pengantisipasian di perbatasan desa,” ujarnya.

Ia menambahkan, karantina mandiri ini merupakan inisiatif dari orang tuanya. Sedangkan untuk makan, setiap hari orang tuanya datang membawa bahan makanan, sayur-sayuran dan snack dengan tetap menjaga jarak.

“Ini inisiatif dari orang tua (bapak), beliau bilang jangan pulang ke rumah, ke rumah empang mi dulu, jadi sesampai dari makassar saya dan kakak langsung ke sini mi,” ucapnya.

Menanggapi inisiatif dari orang tuanya untuk karantina di Gubuk Empang yang berjarak 30 KM dari rumahnya, Tri Buana Lestari dan kakaknya sadar akan pentingnya karantina mandiri.

“Saya dan kakak tentu saja mendukung dan terima, ini virus yang mudah menyebar jadi kami benar-benar sadar pentingnya karantina mandiri. Kita tidak tahu apa selama ini terkena virus atau tidak karena bisa jadi Orang Tanpa Gejala (OTG) dan carrier,” jelasnya.

Selama tujuh hari menjalani karantina mandiri ia dan kakaknya mengaku dalam keadaan sehat tanpa ada gejala sama sekali.

Sementara itu, Ketua Jurusan Ilmu Peternakan, Dr. M. Nur Hidayat memberikan apresiasi untuk tindakan karantina mandiri tersebut.

“Kalau saya pribadi mendukung tindakan keluarga agar bisa menjadi edukasi atau contoh kepada masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya. Dengan tetap mempertimbangkan apakah layak dilakukan disitu, apakah aman dari lingkungan sekitarnya,” paparnya.

Lanjut, ia juga menganjurkan untuk melakukan hal-hal yang perlu diperhatikan untuk mencegah penyebaran Covid-19.

“Dan selama dalam masa tersebut tetap melakukan hal-hal yang perlu diperhatikan untuk mencegah penyebaran Covid-19, seperti memakai masker, mencuci tangan dan lain-lain. Dan yang cukup penting untuk dipertimbangkan apakah akses jaringan internet di tempat tersebut bagus agar tetap dapat berkomunikasi dengan keluarga dan aktivitas perkuliahan,” jelasnya.

Penulis: Lismardiana Reski
Editor: Rahmania

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Tabloid Edisi 122: KIP Kuliah Marak Calo

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami