Washilah – Demisioner Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas (Dema- U) UIN Alauddin Makassar beserta ketua terpilih 2020 mengulas sejarah Dema-U pasca di bekukan lewat bazar dan dialog, yang berlangsung di Warkop Radja, jalan Abdul Muthalib, Jumat (28/2/2020).
Sejarah kelam telah tercatat dalam perjalanan lembaga kemahasiswaan Dema- U, yang pernah di bekukan selama lima tahun lamanya, pembekuan yang lahir dari Pemilihan Mahasiswa (Pemilma) 2014. Kemudian kembali di perbincangkan dalam dialog tapak tilas perjalanan Dema-U, yang dipandu langsung oleh Demisioner Dema- U periode 2018, Askar Nur dan Dema- U terpilih 2020, Ahmad Aidil Fahri.
Demisioner Dema-U, Askar Nur menuturkan dalam dialognya, tak selamanya Dema-U hanya dapat di nahkodai orang-orang cerdas, karena dalam penyelesaian masalah diperlukan misi.
“Saya selalu katakan bahwa Dema itu tidak selamanya organisasi yang harus di akomodir atau di nahkodai orang-orang cerdas, karena dalam menahkodai satu lembaga bukan kecerdasan, tapi bagaimana kita memperkaya misi,” tuturnya.
Di zaman kontemporer ini orang sangat mudah untuk menilai orang lain, melihat siapa bukan apa.
“Orang lebih melihat siapa dari pada apa,” imbuhnya.
Senada dengan itu, Ahmad Aidil Fahri selaku Dema-U periode 2020, menambahkan Dema-U adalah tempat inspirasi bagi mahasiswa untuk menyelesaikan sebuah masalah.
” Jadi Dema-U adalah salah satu lembaga kemahasiswaan yang berdiri sebagai wadah inspirasi mahasiswa, jadi setiap ada masalah-masalah, Dema-U akan menyelesaikan masalahnya. Salah satunya mengenai UKT BKT,” jelasnya.
Penulis : Reza Nur Syarika
Editor : Rahma Indah











