Oleh: Muhammad Kasim
Sangat pelik rasanya melihat kejadian akhir-akhir ini yang seakan-akan semakin menegaskan adanya disparitas memahami aspek rasial dalam kehidupan berbangsa. Sedih rasanya melihat sebuah imperium yang berpondasikan perbedaan dan terlihat megah oleh hiasan Bhinneka Tunggal Ika itu harus roboh karena ketidakmampuan setiap individu maupun kelompok untuk membendung egonya. Akhirnya muncul berbagai tindakan diskriminasi yang berpuncak pada tindakan rasisme dan fasisme.
Tindakan brutal aparatus negara dan segenap ormas di Malang dan Surabaya akhirnya mengundang amarah di Manokowari Papua. Setiap elemen mungkin ia hanya melihat beda entahka itu warna kulit, suku dan agama tetapi mereka lupa pada aspek yang paling fundamental yakni manusia. Hadirnya konflik diberbagai sendi-sendi bumi ini adalah ketidak mampuan segenap manusia melihat manusia lain sebagai entintas manusia yang nyata dan patut dicintai.
Hadirnya konflik horizontal seperti ini tentunya akan merugikan banyak pihak, terutama para pejuang hidup yang merantau ke tanah penghasil sumber daya alam yang melimpah itu . Opini publik yang dibangun di Papua akhir-akhir ini itu akan menjadi ancaman bagi para perantua yang menggantungkan hidupnya di sana, bahkan bukan hal yang mustahil akan terjadi diskriminasi di ruang-ruang pekerjaan dan kehidupan sosial di ujung Timur sana. Maka dari itu bangsa ini harus mempunyai kesadaran kolektif kolegial kemanusiaan.
Hari ini bangsa sudah tak semestinya beradu urat syaraf karena perbedaan rasial, banyak ketimpangan, kesewanang-wenangan dan upaya demagogis di mana-di mana. Kaum-kaum mustadafin semakin tertindas, lalu rakyat masih sibuk bersiteruh satu sama lain. Tujuannya satu hanya untuk melupakan derita rakyat yang dikandung selama ini. Ini tentunya akan membias pada berjatuhannya banyak korban diberbagai penjuru Indonesia.
Hadirnya singgungan yang mengatakan bahwa orang Papua adalah monyet, seakan-akan menyematkan identitas tunggal negatif pada satu kelompok yang akan memicu konflik berkepanjangan. Thomas Hobbes mendaku bahwa manusia kadangkala menjadi homo homini lupus di mana manusia ibarat serigala yang saling memangsa satu sama lain dan kenyataannya akhir-akhir ini terjadi di sekitar kita. Terlepas dari berbagai tendensi kepentingan harapan penulis adalah bagaimana setiap individu membangun kesadarannya untuk selalu melihat segala hal dari aspek kemanusiaan.
Negara ini terlalu sempit ketika hanya mengedepankan dan mementingkan satu golangan saja, manusia-manusia yang kebetulan berkediaman di tanah ini Indonesia pada dasarnya itu saling membutuhkan dan saling mencinta. Inilah yang mungkin dikatakan oleh Thomas Hobbes secara tegas dengan homo homini sociuos “Di mana setiap manusia berdampingan dan saling bergandengan tangan dengan asas saling menghargai satu sama lain.”
Hal yang paling penting dibenahi dari dasar di tengah-tengah konflik horizontal seperti adalah daya analitik setiap individu dalam menerima berbagai bentuk informasi yang beredar. Masyarakat tak seharusnya menyimpulkan sesuatu dengan tafsir tunggalnya masing-masing karena ini hanya akan memperkeruh suasana. Tetapi harus berdasarkan data yang jelas dan perbandingan data dari berbagai literatur.
*Penulis merupakan mahasiswa jurusan Peradilan Agama Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) semester IX.











