Kurikulum Menjadi Sebuah Kerumitan

Facebook
Twitter
WhatsApp
Dok Pribadi | Ulfa Rizkia Apriliyani

Oleh : Ulfa Rizkia Apriliyani

Pendidikan merupakan tonggak kemajuan bangsa. Menjadi bangsa yang maju, tentu sebuah cita-cita yang sangat ingin dicapai oleh setiap negara di dunia. Pendidikan adalah cara untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang sangat berkualitas.

Indonesia dikelompokkan ke dalam negara berkembang, akan tetapi tidak dengan pendidikannya. Pendidikan di Indonesia sangatlah diluar dari yang diharapkan. Ilmu yang seharusnya menjadi terapan sangat jauh dari menjadi kenyataan dan akhirnya sumber daya manusianya pun kalah bersaing dengan bangsa lain.

Saat ini pendidikan menerapkan sistem kurikulum, yang dimana kurikulum ini menjadi sebuah kerumitan. Mendewakan kurikulum adalah kesalahan terbesar bangsa ini. Kurikulum memanglah sebuah target terpenting bagi pendidikan nasional, akan tetapi bagaimana kredibilitas para penyusun kurikulum ini? Menurut saya mereka adalah tim yang rendah kreatifitasnya, karena tidak tepat guna dan efisiennya, dan saya melihat mereka seolah-olah memaksakan kehendak jiwa-jiwa penopang pendidikan nasional ini, ditambah lagi dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang tidak masuk dalam kategori memuaskan, hanya standar atau malah di bawah standar.

Saya melihat kurikulum kita terlalu tergesa-gesa dan tidak mau memikirkan kemampuan SDM yang menopangnya.

Saya melihat orientasi dari mahasiswa hanyalah sebuah besaran angka, bahkan karena kurikulum ini beberapa mahasiswa merasa jika mereka diberikan beban yang sangat berlebihan.

Di Indonesia mereka belajar dengan salah orientasi, salah arah dan tujuan. Anak-anak kita dimuara hanya pada uang dan ekonomi. Inilah biang dari kehancuran anak bangsa.

Coba kalau orientasi pendidikan kita adalah meningkatkan sumber daya manusia, dan meningkatkan intelektual siswa, mereka belajar dengan giat karena tau apa yang dia mau.

Di negara lain yang pendidikannya maju, faktor komersial memang ada, tapi saya yakin itu nomor dua atau kesekian, dan sayangnya di Indonesia sebaliknya. Di Indonesia hanya ingin mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya dari bidang pendidikan ini.

Salah satu pembicara yang saya ingat adalah seperti pak Ahmad Baedowi dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, selain sebagai dosen beliau juga sebagai seorang pengamat pendidikan dan seorang penulis, salah satu karyanya adalah sebuah buku yang berjudul Calak Edu : Esai-Esai Pendidikan 2008-2012.

Dalam bukunya tersebut, pak Baedowi secara meluas dan mendetail berbicara mengenai realita pendidikan di Indonesia yang kualitasnya masih sangat rendah dan masih sangat jauh dari harapan bangsa, dan menomorsatukan kuantitas yang hanya ingin mendapatkan nilai-nilai dari ijazah.

Disini kita lihat bahwa kurikulum itu lebih mementingkan kuantitas daripada kualitas. Padahal kita tahu sendiri kalau kualitas lebih menang dari kuantitas.

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Semester II.

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Tabloid Edisi 122: KIP Kuliah Marak Calo

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami