Oleh: Ilham Hamsah
Kampus adalah dunia yang akan terus melahirkan pertentangan, pertentangan berlangsung atas dasar adanya unsur dominasi antara mahasiswa dengan birokrasi ataupun mahasiswa dengan mahasiswa, pertentangan antara mahasiswa biasanya melibatkan mahasiswa antar fakultas ataupun Senior dengan junior, kata senior sudah tidak asing lagi bagi dunia kemahasiswaan, kata itu seolah memiliki hukum tersendiri yang berlaku dalam lingkup kampus baik kampus negeri maupun swasta.
Budaya senioritas ini akan sangat jelas nampak ketika memasuki tahun ajaran baru, dimana pemindahan status dari siswa menjadi mahasiswa atau yang biasanya dikenal dengan (OPAK) atau pengenalan lingkungan kampus yang berlangsung selama 3 hari.1 hari ditingkat Universitas, 1 hari ditingkat Fakultas dan 1 hari ditingkat Jurusan (HMJ) yang kemudian dimamfaatkan sekelompok orang-orang yang tidak bertanggung jawab menanamkan doktrin bahwa senior adalah perpanjangan dari Birokrasi sekaligus menerapkan hukum sepihak dengan dua pasal yang mungkin sudah tidak asing lagi di telinga “Pasal 1: Senior tidak pernah salah, Pasal 2: jika senior salah kembali ke pasal satu” dan juga yang lebih parah lagi, mereka menerapkan doktrin yang bersifat membungkam “suara senior adalah suara tuhan” yang kemudian inilah yang akan merusak essensi kemahasiswaan.
Hal yang kemudian menimbulkan pertentangan atau melahirkan konfilk dalam ranah tersebut adalah unsur dominasi dalam ruang lingkup kemahasiswaan, yang artinya secara konteks senior itu mendominasi esensi junior bahkan mendominasi ruang-ruang privat (subjektif) nya. Dengan dalih ‘menghormati yang lebih berusia’ hal inilah yang sebenarnya berakibat pertentangan atau akan melahirkan konflik Horizontal sesama Mahasiswa.
Budaya senioritas sekarang tidak lagi memandang eksistensi mahasiswa tetapi lebih kepada politik identitas yang kemudian tercipta ketika mereka memaksa junior untuk memasuki organisasi serupa yang digelutinya, bukankan itu adalah sistem didikan yang mendoktrin? lantas dalam hal apa junior mesti menghormati senior? semester? usia? atau segala hal yang menyangkut eksistensi senior? jika pendekatan yang dilakukan senior lebih kepada pendekatan ideologis maka esensi senioritasnya memiliki fungsi real.
Artinya senior yang baik itu ketika dia melakukan proses pengideologisan dan melakukan proses penyadaran terhadap junior akan tugas dan fungsinya sebagai mahasiswa, tetapi ketika bentuk penyadaran kepada senior lebih kepada politik identitas (Doktrinasi) atau intimidasi maka pemamfaatan senior terhadap junior pastilah akan terus terjadi. Dan jika kita betul-betul secara totalitas berideologi demokratis maka seharusnya sistem seperti ini harus segera di hapuskan dari lingkup kemahasiswaan
Dalam arti apa senior itu dihormati? Budaya ketertundukan dilakukan hanya akan memperpanjang garis perbudakan. maka dalam perspektif akademis kita semua berstatuskan mahasiswa. Yang membuat pembagian kelas mahasiswa tidak lain hanyalah senior. Mulai dari ciri-ciri mahasiswa,definisi mahasiswa,fungsi mahasiswa, sampai kepada tugas mahasiswa, sebagian besar hanyalah doktrin yang diberikan senior untuk membodohi pikiran serta meredupkan kesadaran junior.
Dan terbukti bahwa kebanyakan dari pemberian pemahaman yang sifatnya doktrin itu hanya sebatas konsep, tidak mendorong secara praktek perlawanan. Seandainya tidak ada kata Senior dan junior tapi lebih kepada satu pemikiran yaitu sama-sama berstatuskan mahasiswa maka penyatuannya dalam bentik gerakan perlawanan akan terlaksana. Maka mahasiswa secara definitive adalah mahasiswa yang sama-sama berideologi demokratis.
*Penulis Merupakan Mahasiswa Jurusan Sejarah Perdaban Islam fakultas Adab dan Humaniora Semester II*











