“RINDU” Oleh : Ahmad Al-Faruq

Facebook
Twitter
WhatsApp
http://joseph-bernardusfujianto.blogspot.com/

Waktu begitu panjang telah kuarungi,
Bergelimpangan rasa rindu yang menggebu-gebu.
Aku berada ditempat terdiam dan berlabuhnya segala resah.
Dan, untuk kesekian kalinya resah itu menghampiri dan mengamuk.
Sebab, raga masih bermukim dikejauhan, aku rindu…

Jiwa ini mencoba memberanikan diri bangkit dari keterpurukan, sempat tertatih dalam mengarungi samudra kehidupan.
Mungkin saatnya menarik diri dan kembali pulang,
Demi sebuah perasaan dan harapan, akan kuceritakan mimpi-mimpi yang tinggal lamunan dan secarik rindu yang sudah lama menjadi pemberontak.

Tapi, Aku malu hanya bersama lamunan.
Haruskah ku merah jinggakan semua hari tanpa mengusung malam?
Entahlah,,,
Kerinduan yang bersanding dengan kegelisahan,
Mungkin akan membawaku pulang, jiwa yang telah lama jauh,
Atau aku yang secepatnya menuntaskan rindu ini.
Berpacu bersama waktu yang sedikit lambat.
Selain tarikan napas dan detak jantung yang selalu lebih cepat melampaui setiap kisah.

Apapun yang terjadi, pada akhirnya tak melulu hadirkan keindahan,
Seperti pelangi yang tak selalu hadir di kala hujan puas membasahi bumi.
Dikejauhan sana, mekarlah layaknya bunga-bunga yang menghijaukan tanah yang hitam,
Kelak keharumannya tercium terbawa angin yang memandu hasratku untuk pulang.

Bukan protes padamu, tapi sebagai bentuk sikap jemu pada rindu yang mewakili isi hati.
Lagi pula, kemana lagi segenap rasa ini akan berlabuh? Selain padamu?

Tak perlu resah, bersabarlah. Sebab, lautan tak akan berubah rasanya, walaupun ribuan deretan air sungai yang tercampur didalamnya.
Begitu pun rasa, yang ku miliki pada dirimu.
Aku masih ada dan berlipat ganda dan aku rindu…

*Penulis merupakan mahasiswa jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) semester VI.

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Dummy Edisi 6 Maret

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami