Washilah – Setelah tayang perdana di 4o bioskop se-Indonesia pada 19 April lalu, film yang diadaptasi dari buku auotobiografi seorang Hamdan Juhannis “Melawan Takdir” dinilai memiliki keunikan tersendiri. Hal tersebut disampaikan sutradara Quraisy Mathar.
“Film ini unik, karena sekarang hampir semua film menggunakan alat musik sebagai pendukung, tapi tidak dengan film Melawan Takdir, k ami menggunakan A capella sebagai gantinya,” ungkapnya usai meet and greet sesi kedua di XXI Mall Ratu Indah Sabtu (21/04/2018)
Sementara itu, Eksekutif Produser Film Ramli Usman menambahkan, Melawan Takdir menjadi satu-satunya film Sulsel yang ditayangkan pada Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2018.
“Awalnya dibuatnya film ini sebenarnya bukan hanya untuk dunia industrinya saja, tapi bagaimana film ini menjadi sebuah mahakarya yang nasional tapi dengan sentuhan kearifan lokal dan lebih menekankan pada pesan-pesan moral, motivasi dan inspirasi,” ujarnya.
Lanjut, ia juga menjelaskan film ini merupakan bentuk perlawanan terhadap film-film sekarang yang hanya mencari materi, namun mengabaikan budaya lokal.
Penulis : Gufran
Editor : Desy Monoarfa











