Opini: Cita-cita yang Berbeda

Facebook
Twitter
WhatsApp
Ahsan Agussalim


Oleh: Ahsan Agussalim

Tak ada kampus (Universitas) yang menginginkan mahasiswanya tidak berkualitas dalam bidang akademik, tentunya juga dalam setiap bidang apapun, terlebih dalam menghasilkan sebuah output yang bermanfaat bagi masyarakat dan juga lingkungan sekitar kampus sudah merupakan cita-cita absolut atas pimpinan/petinggi kampus.

Pihak birokrasi pun tidak tinggal diam dengan segala cara, memperhatikan dan berfikir keras agar bagaimana mampu menyediakan fasilitas (sarana/prasarana) pembelajaran yang mumpuni agar mahasiswa mampu meraih prestasi dari berbagai bidang dan juga manfaat yang secara eksistensi, kampus akan memperolehnya di ruang publik melalui saluran media yang mengekspos segala keberhasilan kampus.

Tentunya hal ini akan mempengaruhi kualitasnya dalam menarik perhatian para calon mahasiswa/mahasiswi yang akan mendaftar. Secara tidak langsung juga akan memacu pemasukan yang secara finansial akan membantu suatu perkembangannya. Begitupun dalam mengarahkan outputnya (lulusan) untuk terjun ke dunia kerja, yang sarat akan dunia kompetitif dan materialisme.

Disisi lain terdapat sudut pandang yang berbeda mengenai definisi kampus versi birokrasi dan mahasiswa. Singkatnya birokrasi melihat kampus seolah mahasiswa sebagai modal untuk menjalin kemitraan yang sifatnya “profit oriented” namun bagi mahasiswa yang memiliki pemahaman yang betul-betul matang akan statusnya, sejatinya tidak memandang naif tempatnya menuntut ilmu sekaligus zona membentuk integritas dirinya, seolah lahan baku yang siap dieksploitasi dan ditelan mentah-mentah oleh para kaum kapitalisme yang mengagungkan “pasar” sebagai singgasananya, yang terus menginginkan manusia yang bisa mengabdi kepadanya bagi mereka, yang memiliki potensi dan mengedepankan orientasi keuntungan.

Adalah dipandang sebagaimana zona pertarungan intelektual yang sarat akan dialektika argumentatif, dimana gagasan dan juga ide yang masih segar dikerahkan habis untuk dikeluarkan demi mempertahankan status quonya sebagai mahasiswa yang aktif dan produktif. Tak ada kata untuk mengistirahatkan pikiran untuk suatu kemajuan dan tindakan kritisnya yang selalu dihasilkan tidak jarang mengusik sebuah romantisme sistem yang telah mapan dibalik monopolisme birokrat yang tersembunyi.

Tak hanya itu, hasil rekayasa pemikirannya yang ilmiah tak jarang dijadikan tawaran sebagai bentuk kontribusi pemikiran yang secara universal dijadikan produk solutif oleh seluruh elemen, baik mahasiswa sebagai ajang diskursus maupun masyarakat yang berada di luar lingkungan kampus yang saat ini sedang berada dalam pusaran problematika bangsa.

Berangkat dari hal tersebut diklaim menjadi sebuah prestasi yang sesungguhnya bagi mahasiswa yang sedang asik dalam arena idealismenya, karena kita ketahui bersama lahirnya sebuah permasalahan yang ada karena adanya komponen yang keluar dari koridor idealnya dan mau tidak mau mahasiswa yang betul-betul terpilih sebagai “agent of change” harus mengedepankan idealisme untuk meluruskan segala sesuatunya, dan ketika itu berhasil maka barulah disebut sebuah prestasi yang nyata.

Suatu hal yang wajar jika mahasiswa senantiasa melakukan dan mencari ruang-ruang diskusi yang dinamis, antar sesamanya. Karena itu adalah wujud untuk saling tukar pikiran yang terkadang tidak tersampaikan di zona akademik yang statis, sekaligus tanda bahwa dinamika keilmuan yang ada dalam ruang lingkup akademik tidak memantik semangat menuntut ilmunya, karena terkesan formalitas belaka.

Perlu dipahami kiranya fasilitas modern lagi mumpuni hanyalah penunjang agar mahasiswa konten terhadap perkembangan dunia, namun sejatinya mahasiswa tidaklah menganggap itu adalah suatu hal yang pokok untuk membuatnya lebih berintegritas. Akan tetapi, perlu banyaknya ruang-ruang diskusi yang kita ciptakan untuk meremajakan pikiran mereka secara lebih lanjut, demi mengatasi keterkurungannya atas formalitas belajar mengajar, yang tidak sama sekali mempengaruhi nalarnya.


**Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Manajemen Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar angkatan 2013

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Tabloid Edisi 122: KIP Kuliah Marak Calo

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami