Teruslah Bodoh Jangan Pintar: Ruang Hidup yang Direbut, Suara yang Dibungkam

Facebook
Twitter
WhatsApp
Foto: Pinterest 

Oleh: Ratman

Awal mula saya mengenal buku ini berasal dari cerita seorang teman. Ia mengatakan bahwa ada sebuah novel yang baru saja dibacanya dan menurutnya sangat menarik karena terasa relevan dengan kondisi negeri kita saat ini.

Saat itu, ia bercerita bahwa seolah-olah Indonesia telah ditakdirkan menjadi negara yang begini-begini saja. Kekayaan alam terus dikeruk dan lingkungan semakin tercemar, tetapi bukan rakyat yang menikmati hasilnya. Justru mereka yang memiliki kekuasaanlah yang dengan mudah mengambil isi bumi dari tanah yang selama ini dikenal subur, lalu meninggalkan segala dampaknya kepada rakyat yang tidak tahu apa-apa.

Buku tersebut berjudul “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” karya Tere Liye. Jika dilihat sepintas dari sampul dan judulnya, mungkin banyak orang akan bertanya-tanya mengenai maksud di balik kalimat tersebut. Begitu pula yang saya rasakan ketika pertama kali memegang bukunya. Judul itu terdengar aneh, bahkan seperti sebuah sindiran. Namun, justru dari keanehan itulah saya mulai membuka dan melahap lembar demi lembar ceritanya.

Novel ini berkisah tentang enam orang aktivis lingkungan idealis dari latar belakang yang berbeda, tetapi dipersatukan oleh tujuan yang sama. Mereka berusaha memperjuangkan pembatalan konsesi pertambangan yang telah menguasai banyak wilayah dan menimbulkan dampak besar bagi masyarakat. Mereka menginginkan agar masyarakat dapat hidup dengan aman tanpa harus terus-menerus menghadapi ancaman kerusakan lingkungan.

Pada bagian awal, pembaca diperkenalkan kepada Badrul, seorang anak yang berbakat di sepak bola, harus meninggalkan hobi dan masa depannya setelah mengalami kecelakaan di lubang bekas galian tambang yang berada di pinggiran kampungnya.

Cerita kemudian berlanjut kepada Siti, seorang ibu yang kehilangan anaknya akibat pencemaran lingkungan. Air dan tanah yang tercemar menimbulkan berbagai penyakit, tetapi masyarakat kecil seperti Siti seolah tidak memiliki kekuatan untuk melawan.

Ada pula Budi yang kehilangan tanah tempatnya mengais kehidupan, sekaligus kehilangan kebudayaan yang selama ini dianggapnya sebagai petuah dan warisan dari para leluhurnya. Selain mereka, masih banyak tokoh lain yang harus menanggung akibat dari aktivitas pertambangan yang tidak bertanggung jawab.

Bagi saya, seluruh cerita tersebut terasa dekat dengan keadaan yang sedang dialami Indonesia. Masyarakat terus digiring untuk percaya bahwa tambang merupakan aset masa depan yang mampu membawa kesejahteraan. Namun, di balik janji tersebut, ada kesengsaraan yang perlahan menunggu: lingkungan yang rusak, sumber air yang tercemar, masyarakat yang kehilangan ruang hidup, serta generasi berikutnya yang harus menanggung akibatnya.

Walaupun disajikan dalam bentuk fiksi, cerita dalam novel ini terasa nyata dan aktual. Peristiwa-peristiwa yang dialami para tokohnya seakan tidak jauh berbeda dari berbagai persoalan lingkungan yang sering kita saksikan. Hal itulah yang membuat saya terus melahap novel ini hingga tidak ada satu lembar pun yang tersisa. Saya tidak hanya dibuat penasaran oleh alurnya, tetapi juga dibuat gelisah oleh kenyataan yang tersembunyi di balik ceritanya.

Novel ini membuat saya berpikir bahwa kerusakan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan pohon yang ditebang, tanah yang digali, atau air yang berubah warna. Kerusakan tersebut juga menyangkut kehidupan manusia yang kehilangan kesehatan, pekerjaan, tempat tinggal, kebudayaan, bahkan masa depannya. Ketika alam dirusak, manusia pada akhirnya akan ikut menerima akibatnya.

Dari novel inilah saya menyadari bahwa lingkungan merupakan bagian dari masa depan yang akan terus memelihara kehidupan kita. Karena itu, kita tidak boleh mudah terpengaruh oleh berbagai janji ekonomi yang mengatakan bahwa eksploitasi alam akan membuat rakyat hidup sejahtera. Kesejahteraan semacam itu hanya menjadi omong kosong apabila keuntungan dinikmati oleh segelintir orang, sedangkan masyarakat di sekitar tambang harus menanggung pencemaran dan kehilangan ruang hidupnya.

Tidak hanya itu, novel ini memberikan saya pandangan bahwa kita seharusnya sebagai masyarakat haruslah punya jiwa dan pikiran kritis untuk melawan mereka-mereka yang ingin menguasai ruang hidup kita. Sama dengan para aktivis itu yang gigih berjuang melawan pengusaha tambang, walaupun pada akhirnya mereka tahu bahwa para oligarki itu yang menangkannya karena mereka punya materi dan kekuasaan di belakangnya.

Setelah menutup novel “Teruslah Bodoh Jangan Pintar”, saya sampai pada satu pemahaman: kekayaan alam seharusnya tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang dapat digali dan dijual. Alam adalah tempat manusia hidup, tumbuh, dan menggantungkan masa depannya.

Data buku:
Judul: Teruslah Bodoh Jangan Pintar
Penulis: Tere Liye
Editor: Diana Hayati
Penerbit: PT. Sabak Grip Nusantara Depok – Jawa Barat
Halaman: 371 hlm; 20 cm

*Penulis merupakan Mahasiswa Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Tabloid Edisi 122: KIP Kuliah Marak Calo

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami