Perihal Ia: Labirin Keberanian dan Paras Cahaya

Facebook
Twitter
WhatsApp
Foto: Dokumentasi Pribadi Penulis.

Oleh: Anumerta

Pertemuan itu adalah sebuah kecelakaan semesta yang paling indah, sebuah pandangan pertama yang tidak hanya memikat mata, namun langsung mengetuk pintu kesadaran. Ia berdiri di sana, di tengah kerumunan yang ragu, sebagai satu-satunya sosok yang dengan punggung tegak mengambil alih kemudi saat keadaan sedang kacau. Keberaniannya mengambil tanggung jawab yang besar—beban yang mungkin dihindari banyak orang—bukanlah sebuah kesombongan, melainkan sebuah panggilan jiwa yang dewasa. Di matanya, aku tidak hanya melihat kecantikan yang fisik, tetapi sebuah wibawa yang lahir dari keberanian untuk menanggung konsekuensi.

Ia adalah perpaduan ganjil antara lembutnya sutra dan kokohnya karang. Kecantikannya tidak berteriak minta diperhatikan, ia justru bersandar lewat ketenangan cara ia berbicara dan ketegasan cara ia bertindak. Kedewasaannya tampak pada bagaimana ia mengelola badai di sekitarnya tanpa sedikit pun kehilangan keanggunan. Namun, di balik semua ketangguhan yang membuatku jatuh hati itu, ia menyimpan sebuah ruang tanya yang sunyi, sebuah keraguan yang ia sampaikan padaku dengan nada yang jujur sekaligus getir.

Saya teringat saat ia melemparkan tanya yang hingga kini masih menggema di dinding kepalaku: “Sebenarnya aku tidak tahu seperti apa bentuk cinta yang sebenarnya. Apakah cinta itu butuh alasan atau tidak? Kalau pakai alasan, seakan-akan terdengar menyakitkan. Namun jika tanpa alasan, seakan-akan itu hal yang mustahil. Atau, apakah semua ini muncul hanya karena kita sudah terbiasa bersama? Tapi kalau seperti itu, apakah itu benar-benar cinta, atau hanya karena kita sudah terbiasa saja sehingga kita menyebutnya cinta? Entahlah, haha.”

Tawa kecil di akhir kalimatnya itu seperti sembilu yang lembut. Aku tertegun melihat bagaimana seorang wanita yang begitu berani memikul tanggung jawab besar, justru merasa kecil dan bingung di hadapan definisi cinta. Bagiku, pertanyaannya bukanlah tanda kelemahan, melainkan puncak dari kedewasaannya—sebuah pengakuan bahwa hati manusia adalah wilayah paling asing yang bahkan tak bisa dikuasai oleh logika kepemimpinan mana pun.

Melihatnya ragu justru membuatku semakin jatuh cinta. Jika ia bertanya tentang alasan, barangkali alasanku adalah keberaniannya itu sendiri. Namun jika ia menganggap alasan itu menyakitkan, maka biarlah aku mencintainya dalam ketidaktahuan yang penuh syukur. Aku sadar bahwa cinta yang ia pertanyakan bukan sekadar perkara “terbiasa”. Sebab, banyak orang yang terbiasa bersama namun tetap merasa asing, sementara bersamanya, setiap detik yang terbiasa itu terasa seperti penemuan benua baru yang menakjubkan.

Bagiku, ia adalah definisi cinta yang sedang mencari bentuknya sendiri. Ia adalah wanita yang mampu menggetarkan dunia dengan tanggung jawabnya, namun mampu menggetarkan hatiku dengan kerentanan pertanyaannya. Kecantikannya bukan lagi soal rupa, tapi soal bagaimana ia berani jujur pada ketidaktahuannya tentang rasa. Ia tidak butuh definisi yang kaku untuk menjadi luar biasa; ia hanya perlu menjadi dirinya yang sekarang, yang sedang berdiri di persimpangan antara logika dan rasa.

Pada akhirnya, aku ingin menjawab ragunya tanpa menggurui. Bahwa mungkin cinta memang sebuah paradoks; ia butuh alasan untuk memulai, namun ia butuh kebiasaan untuk bertahan, dan ia butuh keberanian—seperti keberanian yang ia miliki setiap hari—untuk tetap dijalani meski kita tidak pernah benar-benar tahu apa nama sebenarnya dari perasaan itu. Ia adalah rumah yang kutuju, tak peduli apakah itu karena alasan, karena terbiasa, atau karena keajaiban yang tak sempat kupahami.

*Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Alauddin Makassar.

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Dummy Edisi 6 Maret

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami