Seminar Internasional FUF Bahas Diplomasi ASEAN dalam keberagaman persepektif

Facebook
Twitter
WhatsApp
Pemaparan salah satu pemateri dalam Seminar Internasional yang digelar FUF di Ruang Rektorat lantai 4, Selasa (22/7/2025). | Foto: Washilah-Muhammad Yudistira Fahrezi (Magang).

Washilah — Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) UIN Alauddin Makassar menggelar Seminar Internasioanal yang menghadirkan empat tokoh nasional yang berlangsung di Ruang Rektorat lantai 4, Selasa (22/7/2025).

Kegiatan bertajuk “Association of South-East Asian Nations (ASEAN) Lecture Series” ini menghadirkan empat narasumber, yakni Staf Ahli Pelayanan Publik dan Reformasi Kementerian Imigrasi dan Permasyarakatan (Keminimipas) Irjen Pol Mulya, Rektor Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Prof Bambang Pramujati, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Dakwah dan Ukhuwah KH Muhammad Cholil Nafis serta Pimpinan Majelis Rasulullah SAW Pusat Jakarta Habib Nabiel Al Musawa.

Narasumber pertama, Mulya dalam pemarannya menyampaikan bahwa keimigrasian adalah aktor strategis dalam sistem keamanan nasional, khususnya di wilayah Asia Tenggara. Kolaborasi antar instansi, komitmen internasional, dan penguatan kelembagaan adalah kunci menjaga kedaulatan dan keamanan negara.

“Imigrasi juga itu ikut serta di dalam fungsi-fungsi itu salah satunya adalah menjaga keputusan negara dengan berlandaskan undang-undang internasional,” jelasnya.

Narasumber kedua, Bambang mengatakan ketika ingin berkembang dalam pendidikan maka harus mendorong keloborasi lebih maju ke depan, apalagi di Asia Tenggara.

“Sekarang bukan lagi saling berkompetesi tetapi kolaborasi yang harus diutamakan , saya rasa ketika ini dijalankan maka akan banyak ilmu baru didapatkan,” ujarnya.

Di lain sisi, narasumber ketiga, Cholil menjelaskan Indonesia bukan negara Islam, tapi spiritnya islami. Negara punya Pancasila yang bisa mengakomodasi semua agama. Bahkan di tengah 17 ribu pulau, 600 bahasa, dan beragam suku, rakyat tetap bersatu.

”Model ini patut dijadikan rujukan global, terutama di tengah dunia Islam yang sering berkonflik secara ideologis dan politik,” ucapnya.

Sementara itu, narasumber keempat, Nabiel mengatakan perlunya untuk mulai belajar menghargai perbedaan pandangan dan jangan mudah untuk mengkafirkan seseorang.

“Setiap orang pasti beda cara belajarnya , maka kita harus saling menghargai terhadap perbedaan itu,” katanya.

Salah satu peserta, Rido Makmur merasa materi yang dipaparkan para narasumber sangat edukatif sehingga mendorong untuk membuka wawasan yang lebih luas lagi terkait Asia Tenggara.

“Materi yang disampaikan sangat menari dan bisa membuka wawasan lebih luas lagi, tuturnya.

Penulis: Ratman (Magang)
Editor: Hardiyanti

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Tabloid Edisi 122: KIP Kuliah Marak Calo

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami