Washilah — Himpunan Mahasiswa (Hima) Hubungan Internasional (HI) Fakultas Ushuluddin dan Filsafat ( FUF) UIN Alauddin Makassar menggelar Diskusi Panel bertajuk “ Unheard Voice : Cultural Identity, Human Rights, and the Faulure of Global Justice in the Middle East” yang berlangsung secara daring Via Zoom, Senin (21/7/2025).
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yakni Deputy Director of Amnesty Internasional Indonesia, Wirya Adiwena serta Akademisi HI, Farahdiba Rahma Bachtiar.
Dalam pemaparannya, Wirya Adiwena mengatakan Hukum internasional harus dijalankan sesuai dengan tujuannya, yakni tidak terjadi kekebalan hukum.
“Ketika fakta hukum tidak dibantah, tapi tetap diabaikan karena alasan politis, maka kita sedang menghadapi hipokrisi hukum internasional,” jelasnya.
Narasumber kedua, Farahdiba menjelaskan nilai-nilai Hak Asasi Manusia (HAM) pada dasarnya universal artinya perbedaan ras, agama, dan budaya tidak menjadi penghalang terhadap pemenuhan hak dasar manusia.
“Semua manusia punya hak yang sama untuk hidup dan terpunihi haknya,” ujarnya.
Kepala Departemen research and development HIMA HI, Achmad Baidhanu Mulqi Putra menambahkan kegiatan ini dilaksanakan karena ingin merefleksikan bagaimana sebenarnya identitas kultural, HAM serta kegagalan keadilan.
“Merespons kondisi atau situasi dinamika global yang terjadi sekarang,” katanya.
Ia berharap kegiatan ini bisa menjadi modal awal bagi mahasiswa HI dalam melihat dinamika konflik yang terjadi saat ini.
“Punya gambaran dasar mengenai situasi dan kondisi yang terjadi,” tutupnya.
Penulis : Ratman (Magang)
Editor: Hardiyanti











