Catatan Perjalanan Kedua: Wajah Pendidikan Pedesaan, Bullying, hingga Goyang Pargoy

Facebook
Twitter
WhatsApp
Beberapa siswa mengikuti pembelajaran di kelas. | Foto : Washilah-Tritia Kurniati

Oleh : Tritia Kurniati

Hari kedua pengamatan di tempat Kuliah Kerja Nyata (KKN), kami pergi ke belakang rumah Pakde. Melalui jalanan menanjak, tanah gembur disertai batu pun turut menemani, sandal pun ditinggal, menuju daerah perbukitan bekas kebun jagung. 

Kami bertemu dua orang anak sedang lalu lalang mencari buah Srikaya matang, mereka berlari ketika dipanggil, kami mencoba merayu, mereka asing melihat kami yang baru dua hari menyapa desa, salah satu anak mencoba mendekat, kami menyapa, “Sini Adik, ndapapa jangan takut. Siapa namanya?”

“Zul,” katanya saat memperkenalkan diri.

Zul lanjut berkeliling, berlari, dan beberapa kali tersandung. Selesai dalam pencariannya, Zul mendekat, memberikan kami tiga buah srikaya matang. Kami berterima kasih, lalu mengajak Zul dan kawannya berbicang mengenai kehidupannya.

“Dulu, sewaktu saya sekolah pernah dipukul Bapak (guru sekolah) karena tidak bisa membaca. Disuruh keliling lapagan, begitu juga dengan temanku dia memukul dan mengejek tanpa alasan yang jelas,” cerita Zul dengan bibir gemetar. 

Zul berusia 10 tahun. Ia sudah tiga tahun putus sekolah karena dibuli. Zul memiliki seorang adik laki-laki bernama Calli’. Ketika orangtua mereka pergi bekerja, Zul harus menjaga adiknya yang masih berusia tiga tahun, menemaninya bermain, memasakkan, hingga mengganti popok. Jika terjadi sesuatu terhadap Calli’, maka Zul yang akan dimarahi.  

Selain menjaga adiknya, Zul juga menjaga empat ekor sapi milik bapaknya saat ditinggal bekerja, membersihkan kandang, pun mencari pakan. Saat ditawari bersekolah, Zul menjawab tak mau, salah satu alasannya lantaran malu karena telah lama mandek sekolah.

Tempat tinggal Zul tak jauh dari posko kami, hanya berjarak 20 meter sebelah kanan dari rumah Pakde. Setiap sore kami mengajar Baca Tulis Al’Quran (BTQ) bagi anak dusun Sa’lalaria di Desa Bontomanai.

Zul datang mengenakan celana pendek dan kaos oblong, tanpa membawa buku dan pensil. Awalnya Zul takut ketika kami panggil, beberapa kali rayuan, Zul pun datang untuk belajar.

Kami mulai mengajari Zul, “Sudah di Iqra’ berapa Zul?” Tanya Arlin, salah satu kawan posko. “Baru di Iqra’ satu kak,” jawabnya.

Zul mulai belajar, Arlin pelan-pelan menjelaskan setiap huruf bacaannya, “Kalau berbentuk mangkok, ada titik di bawahnya, itu namanya ba’,” jelas arlin sambil mempraktikkan. 

Kami mengamati, Zul sulit menerima materi, beberapa kali diulangi, Zul tak paham-paham. Kami mulai kembali bertanya “Zul sudah tau angka satu sampai seratus, belum?” Zul terdiam kebingungan. Kami mencoba memangkas “Kalau satu sampai sepuluh, gimana?” Zul pun menjawab dengan tiga kali anggukan.

Minimnya motivasi belajar menjadi penghambat pendidikan Zul, bahkan anak-anak lain. Kami pernah menjumpai seorang anak, dia mengikuti kami ke Masjid dusun seberang, Batu Mopang. Anak tersebut bernama Faiz. Ketika ia pergi tanpa berpamitan, ibunya berteriak mengeluarkan bahasa asli Jeneponto. Saya penasaran, salah satu teman menjelaskan “Ibunya teriak ke Faiz, kalau ikut jangan nakal, kalau mau berak bilang-bilang, kalau ndak, nanti dipukul.”

Baca juga : Catatan Perjalanan Pertama: Pengabdian

Di lain waktu, kami mendatangi salah satu sekolah dasar di Bontomanai, di tengah jam mata pelajaran kami melihat kerumunan siswa sedang asik bermain, kami mendatangi kantor sekolah. 

Bercerita dan bekerja sama untuk memberikan pengajaran terhadap murid sekolah, kami  pun memulai perbincangan, menanyakan jadwal pelajaran apa yang cocok untuk diisi, salah satu guru menjawab “Masuk saja di mana pun kelas kalau gurunya tidak ada,” jelasnya. 

Kami kebingungan, sebab hanya tiga orang yang memiliki latar belakang gelar pendidikan. Kini semua mata pelajaran diperbolehkan untuk diajar siapa pun. 

Kami memasuki kelas untuk mengajar, kami melihat beberapa anak sibuk dengan dirinya sendiri, melepas jilbab, membuka baju, duduk di lantai, berlari ke sana ke mari, ada juga yang serius mendengarkan. Saat kami bertanya “Kenapa dilepas bajunya,” mereka menjawab “Panas Kak, kata ibu guru juga ndakpapa lepas baju,” katanya.

Pada program kerja kami mengenai perilaku hidup bersih dan sehat pada salah satu sekolah dasar, anak anak kami kumpulkan di lapangan, banyak murid sulit diatur, mereka suka bermain, beberapa di antaranya suka tren goyang pargoy. Ketika ditanya “Belajar di mana?” Mereka membalas “Di tiktok, kak.”

Beberapa anak juga kami lihat tengah asik bermain di bawah tiang bendera, mereka berdiri menghadap ke atas sambil menyanyikan “Tidak hidup Indonesia raya,” lengkap degan gerakan jari tengah dilontarkan ke udara. 

Barisan tak pernah teratur, sampai pada seorang guru mengeluarkan kayu dengan panjang satu meter, setiap anak lari terbirirt-birit, mereka takut dipukul, beberapa kali ibu berteriak, tak selang lama barisan mulai kondusif.

Kerja pendisiplinan secara fisik nyatanya gagal bekerja dengan sempurna, mereka masih mengulangi perilaku yang sama, bahkan, ketika kerja pendisiplinan itu tengah diterapkan nyaris setiap hari. 

Perlawanan-perlawanan kecil sering masuk dalam beraneka ragam bentuk. Membuka baju, pulang sekolah tak tepat waktu, berkeliling pada saat mata pelajaran berlangsung, mengacung jari tengah ketika ditanya, mengikuti gaya masyarakat sosial media, melewatkan pekerjaan rumah, bahkan paling puncaknya ketika perilaku bully atau mengganggu satu sama lain makin marak-maraknya.

*Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik UIN Alauddin Makassar

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami