Beredar Pesan Aduan Mahasiswi KKN Berisi Ancaman, Dosen Pembimbing Sebut Salah Paham

Facebook
Twitter
WhatsApp
Tangkapan layar monitor laptop yang berisi aduan Mahasiswi KKN Desa Bonto Cinde, Jumat 21 Oktober 2022. | Foto: Washilah - Rahmat Rizky (Magang).

Washilah —  “The real dihancurkan mental, psikis, sama kesehatanta, nda tau harus apa, disuruhki ini mengungsi di posko lain,” ucap pesan suara berdurasi 28 detik yang diteruskan oleh salah satu Reporter Washilah, Ulfa, ke Grup Washilah, Kamis (20/10/22).

Tak hanya pesan suara. Pesan teks yang berasal dari salah satu Mahasiswi KKN di Posko Desa Bonto Cinde, Kecamatan Bissapu, Kabupaten Bantaeng ini, juga ikut diteruskan Ulfa secara beruntun. Pesan tersebut berisi gambaran kondisi di sana dengan kata  “Baku Parang”.

Pesan itu dibenarkan langsung oleh Ibnu Hajar selaku Dosen Pembimbing, saat dihubungi melalui sambungan telepon sekitar sekitar 14.00 WITA pada Jumat ( 21/10/2022),

Kata Ibnu, kabar yang beredar di Grup WhatsApp adalah kesalahpahaman belaka.

Tidak ada ancaman hingga ingin dibunuh, lanjut Ibnu, kejadian itu dikarenakan Mahasiswa KKN di posko Bonto Cinde tidak paham Bahasa Makassar. Sementara Bapak posko, Daeng Rewa, sebaliknya.

“Bukan parang, melainkan parrangi (bertahan) dengan kondisi rumah yang begini,” katanya.

Hal itu bermula, papar Ibnu, saat Mahasiswa KKN yang mengeluhkan kondisi rumah atau posko mereka yang tidak layak.

“Mereka konsultasi ke saya, airnya keruh, rumahnya tidak layak, ada yang gatal-gatal bahkan sakit,” jelasnya.

Mendengar hal itu, Ibnu lakukan konsultasi dengan Pak Camat, Bissapu, agar mencari tempat yang lebih layak untuk mereka jadikan posko.

Pak Camat menyetujuinya kemudian berunding dengan pemilik posko. Setelah berbicara, keputusan diserahkan ke mahasiswa.

Sembilan Mahasiswa KKN itu berdiskusi. Sebab, ada beberapa dari mereka yang tidak setuju untuk pindah.

Setelah Pak Camat pulang, Daeng Rewa merasa tersinggung dan mengatakan
Parrangi” (bertahan).

Arti kata parrangi yang diucapakan Daeng Rewa bermakna “bertahan”. Namun, mahasiswa yang tidak paham dengan Bahasa Makassar itu, mengira akan diparangi jika pergi dari rumah Daeng Rewa.

“Daeng Rewa merasa tersinggung. Menurut Mahasiswa KKN, katanya terintimidasi sama ucapannya Daeng Rewa ini,” ungkap Ibnu.

Bukan hanya karena bahasa saja, hal itu juga ditambah dengan suara Daeng Rewa yang bernada tinggi. Sehingga, lanjut Ibnu, mereka mengira Daeng Rewa sedang dalam kondisi emosi.

“Kepanikan pun terjadi di antara mereka. Ketakutan itu lalu disebar dalam bentuk vn dan chat Whatsapp di mana-mana,” jelasnya.

Mereka merasa tertekan. Terpaksa bertahan di posko Bonto Cinde dengan tafsir parang itu.

“Klimaksnya, dua malam yang lalu, mereka menghubungi saya di WhatsApp pukul 11 bahwa ada yang kesurupan,” ucap Ibnu.

Setelah mendapatkan kabar itu, Ibnu lalu menelpon mereka dan berpesan meninggalkan Posko Bonto Cinde setelah salat subuh menuju Posko Bontorita untuk menyelamatkan diri.

“Mereka bilang, rumah tersebut juga terdapat hal-hal mistis,” ungkap Ibnu.

Kesalahpahaman itu, lanjut Ibnu, sudah diselesaikan tanpa menyinggung pihak manapun.

“Semua sudah aman,” tutupnya.

Hingga berita ini terbit Mahasiswa KKN Desa Bonto Cinde, Kecamatan Bissapu, Kabupaten Bantaeng masih enggan untuk memberi keterangan lebih lanjut.

Penulis : Rahmat Rizki dan Heny Mustari (magang)
Editor : Nur Afni Aripin

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami