Di Balik Jalan Pintas Pemenuhan Kuota Mahasiswa Baru

Facebook
Twitter
WhatsApp
Ilustrasi : Istimewa

Washilah – Pagi itu, sambil menenteng sekotak penuh bawang merah khas Bima di dalam kardus bekas Indomie, Dinda (bukan nama sebenarnya) berjalan menunduk sembari memupuk harapan agar adiknya diterima sebagai Mahasiswa UIN Alauddin Makassar. 

Sekitar pukul 09:22 Wita, 3 Agustus 2022, ia sampai di depan Rektorat, tepatnya di lantai tiga ruangan Warek I Bidang akademik, Prof Mardan. 

Sehari sebelumnya, ia tak setenang ini. Matanya sembab. Air matanya tak berhenti mengalir. Untuk mengucapkan sepatah kata ia terbata-bata. Hal tersebut dilakukan Dinda bukan tanpa alasan. Ia mengamuk karena adiknya tidak diterima di kampus UIN Alauddin Makassar jalur Ujian Masuk Mandiri (UMM).

Pada 2 Agustus 2022, satu hari pasca pengumuman ia memberanikan diri menyambangi Rektorat. Berharap ada jalur khusus agar adiknya bisa lolos kuliah di UIN Alauddin Makassar.

“Setelah azan subuh saya ke sini kak, bahkan berani panjat pagar,” ucapnya (02/08/2022).

Ia lebih dulu bertemu Rahmi, Satpam yang berjaga di sana. Dinda lantas menceritakan masalah adiknya. Rahmi menawarkan beberapa jurusan yang kuota mahasiswanya belum penuh, salah satunya fisika.

Dinda yang mendengarnya cepat-cepat menghubungi adiknya dan orang tuanya perihal kelulusan adiknya. Sayangnya, setelah kembali dari mengisi baterai ponsel dan mencetak kertas ujian, ia mendapat kabar bahwa nama adiknya telah digantikan oleh orang lain.

Padahal lebih dulu, Rahmi mengirimkan nama adiknya ke Kepala Biro Administrasi Akademik Kemahasiswaan dan Kerjasama (AAKK). “Kulihat ponselnya kak, ada potonya adikku dan jurusan fisika keterangannya. Namanya adikku pertama, tapi tiba-tiba ada nama- nama yang baru masuk,” katanya.

“Padahal sudah maka siapkan parsel,” tutur Dinda sembari memperlihatkan kardusnya.

Dinda yang mengetahui posisi adiknya terganti, lantas masuk ke bagian akademik sembari menangis. Ia menjelaskan masalahnya. Bukannya didengar ia malah disuruh untuk keluar. 

Satpam yang berada di lokasi mambawa Dinda keluar ruangan. Di kursi biru yang berjejer ia duduk, dikerumuni beberapa orang yang penasaran. Untuk ke sekian kalinya, ia menjelaskan, berusaha meyakinkan adiknya telah diluluskan. 

Rahmi yang sedari awal menemaninya, kemudian mengambil ponsel Dinda dan menghapus beberapa bukti chat yang ia miliki. “Bahkan na blokir ka kak,” katanya sembari memperlihatkan bukti chat yang telah kosong.

Sore itu, Dinda disuruh untuk pulang. Ia dinasehati untuk sabar. Sayangnya, hujan kala itu mengguyur area Samata, mencegat langkahnya untuk segera pulang.

Bertepatan dengan itu, Kepala Biro AAKK, Kaswad, sedang menunggu mobil di Lobi Rektorat. Dinda yang melihat itu mengambil kesempatan, ia kembali menceritakan kisah adiknya untuk kesekian kalinya. “Sudah bicara sama Warek? bicara mi dulu sama Warek nak nah,” Kata Kaswad sembari masuk ke mobil.

Kini, tibalah Dinda di pintu ruangan Warek I. Ia berusaha menahan bulir air mata agar tak tumpah seperti kemarin. Dia disambut oleh staf, menceritakan kembali kisahnya. Staf mendengarnya dengan patuh, lalu masuk ke ruangan yang di dalamnya ada warek I. Lima menit, ia keluar.

“Ke Wadek Saintek mi dek, tanyakan apakah masih ada kuota kosong, karena satauku jalur khusus itu tidak ada. Tapi ke sanami dulu pastikan toh,” katanya.

Kaki Dinda lemas, selain kurang tidur, ia juga hanya makan satu sendok nasi hari itu.

“Tidak nafsu ka makan, karena ini masalahku kak,” tuturnya.

Karena tak ada pilihan, ia bergegas menyambangi ruang Wadek I Fakultas Sains dan Teknologi, Syamsiah. Wadek I menuturkan tak tahu menahu perihal jalur masuk khusus.

Beberapa jam penantian, Dinda akhirnya menyerah. Namun saat ia hendak pulang. Mahasiswa semester lima tersebut diarahkan ke ruangan Tata Usaha Saintek. 

“Sebenarnya bisa diusahakan, tapi dibuka setelah pendaftaran ulang jalur UMM selesai, biar ditahu jurusan apa saja yang kuotanya kosong,” kata Dinda menirukan Kepala Tata Usaha Saintek, Irwanuddin.

Dinda akhirnya merasa lega saat nama adiknya ditulis di kertas HVS warna putih. sebelumnya ia bahkan ditawari dua pilihan Jurusan Fisika di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan atau Fisika di Fakultas Sains dan Teknologi.

Dinda sendiri masuk UIN Alauddin melalui jalur khusus di tahun 2020.

UMK dulunya merupakan jalur penerimaan khusus yang dibuka UIN Alauddin Makassar untuk memenuhi kouta pada beberapa prodi yang belum terpenuhi pada beberapa jalur penerimaan yang telah dibuka sebelumnya. Sayangnya, hingga tahun ini jalur tersebut sudah tidak dibuka lagi. Kepala Sub bagian Akademik, Anto, membenarkan hal tersebut. “Tidak ada Jalur Khusus di UIN Alauddin, sudah ditutup dua tahun yang lalu, jalur terakhir di UIN itu UMM,” pungkasnya.

Penulis : Nur Afni Aripin

Editor : Jushuatul Amriadi

 

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami