Pembangunan Sekret LK Sekedar Formalitas?

Facebook
Twitter
WhatsApp
Potret Sekretariat HMJ Fakultas Ushuluddin Filsafat dan Politik.

Washilah – Pembangunan sekretariat Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) beberapa bulan terakhir tengah gencargencarnya dilakukan. Sekretariat biasanya digunakan mahasiswa untuk kegiatan tertentu misalnya rapat dan sebagai kantor atau tempat kerja HMJ. Di beberapa fakultas, pembuatan sekretariat dianggap tidak memperhatikan efektifitasnya.

Ketua HMJ Ilmu Falak (IF), Andi Muhammad Ruknanto mengatakan bahwa pengadaan sekretariat di dalam kampus sangat penting khususnya karena HMJ sebagai lembaga kemahasiswaan adalah pejabat kampus yang memang membutuhkan kantor sebagai tempat kerjanya.

“Kalau tidak ada sekret di mana kira-kira mau berkantor, memang ada sekret di luar tetapi penting bagi fakultas untuk menyediakan itu, terlebih lagi kita juga mitra dari program studi,” katanya.

Di sisi lain, Ketua HMJ Perbandingan Mahzab dan Hukum (PMH), Muh. Arya mengatakan siap mengawal pengadaan
sekretariat dan menganggap ada hak
mahasiswa yang belum terpenuhi dengan
belum lengkapnya fasilitas yang disiapkan
oleh kampus.

“Mewakili aspirasi mahasiswa, kami siap (mengawal pembuatan sekret). Ketika sadar bahwa memang betul ada hak, siapa yang
tidak mau, siapa yang mau ambil kerugian,” tegasnya.

Kepala Biro Administrasi Umum dan Perencanaan Keuangan (AUPK), Alwan Subhan mengungkapkan perkembangan
pembangunan sekretariat pada beberapa Fakultas. Pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), Fakultas Adab dan Humaniora (FAH), serta Fakultas Sains dan Teknologi (FST) telah rampung pembangunannya dan beberapa telah dimanfaatkan bagi pengurus himpunan. Sementara beberapa fakultas lain menyusul pembangunannya secara bertahap.

“Ushuluddin kan sudah 4 yang jadi dan 3 lagi yang masih sementara berjalan, di Syariah dan Tarbiyah juga sudah mulai dibangun,” jelasnya.

Ketua HMJ Sosiologi Agama, Muh. Adiyat mengeluhkan pengadaan sekret HMJ yang keberadaannya dianggap tidak efektif sehingga kebanyakan dibiarkan tidak terisi sehingga akhirnya memilih untuk menyewa sekretariat di luar kampus.

Demisioner Koordinator Keorganisasian Ritma ini beranggapan, lebih baik menyewa sekret HMJ di luar kampus dibandingkan harus memaksakan pemaksimalan pemanfaatan tetapi kebutuhan tidak terpenuhi dengan baik.

”Kalau untuk pengurus harian terkait urusan persuratan mungkin bisa, tetapi kita mengharapkan ruang HMJ yang bisa dipakai untuk rapat maupun kegiatankegiatan lain, apalagi dengan adanya pembatasan jam malam akhirnya kita lebih memilih sekret di luar,” bebernya.

Menjawab hal tersebut, Wakil Dekan (Wadek) III Fakultas Ushuluddin Filsafat dan Politik Dr. Abdullah mengatakan, bahwa meskipun HMJ mengharapkan ruangan luas yang dapat dipakai untuk rapat, namun anggaran terkait alokasi pembangunan sekretariat tersebut terbatas.

“Harapannya mungkin begitu, tapi kita kan hanya pelaksana dan anggaran yg diberikan terbatas. Seharusnya kita bersyukur pimpinan telah merealisasikan pengadaan (sekret) ini. Kan sebelumnya tidak ada,” jawabnya.

Lanjut ia menekankan bahwa setelah kuliah offline diberlakukan kembali, sekretariat sudah bisa dipakai namun dengan catatan pemanfaatannya harus digunakan secara baik dan ada batasan waktu penggunaan ruangan tersebut.

“Penggunaannya tidak boleh macam-macam, masuk jam 8 pulang jam 4, kita kan pakai sistem kantor. Kunci juga nantinya akan dipegang oleh pihak fakultas,” tegasnya.

Diketahui, sumber dana empat ruang sekretariat pada FUFP yang telah dibangun bersumber dari rektorat sementara tiga lainnya menggunakan dana Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) dari Fakultas.

Tulisan ini telah terbit pada Tabloid Edisi 115 spesial Magang.

Penulis: Jushuatul Amriadi
Editor: Ulfa Rizkia Aprialiyani

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami