Perempuan di Tengah Budaya Patriarki

Facebook
Twitter
WhatsApp
Dok. Pribadi Andi Tenriawaru

Washilah – Bagi seorang perempuan untuk terjun dalam dunia literasi tentunya menjadi challenge tersendiri di tengah budaya yang masih menjadikan perempuan sebagai kelas kedua dan negara yang memang masih melanggengkan budaya patriarki.

Namun, salah satu Alumni UIN Alauddin Makassar berhasil membuktikan bahwa perempuan juga bisa aktif dalam dunia literasi .

Perempuan yang bernama lengkap Andi Tenriawaru ini menjelaskan perjuangan dalam menulis buku perdananya yang diberi judul “pergerakan revitalisasi timur tengah ke indonesia”.

Buku yang pernah melewati penggarapan awal pada tahun 2011 ini telah selesai di tahun 2013, sementara proses melengkapi naskah dan revisi dikerjainya pada saat di Jogja.

Meski banyak hambatan sebelumnya.  namun perempuan yang akrab disapa Tenri ini sama sekali tidak menyurutkan semangatnya  dalam menyelesaikan bukunya. Terbukti di tahun 2020 buku ini berhasil dilaunching kan tepat di Universitas Hasanuddin (Unhas).

“Buku ini dilaunching kan tepat di tahun kemarin   dihari sumpah pemuda oleh komite nasional pemuda indonesia sulsel,” tuturnya.

Saat ditanya perihal motivasinya terjun dalam kepenulisan, perempuan yang kelahiran makassar 29 Juli 1991 ini, mengaku bahwa menulis buku merupakan perwujudan rasa terima kasihnya kepada Allah karena diberi kesempatan berkuliah di UIN Alauddin Makassar.

“Kalau sekitar kita tampak gelap, biarkan kita yang bercahaya. Sebagaiman tugas besar diciptakan manusia dan jin adalah untuk beribadah jadi  setelah itu saya mau menjadi manusia yang bermanfaat,” jelasnya .Ahad (21/03/2021).

Lebih lanjut perempuan yang juga aktif berkecimpung sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah ini mengungkapkan alasan mengapa tertarik untuk menulis buku yang diberi judul ” pergerakan revitalisasi timur tengah ke indonesia” ini. yaitu. Ia ingin menyampaikan kepada pembaca bahwa ada masa dimana zaman islam itu jaya gerakannya dan ini diharapakan bisa menginspirasi kalangan muda.

Anak pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Ibunda Syansuari dan Ayahanda Andi Muhammad Asryad ini juga menuturkan bahwa buku ini bahkan telah dijadikan bahan rujukan oleh salah satu mahasiswa Strata tiga di Jerman.

“Buku ini dijadikan salah satu rujukan oleh mahasiswa universitas Humberg di Jerman dan akan diserahkan kepada Professornya  yang konsenya memang berfokus pada politik dan gerakan sosial islam di indonesia,” jelasnya.

Perempuan yang juga kini tengah disibukkan menggarap buku keduanya turut menjelaskan sinopsis dari isi bukunya.

Jatuhnya  turki usmani menjadi latar belakang penulisan. Hadirnya intrik, persaingan putra mahkota perebutan tahta, serta mengadopsi ide dan budaya Eropa. menjadi pemicu runtuhnya turki usmani.

setelah runtuh timbul gerakan baru seperti ikhwanul muslimun, HTI, jama’ah salahuddin serta KPPS di luwu

“Buku ini menceritakan transformasi gerakan islam, bagaimana riak riak terjadi di Turki itu bisa memberi efek terhadap gerakan mahasiswa,” tuturnya.

Lebih lanjut, Perempuan yang mengenakan hijab ini berharap buku ini dapat menggerakkan pembaca untuk tergerak. Baik dalam sisi emosional, spritual atupun intelektual.

“Saya berharap buku ini ini bisa menggerakkan pembaca intinya memberi asupan motivasi untuk mereka tergerak,” pungkasnya.

 

Penulis : A. Resky Satrio (Magang)

Editor : Ulfa Rizkia Apriliyai

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami