Euforia Peringatan International Women’s Day : Langgengnya Budaya Patriarki di Indonesia

Facebook
Twitter
WhatsApp

Oleh : Nur Afni Aripin

Tanggal 8 maret selalu di identikkan dengan perayaan peringatan Hari perempuan skala internasional. Kemudian di tahun 2021 Atmosfer euforia peringatan masih bisa dirasakan. Beberapa ucapan turut berselancar di Jagat sosial media turut memeriahkan . Mulai dari Quotes ala feminis bahkan kalimat yang dibaluti perlawanan menuntut keadilan kesetaraan bagi kaum perempuan.

Sudah menjadi rahasia umum memang bahwa hingga detik ini perempuan masih saja dihadapkan oleh berbagai polemik ketimpangan gender bahkan kesenjangan sosial. Hal ini bisa dilihat langsung dari bagaimana hak-hak perempuan dalam bersosial, ruang lingkup keluarga, pekerjaan. Acap kali tidak sebebas Kaum pria.

Peringatan International women’s day mulai digelar pada tanggal 8 Maret 1908 Dalam kegiatan ini sedikitnya di ikuti Lima belas ribu perempuan di New york city yang menyuarakan aspirasinya. Kejadian ini dilatar belakangi maraknya penindasan bahkan kesenjangan yang amat tinggi.
Mereka juga menuntut upah yang lebih baik, pemangkasan jam kerja dan hak suara.

Dan pada tahun 1966, Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) mengumumkan tema tahunan dalam euforia peringatan hari perempuan internasional yaitu “Celebriting the past, planning the future”. sedang di tahun 2021 ini tema yang diangkat adalah “Choose to Challenge”. Tema ini sengaja diangkat sebagai harapan untuk perempuan di luar sana agar bisa menjawab dari tantangan dunia baik saat ini maupun di masa mendatang.

kembali pada belenggu budaya patriarki yang masih langgeng di bumi pertiwi. Siapa yang tidak mengenal sosok R.A. Kartini, seorang perempuan yang merupakan pejuang emansipasi dalam kesetaraan gender. Hebatnya beliau mengampanyekan segala ketimpangan dalam tulisan-tulisannya, sebagaimana pada saat itu pembatasan bagi perempuan untuk mengenyam pendidikan masih berlaku. Ia bahkan memercik apa semangat bagi kaum perempuan lainnya untuk tetap vokal menyuarakan persamaan kedudukan dan hak-hak perempuan.

Meskipun demikian perjuangan yang telah digencarkan dari tahun ke tahun belum sepenuhnya memberikan hasil yang maksimal. Buktinya saja hingga memasuki perayaan International women’s day budaya patriarki bahkan masih langgeng dan membelenggu hak-hak perempuan. Bukan hanya pada ranah ekonomi, politik, pendidikan, keluarga hingga hukum sekalipun. Sebagai contoh kecil, anggapan masyarakat bahwa perempuan adalah bagian dari laki-laki dan hanya berkutat pada urusan domestik saja, diskriminasi, termarginalkan, paradigma yang terus terhegemoni hingga pelabelan perempuan lemah dan tidak berdaya tetap langgeng dari zaman ke zaman.

Hukum yang tidak pernah mengakomodasi berbagai polemik perempuan, dengan alasan klasik pembenaran. Bahwa toh memang ranah perempuan hanya pada domestik saja. Akibatnya hukum dipelintir menjadi lemah hingga ketidak adilan gender dianggap sah-sah saja bagi masyarakat sekitar.

Ironisnya ketidak adilan gender sebagai hasil produk dari budaya patriarki dapat memberi pengaruh buruk bagi perempuan. Hadirnya Kekerasan Dalam Rumah Tangga (DRT), Pelecehan seksual, pernikahan dini bahkan perempuan seringkali mendapat beban ganda bukan hanya bekerja tapi juga domestik dibebankan terhadap perempuan.

Padahal faktanya setiap manusia memiliki hak yang sama baik laki-laki maupun perempuan. Meskipun beberapa hak memang sudah diporelah perempuan mulai dari akses pendidikan, keterwakilan perempuan dalam ranah politik dan sebagai nya. Namun membagi peran dalam rumah tangga harus juga di bangun. Begitupun penegakan hukum terhadap kekerasan perempuan haruslah ditegakkan sebagai langkah awal meminimalisir angka kekerasan terhadap perempuan.

Substansi bias gender sepenuhnya tidak akan merubah diri menjadi adil gender. Jika penyelenggara negara kurang peduli dan memilih abai terhadap segala bentuk kisruh permasalahan gender dan perihal perempuan sendiri. Sedang masyarakat masih saja melanggengkan konstruksi sosial yang tidak berkeadilan. Hal ini merupakan kombinasi yang menjadi benteng dinding yang sulit dirobohkan. karena perjuangan ini bukan hanya melawan laki-laki, melainkan perjuangan melawan sistem bahkan struktur ketidakadilan masyarakat serta budaya patriarki yang memiliki stigma negatif dan telah mengakar di masyarakat.

 

Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Ilmu Politik Fakultas Ushuluddin, Filsafat, dan Politik (FUFP) Semester VI

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami