Kesadaran Akan Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan

Facebook
Twitter
WhatsApp
Ilustrasi: Heni Handayani

Oleh: Heni Handayani

Perempuan, insan yang tak lepas dari pembahasan dalam berbagai problematika baik dalam lingkup keluarga, sekolah, Universitas perguruan tinggi, dan masyarakat luas pada umumnya. Entah diskriminasi dalam masyarakat karena laki-laki dianggap lebih superior ataupun kekerasan dan pelecehan yang kerap terjadi.

Kekerasan, pelecehan, bullying atau diskriminasi mesih sering terjadi dilingkup masyarakat dan perempuan yang paling rentan menjadi korban. Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan atau 16 HAKTP (16 Days of Activism against Gender-Based Violence) adalah kampanye berskala internasional yang mendorong upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan, yang diselenggarakan rutin tiap tahun, dari 25 November (Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap perempuan) hingga 10 Desember (Hari Ham Internasional). 16HKTP pertama kali digagas oleh para aktivis di Women’s Global Leadership.

Selama masa pandemi kekerasan kepada perempuan meningkat mulai dari fisik, non-fisik seperti psikologis dan pelecehan seksual. Dengan tujuan mengajak orang untuk peduli akan penghapusan kekerasan terhadap perempuan. UKM LIMA Washilah melakukan riset. Sebanyak 30 tanggapan bahwa mereka pernah menyaksikan atau mengalami hal tersebut. 50% dari mereka mengalami kekerasan secara fisik, 43,3% secara non-fisik dan sisanya merasakan keduanya.

Kemudian jenis kekerasan atau pelecehan yang mereka hadapi bervariasi, dipukul, cat calling, pelecehan seksual dan lainnya. Tindakan dari orang-orang yang menyaksikan langsung kejadian (kekerasan maupun pelecehan) tersebut beragam, ada yang menegur, mencoba melerai, melawan, dan yang paling dominan adalah diam. Masih banyak orang-orang yang yang mengganggap bahwa hal tersebut memang lazim terjadi yang baru sesekali menyaksikan malah apatis dengan bersikap biasa saja tanpa ada tindakan apa-apa. Padahal hal tersebut dapat menyebabkan ketidaknyamanan bagi korban.

Beberapa tanggapan yang bukan hanya mengatakan biasa saja, malah menyalahkan korban. Dimana akar masalah sebenarnya adalah perempuan itu sendiri kerena tidak mampu menjaga akhlak serta perilaku. Kemudian hal tersebut perlu didiskusikan lebih lanjut tentang bagaimana mengembalikan citra perempuan seperti zaman dahulu.

Tanggapan seperti ini yang menyebabkan banyak perempuan di luar sana merasa takut untuk bersuara dan melawan tindak kekerasan yang terus terjadi. Permasalahan saat ini, tindakan kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan sangat marak terjadi. Sedangkan kesadaran bagi laki-laki sebagai pelaku maupun segala pihak yang menjadi penonton atau yang melihat langsung sangat kurang atau malah tidak peduli.

Tanggapan lain mengenai kekerasan terhadap perempuan merupakan penistaan harkat manusia yang dapat ditemui dimana saja seperti pada tingkat pendidikan, ekonomi, budaya, agama maupun suku bangsa. Hal ini karena pada dasarnya kekerasan terjadi akibat paham dunia yang masih terbagi yang di dominasi oleh laki-laki.

Kesadaran, dalam artian sadar bahwa perilaku kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan itu menyimpang kemudian sadar bahwa sebagai manusia memiliki andil untuk mencegah hal tersebut. Sebagai sesama manusia, kita harus lebih peka akan situasi dan lingkungan sekitar. Mungkin beberapa orang membutuhkan pertolongan, ada baiknya memberikan bantuan sesuai kapasitas masing-masing.

Kesadaran yang di lakukan merupakan salah satu edukasi diri mengenai setiap hak manusia. Karena pada hakekatnya semua punya dasar yang sama yaitu moral untuk memperlakukan dan merespon orang dengan baik. Maka mulailah dari diri sendiri untuk tidak memandang rendah laki-laki maupun perempuan, tidak diskriminasi satu sama lain, tidak mengkotak-kotakkan gender, serta melawan stigma-stigma buruk di masyarakat yang sudah menjadi budaya. Itu cara sederhana untuk tidak menambah angka pelecehan dan kekerasan kepada perempuan.

*Penulis Merupakan Mahasiswa Jurusan Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum (FSH). 

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Tabloid Edisi 122: KIP Kuliah Marak Calo

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami