Oleh : Epi Aresih Tansal
“Jomblo, nasib atau takdir”
sesering itunya mendapati quote ini wara-wiri di media sosial, sehingga menggerojok diri merasa perlu ikut angkat suara. “Jomblo” sebutan bagi siapaun yang tidak memiliki kekasih, memang tidak salah bila dikatai sedang “gabut gila,” mengapa di tengah pandemi yang gawat ini malah merecoki pembahasan serampangan seperti ini.
Mengosek “status jomblo”, ayalnya ingin menarik hati berseloroh membebaskan diri dari pingitan pikiran yang mulai melingar berbulan-bulan dirumah. Sedikit melonggarkan kecamuk lelah dan bosan dengan memberi spasi jenaka dikepala, entah mengapa menyetel siaran tv dan membaca rangkaian paragraf informasi terasa malah semakin menimbulkan debaran kecemasan, sedari itu… mari sedikit berguyon, melupakan was-was yang gaduh teraduk-aduk semoga banyol ini memuaskan selera humor untuk siapapun yang membaca.
Jomblo nawaitu, adalah dikotomi kata berlainan kamus yang disatukan dalam satu frasa. Jomblo satu dari ragam bahasa gaul DKI Jakarta, menasional melalui sinetron yang tayang di masing-masing channel televisi kesukaan pemirsa, sedangkan nawaitu kalimat bahasa Arab yang berkarib dengan lafaz niat dalam rukun ibadah umat Islam. Mengapa memilih kata “nawaitu” bukan “ushalli” keduanyakan serupa, ahli nahwu dan shorof menjabarkan bahwa perbedaan keduanya ada pada konteks waktu, “ushalli tepatnya “saya telah berniat” sedang nawaitu “saya sedang berniat”
Istilah nawaitu ini datang mengiwahi sebagai tulisan, setelah mengetahui kabar kandasnya hubungan asmara seorang senior yang paling jago melucu seumur-umur penulis berlembaga, ia senior alumni prodi Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, sehingga istilah nawaitu terinspirasi darinya, serasa menggemaskan berboncengan dengan istilah “jomblo” yang lokal ditelinga kita.
Jomblo tidak selalu disandangkan kepada pribadi yang menyedihkan dan kesepian, Tan Malaka bapak pendiri bangsa ini toh ternyata menjomblo hingga akhir usia, tidak hanya dia, empat ulama’ termahsyur yang hidup di zaman khalifah juga jomblo hingga akhir hayat, mereka adalah Ibnu Jarir at-Thabari, karyanya yang paling terkenal tafsir ath-Thabary, tafsir yang sering digunakan ulama’ sampai hari ini sebagai referensi dalam mengusul fatwah dan kajian teoritis bagi kalangan akademisi disamping tafsir Ibnu Katsir dan al-Misbah.
Imam an-Nawawi ad-Dimasyqi ulama’ dipertengahan abad keenam hijriyah, seluruh hidupnya diabdikan secara penuh untuk belajar dan mengajarkan ilmu, gemar melancong ke berbagai negara bahkan benua hanya untuk memuaskan dahaganya akan sebuah ilmu. Terakhir Ibnu Taimiyyah tokoh populer dalam literasi Islam yang wafat pada tahun 728 Hijriyah, membujang hingga tutup usia diumur 67 tahun, karya yang dicetuskan semasa hayatnya diperkirakan mencapai 500 karya tulis.
Kenal dengan Nikola Tesla, ilmuwan abad ke-20 asal Amerika Serikat kelahiran Kroasia ini dikenang berkat penemuan mekanisme alternating current (AC) dalam dunia kelistrikan dan nirkabel, lagi-lagi juga membujang hingga akhir hidupnya. Bukan hanya Nikola, dari abad sebelumnya deretan ilmuwan jomblo bisa lebih panjang bila ingin dimuntahkan sekaligus. Leonardo da Vinci, Newton, Descartes, Pascal, Archimedes, dan Immanuel Kant, deretan ilmuwan dunia yang meninggal dalam keadaan tidak menikah alias jomblo… jadi, masih berani ketus mencela jomblo….
Prosais sekali bila melihat kehidupan jomblo ngenes di abad ini, “sudah menemukan apa cuk…” hehehe izin sebentar berseloroh, sekali lagi jomblo bukan status memalukan yang mencoreng muka dan martabat.
Jomblo bukan status yang seenaknya bisa dijadikan ledekan komikal, pintar tertawa dan memperhitungkan langkah untuk menjadi bahan tertawaan itu separuh dari nekleus moral dan etika seseorang, menajis-najiskan sesuatu hal yang dianggap tercela bukan sesuatu hal yang pantas dilestarikan sebagai warisan peradaban bagi anak cucu kita dengan selera humor yang memalukan apalagi merendahkan strata budaya ketimuran.
Tidak ingin tampak menyedihkan meratapi keadaan, dan mentang-mentang senggang tanpa seseorang yang melulu merepotkan, menjadi alasan rukun sahnya para jomblo berkafilah ria bertransformasi banting keadaan menjadi seorang gamer professional, setiap hari melancong dijagat maya untuk login ke PUBG “mabar” ML dan games seru lainnya….
Saat lagi asik-asiknya berselancar di dunia maya, membuka kanal berita kesukaan satu persatu tirto.id, mojok.co, tempo.co dan kumparan.com sebuah link penelitian ilmiah sentak mencuri perhatian retina ucolis muncul ditengah-tengah beranda google, judulnya sungguh mencolok, menggelitik sudah pasti “pdf. Korelasi Kejombloan Terhadap Frekuensi Bermain Game” kesimpulan dari penelitian ini menyebutkan bahwa “terdapat hubungan antar frekuensi bermain game dengan status jomblo para pemainnya, dimana status jomblo akan meningkat sembari dengan meningkatnya frekuensi bermain game.” Jangan-jangan yang hobi PUBG, ML, mabar atau apalah istilahnya ternyata 2/3 nya jomblo yang gagal mengaktualisasikan diri, mirisnya fakta ilmiah para gamer rata-rata adalah dari kalangan jomblo.
Jomblo juga punya klasemen, tidak hanya ada satu varian yang linear, jomblo fisabilillah satu diantaranya, klasemen paling terhormat diantara level lainnya, yang memilih sendiri dalam taat. Adalah Sitti Maryam perempuan jomblo yang diabadikan dalam al-Qur’an namanya sebagai salah satu surah atas kemuliaannya menjaga diri dan kehormatan.
Ada juga sebutan jumblo ngenes, jenis jomblo kronis yang paling banyak dijumpai di abad ini, secara psikologis ditandai dengan gabut setiap hari, diganggui rasa kesepian yang sudah lama meronta-ronta didalam sukma tanpa arah dan target tertentu menepikan kegabutan sembari memperbaiki kualitas pribadi, yang mungkin lagi-lagi menjadikan games sebagai pelarian instan dari kekosongan hampa, masih ada lagi tipekal yang laian, namun kali ini yang fokus diulas adalah jomblo nawaitu.
Jomblo nawaitu istilah untuk mereka yang lajang dengan niat tertentu, entah ingin fokus meniti karier atau fokus dengan study, klasemen jomblo yang memiliki visi dalam kesendiriannya baik itu memantaskan diri dari segi kedewasaan emosional, mapan secara finansial dan matang secara spiritual, sangat asik bila semua itu di combine dalam satu pribadi anak muda yang visioner.
Menyenangkan bila jomblo nawaitu adalah populasi jomblo secara kauntitas dan kualitas yang hidup di abad ini, tidak hanya produktif untuk dirinya sendiri tapi juga me-trigger energi positif bagi orang lain di sekitarnya. Hubungan aksi reaksi, okdidasi dan teroksidasi layaknya chemistry yang saling mempengaruhi, halnya simbiosis manusia, yang melebur menjadi senyawa atau molekul dalam sebuah ikatan unsur.
Sehingga lebih baik memilih menjadi jomblo nawaitu, yang sedang sibuk mempersiapkan masa depan sukacita sejak di dunia menuju akhirat. Segala sesuatu yang berkaitan dengan hidup tentu memerlukan sebuah niat, target dan rencana, rugi bila membiarkan hidup tidak teratur, serampangan dan menua tanpa arti apa-apa. Kisah penaklukkan Konstantinopel adalah sampel sejarah bagaimana seorang anak muda berusia 22 tahun yang visioner, berhimmah sejak kanak-kanak menaklukkan Bizantium ibukota kekaisaran Romawi timur. Penerus kekhalifaan Turki Utsmani putra dari Sultan Murad II Han, dikenang dalam sejarah sebagai Sultan Alfatih.
Anak muda adalah super power untuk mewujudkan segala sesuatu, notifikasi ini untuk yang masih sendiri tanpa pasangan halal, baiknya menjadi “jomblo nawaitu.” Jomblo yang mengkalkulasikan peluang, rencana dan keadaan kedepan, akhir kata selamat menyusun resolusi … jangan menua tanpa arti dan pergi ke alam baka tanpa meninggalkan inspirasi.
*Penulis Merupakan Alumni Mahasiswi Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK).











