Wabah dan Agrikultur Kapitalis

Facebook
Twitter
WhatsApp
Sumber : TribunNews.com

Oleh : Muhammad Junaedi

Dalam kebudayaan Mesir Kuno, untuk pertama kalinya manusia memelihara kucing. Kucing telah menghindarkan manusia dari bencana kelaparan akibat serangan tikus. Karena itulah kucing dikagumi dan dianggap sebagai hewan suci. Manusia yang membunuh kucing akan dihukum mati.

Masyarakat Mesir Kuno mengimani mitos Dewi Bast. Mereka percaya kucing adalah penjelmaan Dewa Bast, seorang Dewi yang kepalanya berwujud kepala kucing. Dewi Bast adalah anak dari Ra, dewa matahari, yang dianggap sebagai Dewa perlindungan dan Dewa para kucing.

Pada abad pertengahan, kucing sering dibunuh dengan cara dibakar dan dilempar dari tempat tinggi sebagai ritus para penyihir. Kucing dianggap beraliansi dengan penyihir. Populasi tikus pun melonjak tinggi dan menjadi penyebab wabah pes atau “maut hitam” yang merajai Eropa pada abad ke-14.

***

Menurut Adorno, seorang tokoh Mazhab kritis, fenomena hilangnya ketakutan terkait dengan diusirnya misteri dari kehidupan manusia. Karena misteri telah hilang dari kehidupan manusia kontemporer, manusia tidak lagi memelihara ketakutan pada alam. Ketakutan kini disingkirkan ke dalam mitos yang disimpan dalam lemari kenangan. Semua mitos tentang ketakutan manusia terhadap hal-hal yang masa lalu, kini diarahkan menuju perhitungan dan kegunaan.

Kekuatan perhitungan dan kegunaan yang membuat semua mitos harus tunduk pada kalkulasi-kalkulasi yang obyektif. Itulah yang membuat ketakutan yang dimiliki manusia pelan-pelan menjadi sekarat. Kenyataan, menurut Adorno, membuat manusia kontemporer mempertahankan kelangsungan kehidupan dengan cara mengusir ketakutan.

Itulah titik di mana ketakutan diposisikan secara radikal terpisah dari kebahagiaan. Manusia menjadi sangat mempercayai kalkulasi, yang membuat semua pertimbangan matematis-rasional menjadi diktator bagi terusirnya rasa takut.

Jika benar bahwa membunuh mitos hanya akan melahirkan mitos baru, maka membunuh ingatan pembantaian kucing di Eropa pada masa abad pertengahan yang jadi penyebab utama wabah pes, justru akan melahirkan wabah yang mungkin tidak kalah mengerikan.

Kini, ketakutan itu muncul dari kerusakan-kerusakan sebagai hasil dari terusirnya ketakutan mistis. Perilaku-perilaku yang dulunya menjadi ketakutan mistia, seperti membunuh kucing yang diyakini penjelmaan Dewi Bast, kini menjadi yang berpunya, lalu pembantaian dilakukan sesuka hati dan dilaksanakan sehari-hari. Terusirnya ketakutan justru membuat kerusakan itu lahir dari rasa sakit pikiran manusia.

Setelah bertahun-tahun lupa dengan wabah pes yang merajai Eropa di masa lalu, wabah baru telah sampai dan menyebar di Dunia;covid-19. Kekuatan perhitungan dan kegunaan yang membuat semua mitos harus tunduk pada kalkulasi-kalkulasi yang obyektif merupakan pangkal awal dari apa yang kini kita sebut sebagai pandemi Corona. virus kian hari menjadi kian berbahaya karena model industrial agrikultur – sebagaimana disebutkan Rob Wallace, dalam perbincangan dengan Yaak Pabst untuk mengisi konten majalah sosialis Jerman, Marx21, tentang bahaya Covid -19, tanggung jawab agribisnis dan solusi berkelanjutan untuk memerangi pandemi.

Rob Wallace adalah ahli biologi evolusi dan ahli filologi kesehatan masyarakat yang saat ini bekerja di Institute of Global Studies di University of Minnesota, Dia menyebutkan “bahwa agrikultur industri penyebab munculnya penyakit”

“Agrikultur yang dipandu oleh kapital dan menggantikan lebih banyak ekologi alami membuka jalan yang tepat bagi patogen untuk dapat mengembangkan fenotipe yang paling mematikan dan menular. Sistem yang ada saat ini adalah sistem yang paling memungkinkan untuk membiakkan penyakit mematikan”

“Tumbuhnya monokultur genetik dari hewan domestik menghilangkan benteng ketahanan tubuh apa pun yang mungkin ada untuk memperlambat penularan. Ukuran dan kepadatan populasi yang lebih besar memfasilitasi tingkat penularan yang lebih tinggi. Kondisi padat seperti ini menekan respons imun. Output produksi yang tinggi, yang inheren dalam produksi industri, menyediakan pasokan kerentanan yang terus diperbarui, bahan bakar bagi evolusi virulensi. Dengan kata lain, karena agribisnis sangat fokus pada profit, virus yang dapat membunuh satu miliar orang dianggap sebagai risiko yang sepadan”

“Saat ini, planet Bumi sebagian besar adalah Planet Pertanian/Peternakan, baik dalam biomassa maupun lahan yang digunakan. Agribisnis berambisi untuk mengendalikan pasar makanan. Hampir keseluruhan proyek neoliberal diorganisasikan di seputar upaya perusahaan-perusahaan yang berbasis di negara-negara industri maju untuk merampas lahan dan sumber daya negara-negara yang lebih lemah. Akibatnya, banyak dari patogen baru yang sebelumnya dikendalikan oleh ekologi hutan yang telah berevolusi panjang bermunculan, mengancam seluruh dunia”

Pikiran manusia modern telah kehilangan kualitas metafisika, sehingga pikiran manusia hanya menjadi mesin untuk menghasilkan kalkulasi dan klasifikasi tanpa tujuan.

Simaklah bagaimana pikiran-pikiran digunakan dalam modus-modus kejahatan pembabatan hutan, modus pembantaian hewan, hingga modus kejahatan perampokan dan penipuan. Artinya, dalam batas antara keberhasilan manusia menemukan puncak rasionalitasnya, yang mengusir ketakutan masa lalu, ada puncak yang sama persis dengan kegagalan manusia itu sendiri akibat munculnya bayangan ketakutan baru.

*Penulis Merupakan Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik Fakultas Ushuluddin Filsafat dan Politik (FUFP) Semester X. 

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Tabloid Edisi 122: KIP Kuliah Marak Calo

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami