Oleh : Ilham Hamsah
Perang Salib merupakan peperangan yang paling menyita perhatian diatara peperangan yang terjadi di abad pertengahan, perang salib juga merupakan peperangan yang paling bersejarah di dunia, karena peperangan ini dilandaskan faktor yang paling rumit dan paling pribadi dalam diri manusia, perang salib sendiri diambil dari nama pasukan kristen yang menggunakan atribut salib sebagai lambang penebusan dosa, dan berupaya merebut kota suci Yerussalem dari tangan umat islam. Perseteruan antara umat muslim dan kerajaan Kristen sendiri sudah ada semenjak tahun 634 M.
Sejak digantikannya tabuk kepemimpinan Islam oleh Umar bin Khattab pasca wafatnya khalifah Abu Bakar R.A, perang yarmuk yang di komandoi Abu Ubaidah bersama dengan jendral besar umat Islam pada waktu itu, Khalid bin Walid berhasil merebut dan menguasai penuh sistem pemerintahan di negeri syam yang sebelumnya dikuasai oleh pasukan Bizantium, dibawah kepemimpinan Raja Heraklius. Perpindahan kekuasaan dari kerasaan kristen ke kekuasaan khalifah islam dilakukan secara damai, Khalifah Umar sampai di Yerussalem pada bulan april 632 untuk menerima secara langsung penyerahan kekuasaan. Sebelum menyerahkan Yerussalem, Sophronius meminta kepada Khalifah umar agar umat Kristen dilindungi dalam beribadah, dan dijamin hak-haknya sebagai manusia.
Khalifah Umar menyanggupi dan membuat perjaanjian al-Ubdah al-Umariah atau perjanjian umar yang inti dari perjanjian itu, Yerussalem adalah kota yang damai dan masing-masing pemeluk agama bebas melaksanakan ritual keagamaannya, baik Islam, Kristen maupun Yahudi.Beberapa faktor mewarnai munculnya gerakan perlawanan dari masyarakat Kristen khususnya wilayah eropa, yang sudah semakin geram dengan tindakan diskriminatif kaum muslimin terhadap masyarakat Kristen, dan juga yahudi di wilayah tersebut. Hal ini semakin memuncak hingga pada tahun 1009, pemerintahan kekhalifahan Fatimiah dibawa pimpinan al-Hakim melakukan tindakan kekerasan bahkan menghancurkan Gereja suci Sepulchre di Bukit Golgata, tempat Yesus Wafat karena disalib.
Deklarasi perang salib sendiri digaungkan oleh Paus Urbanus II pada tahun 1095. Hal ini didorong oleh keinginan kaum Kristen Eropa untuk menjadikan tempat-tempat suci umat kristen, terutama Yerussalem, bisa masuk ke wilayahnya sehingga mereka melakukan serangkaian operasi militer, melawan tentara Muslim di sepanjang kawasan Mediterania Timur. Perang ini kerap dilihat sebagai awal kontak yang melahirkan ketegangan, dan sikap permusuhan antara Barat dan Timur. Perbincangan tentang konflik antaragama, terutama agama-agama besar dunia Yahudi, Kristen, dan Islam, seringkali dihubungkan dengan peristiwa perang Salib itu.
Menurut Anne-Marie Edd dari Universitas de Reims, Perang Salib dari sudut pandang Barat telah menghasilkan karya-karya yang begitu kaya, dan melimpah dalam waktu lebih dari satu abad. Sepertinya, studi dan riset tinjauan sejarah perang Salib jauh lebih banyak dilakukan oleh kaum Barat. Di sisi lain, sangat sedikit studi yang mencermati respons kaum Muslim terhadap perang Salib, sehingga tidak heran jika perang Salib lebih banyak dihadirkan secara eropasentris. Sudah lama diyakini bahwa Perang Salib membawa pencerahan besar kepada kaum Eropa Barat, yang dulu bisa dikatakan sangat tertinggal ketika ilmu pengetahuan dan kebudayaan maju pesat di negara-negara Timur Tengah, bahkan meluas hingga ke Barat di Andalusia dan ke Timur di daratan India.
Prof Carole Hillenbrand, guru besar Studi Islam dan bahasa Arab dari Universitas Eidinburgh adalah salah satu penulis yang mencoba mengambil perspektif Islam dari Perang Salib. Dia menulis buku yang berjudul The Crusades: Islamic Perspectives (terjemah dalam Indonesia: Perang Salib, Sudut Pandang Islam). Buku setebal 808 halaman ini menyajikan reaksi kaum Muslim, terhadap tentara Salib dengan menjelaskan konsep jihad saat menghadapi kaum Salib. Dia juga menjelaskan strategi militer, persenjataan, pertempuran laut, benteng-benteng, serta interaksi kaum Muslim dengan kaum Salib tersebut. Buku ini, sebagaimana dikatakan penulisnya, mencoba memasuki alam pikir umat Islam abad pertengahan yang merasakan penderitaan akibat perang Salib, dan berdasarkan sumber-sumber itu, mengungkapkan setidaknya perasaan dan reaksi umat Islam terhadap intervensi Eropa Barat di wilayah dan di dalam kehidupan mereka.
Sikap melihat perang Salib dari sudut pandang Islam, memang sudah seharusnya dilakukan di tengah aroma eropasentrisme yang merebak. Kajian buku ini dimaksudkan untuk memberikan pengimbangan kecenderungan yang eropasentristik itu. Harus diakui, perang Salib adalah cikal bakal hubungan antara Barat dan Timur. Perang Salib telah membentuk persepsi kaum Barat tentang dunia Islam, sebagaimana perang itu juga membentuk pandangan umat Islam terhadap Barat. Perang Salib setidaknya telah mempengaruhi kesadaran kedua belah pihak dalam interaksi selanjutnya. Misalnya ungakapan Crusades dari Presiden George Bush saat menyatakan perang terhadap terorisme. Perang Salib berlangsung selama kurang lebih dua abad (1096-1291). Perang ini terjadi karena adanya penaklukan kota-kota penting dan tempat suci kaum Kristen oleh kaum Muslim seperti Suriah, Asia Kecil, Spanyol, dan Sicilia. Disebut Perang Salib karena kaum Kristen menggunakan Salib sebagai simbol pemersatu.
Secara garis besar, buku ini terbagi menjadi dua bab yakni perang salib timur wilayah laut mediterania, dengan misi merebut kembali Yerussalem, dan juga perang salib di barat atau yang dikenal dengan nama Reconquista, untuk mengusir kaum Muslimin yang telah bermukim dan mendirikan kerajaan disepanjang semenanjung Iberia. Buku ini sendri banyak menguak fakta-fakta yang jarang ditemukan dari penuturan sejarawan eropa, yang kerap kali berat sebelah dan kurang objektif dalam penelusuran sumber sejarahnya.
*Penulis Merupakan Mahasiswa Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) Semester IV.