Oleh : Muhammad Ian Hidayat Anwar
“Ada yang besar tapi bukan bakat”
Kata kata itu mulai viral setelah seorang presenter sepakbola melontarkannya ketika juru kamera mulai menyorot barisan suporter cantik yang bergoyang, dengan semangatnya untuk mendukung tim kebanggaan tercinta berlaga di salah satu ajang terbesar sepakbola Indonesia.
Kali ini penulis tidak akan membahas mengenai permasalahan presenter tersebut yang dianggap seksi. Tapi penulis akan mencoba membahas sesuatu yang besar tapi bukan antara laki-laki dan perempuan saja. Ya, wabah besar yang muncul pada awal tahun 2020an ini menyebar cukup luas dan dianggap meresahkan masyarakat dunia.
Keresahan-keresahan mulai berdatangan tak terbendung, warga dunia khususnya mereka yang tinggal diantara Samudera Hindia dan Atlantik mulai panik bukan kepalang. Contoh peristiwanya ketika masker masker yang seharusnya dipergunakan untuk keperluan orang yang sedang sakit dikuasai, bahkan seperti di rampok oleh mereka yang punya kuasa dalam hal ini dapat untuk keperluan pribadi ataupun bisnis.
Tidak hanya sampai permasalah materil saja
Permasalah formil pun mulai bermunculan
Yang paling dirasakan oleh penulis mengenai format perkuliahan yang semakin tidak jelas.
Perkuliahan yang mulanya dilakukan secara tatap muka kini dilakukan secara daring. Tapi, prilaku tenaga pengajar yang cenderung pragmatis dalam mengajar membuahkan ide setiap pertemuan kuliah masing-masing membebankan tugas pada mahasiswanya. Hal ini memang wajar terjadi dan dianggap solusi terbaik pada saat seperti ini.
Namun, di sisi lain mahasiswa menjadi kerepotan dengan tugas-tugas yang menumpuk dan wajib mereka tuntaskan hingga waktu yang ditentukan. Bak kerja rodi perkuliahan dilakukan tanpa henti dengan menyampingkan jam istirahat, sayangnya mereka tidak dibayar sepeserpun dari hasil kerjanya itu. Kurangnya pemahaman dan sosialisasi yang dilakukan menyebabkan orang-orang cenderung menjadi “cacat”. Cacat informasi sehingga orang orang mulai menjadi panik dan menimbulkan sikap paranoid.
Peristiwa seperti orang yang bersin di keramaian tiba-tiba dijauhi dan dianggap sebagai sumber penyakit menjadi hal lumrah saat ini. Ataupun ketika orang dengan mata yang sipit terlihat agak pucat, lantas perilaku orang-orang di sekitarnya yang menganggap orang tersebut hampir mati karena dianggap terjangkit virus korona, telah menjadi hal lumrah dan cukup lucu terjadi di masyarakat, tapi agak miris memang.
Permasalahan tidak hanya sampai disitu saja.
Sebagai seorang penggemar sepak bola penulis merasakan dampak yang cukup signifikan mengenai wabah korona ini. Kutukan mengenai Liverpool yang tidak akan merasakan juara Liga Inggris mulai terendus, pihak penyelenggara Liga Inggris mulai berargumen untuk menghentikan Liga dengan alasan keamanan dan kesehatan dengan kata lain juara Liga di musim ini ditiadakan. Padahal sampai saat ini Liverpool tampil cukup garang di Liga domestik.
Sungguh malang nasib raksasa Eropa itu, walaupun tidak terserang virus Covid-19 tapi para pendukung Liverpool agaknya harus bertahan melawan penyakit hati ini, ya. Negara pun dalam hal ini pemerintah mencoba menghadirkan solusi. Solusi yang coba dihadirkan pemerintah yaitu dengan melakukan pemeriksaan kepada orang-orang yang dianggap memiliki gejala korona. Pun hal ini dianggap kurang efektif, biaya yang cukup besar serta sentralisasi laboratorium menjadi permasalahan daripada solusi ini.
Direktur Jendral Badan Kesehatan Dunia Tedros Adhanom Ghebreyesus mengkritik penanganan yang dilakukan oleh Indonesia, melalui suratnya meminta pemerintah meminta keterbukaan pemerintah dalam penanganan kasus ini. Demikianlah sebagian keresahan yang penulis rasakan mengenai dampak dari wabah korona ini. Dengan maksud semoga kedepannya sebagai makhluk yang diberikan anugerah untuk berfikir dan sebagainya kita selayaknya dapat menyikapi peristiwa seperti ini secara bijak dan dewasa agar tidak terjadi kepanikan dan huru hara dimana mana.
Juga kedepannya penulis harap kawan kawan pembaca sekalian dapat saling tolong menolong dalam hal kebajikan kepada sesama manusia lain, karena hari ini negara dan segala bentuk kapitalismenya belum menghilangkan sifat egonya bahkan menyampingkan kemanusiaannya. Maka dari itu saling tolong menolonglah dalam kebajikan. Salam…
*Penulis Merupakan Mahasiswa Jurusan Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) Semester IV.











