Kecupan Sang Penyair

Facebook
Twitter
WhatsApp
Dok Pribadi \ Iwan Mazkrib

Pertama-tama
Izinkalah aku melarutkan matamu ke dalam puisi-puisiku, kubuat keningmu menemukan seluruh kecemasanku, kurakit kelamnya isi hatimu yang berlayar ke pundak metaforaku, kutenggelamkan seluruh pikiranmu untuk menyelami dalamnya nafsu kata-kataku, kujebak kebahagiaanmu mencicipi hidangan tetes air matamu, lalu kucaci maki sifat dan janji bau tubuhmu sampai abadi dengan luapan birahi sajak-sajakku, itu jika kau mencumbuiku dengan kebatilan.

Yang kedua dan yang seterusnya
Akan kusemayamkan namamu di setiap lantunan nafasku, kujabarkan gerak gerik ragaku saat menulis bait-bait denyut cintaku padamu, kurapikan rindumu yang kesepian dengan letupan-letupan pertemuan, kuntum surga yang tumbuh di ubun-ubun taman mimpimu akan kusirami dengan benih kasih sayangku padamu. Di setiap waktu, gubuk harapan yang kita bangun akan kupagari dengan do’a-do’a di antara paragraf aksaraku. Halaman depan kamar masa lalumu, akan kutanami dengan bunga-bunga perjuangan yang kita hentakkan bersama, selanjutnya kumekarkan senyummu dengan larik-larik syahduku. Itu jika kau melukis jejak-jejak sejarah kebenaran.

Hei mohon perhatian!
Aku ingin, kita menjadi sibuk. Sibuk membicarakan dengan lantang kegentingan dan kepentingan kenyataan. Tentang aroma takdir manusia yang dibumbui nada-nada kehidupan, tentang nasib penyair yang takut kehilangan sunyi, tentang demonstran yang candu dengan gumpalan tuntutan dan asap-asap perlawanan, tentang sandiwara sepasang kekasih yang saling cumbu di atas kasur peradaban. Tentang masa depan waktu yang bergerak lembut melintasi lekak-lekuk semesta. Tentang kekasihku yang sedang lelap dalam hangatnya pelukan manjaku. Dan tentang cerita tua kelamnya negaraku.

Kalau kita sepakat!
Aku ingin meningkalkan kalimat-kalimat singkat dalam ingatanmu. Jujur saja, sebenarnya aku ingin menghilangkan bahasa kekuasaan yang bermuara dalam kamus besar bahasa kebencian. Agar tiada lagi surat kuasa yang beredar menerpa ruangan belajarku, mengganggu tegukan kopiku dan menghilangkan kenyamananku padamu.

Pemangku amanah yang terhormat!
Akan kusekolahkan keputusanmu di pesantren air mata, agar kebijakanmu mampu memahami derita dengan duka penyesalan. Semoga tanggungjawabmu mengeja setiap tanda protes yang mampir di atas meja kinclongmu.

Dan untuk kau kekasihku
Dengarlah setiap tetesan orasi keringat perjuanganku agar kau tak berpaling dari belaian hangat jiwaku. Apalah daya pertemuan jika kehadiranmu tak mampu meniadakan kesepian, apalah daya jika lisanmu tak mampu menebas jarak dan apalah guna senyummu jika tak lagi menjelma menjadi puisi. Kekasihku, kata-kata harus senantiasa menjalar seirama langka kaki, apapun judulnya kau masih berhak merayakan kecupan syairku.

Seperti Biasa

Aku ingin bercumbu dengan sajak di ingatanmu
Aku ingin melukis puisi cinta kekal di binar matamu
Aku ingin kecupan syairku mendarat di keningmu
Aku ingin menjadi harap tepat di dalam hatimu

Tugasmu hanya satu
Eja namaku di setiap do’a
Agar selamat dalam perjuangan
Termasuk memperjuangkanmu

*Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Hukum Keluarga Islam Fakultas Syariah dan Hukum (FSH).

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami