Tahun Baru: Ajang Pembakaran Uang

Facebook
Twitter
WhatsApp
Dok Pribadi I Nurafni Utami Amir

Oleh: Nurafni Utami Amir

Setelah beberapa hari yang lalu umat islam disibukkan dengan ucapan selamat natal, kini kaum muslim dihadapkan dengan masalah yang sama yaitu perayaan tahun baru 2020. Seperti yang kita ketahui natal memang datang bersamaan dengan tahun baru yang keduanya bukanlah hari raya umat islam. Di setiap kalender tahunan beredar angka berwarna merah sebagai penanda hari libur nasional seperti perayaan tahun baru dan lain-lain.

Lantas bagaimana tanggapan kalian mengenai pesta tahun baru yang disertai dengan pesta kembang api senilai jutaan hingga Rp500 juta? Bukankah uang sebanyak itu lebih baik digunakan untuk hal-hal yang lebih berguna. Relevensinya ada pada dampak sosial dan ekologis yang ditimbulkannya. Sebuah harga yang harus dibayar oleh gaya hidup yang berlebihan. Bukan lagi siapa yang boleh dan tidak boleh merayakannya sebab secara teknis tahun baru masehi itu dinikmati oleh hampir semua umat.

Tak jarang seluruh bagian dunia akan ramai dengan hiasan kembang api di atas langit, pesta di mana-mana ada asap dari hasil bakaran makanan yang akan di makan para masyarakat yang merayakan pesta tahun baru, pesta besar seperti ini sangat jelas membutuhkan biaya besar mulai dari biaya keamanan, konsumsi, penyelenggaraan hingga kemacetan lalu lintas. Bukan lagi sekadar apa yang kita rayakan tetapi cara merayakannya dan siapa yang “menuai.” Hasilnya pesta besar ini harus dibayar dengan biaya sosial dan ekologis yang tinggi. lalu bagaimana dengan masalah lainnya? Jikalau uang yang kita pakai untuk membiayai pesta tahunan ini harus di bayar dengan bencana sosial, itu bukanlah harga yang pantas.

Sangat sulit menemukan alasan rasional ketika kesenangan dalam bunyi petasan adalah sebab kematian bagi mereka yang jantungan. Tingginya angka kematian dan konsumsi tidak hanya mengurangi sejumlah uang dan nyawa tetapi juga membawa masalah bagi lingkungan. Misalnya sampah dan polusi udara akibat pembakaran yang mereka lakukan. Sangat tidak bernilai ketika pesta tahunan ini menjadi ajang pembakaran petasan atau uang, sebab asap kembang api ini mengandung gas carbon dan Carbon Dioksida (CO2). Kandungan ini dapat merusak lapisan ozon dan menimbulkan emisi karbon berbahaya bagi kesehatan semua makhluk yang ada di bumi.

Maka cara kita merayakan tahun baru bukanlah sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan ekosistem kehidupan kita. Bumi sendiri tidak menjamin bahwa manusia sebagai makhluk yang paling berkuasa dapat lolos dari pemusnahan yang akan terjadi di kemudian hari. Pesta tahun baru yang menyisihkan sampah dan polusi udara, jutaan atau bahkan mungkin miliaran petasan yang diledakkan adalah ancaman serius bagi kesehatan lapisan ozon. Oleh karena itu, kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup merupakan tanggung jawab seluruh makhluk yang ada di bumi untuk bersama-sama berkontribusi menjaga kondisi bumi agar tetap layak ditinggali. Sayangi uangmu sayangi bumimu dan nyawamu.

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) semester VII.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami