Kado Milad Dengan Berbagai Polemik Yang Belum Terselesaikan

Facebook
Twitter
WhatsApp
Dok Pribadi I Azwar Asmar

Oleh: Azwar Asmar

Milad ke 54 UIN Alauddin Makassar mencatat berbagai polemik yang belum terselesaikan. Pasca dilantik menjadi Rektor UIN Alauddin Makassar beberapa bulan yang lalu, Prof Hamdan Juhannis telah menahkodai UIN itu sendiri. Dalam beberapa bulan ini, berbagai polemik juga ikut bermunculan mulai dari pelanggaran administrasi hingga pembungkaman demokratisasi.

Pengankatanan jabatan ataupun pimpinan baru di UIN Alauddin Makassar periode kali ini, bisa dikatakan menjadi kado di perayaan milad ke 54 UIN Alauddin Makassar yang menuai berbagi kontroversi. Pasalnya dari berbagai pimpinan mulai dari tataran dekan hingga ketua jurusan maupun sekertaris jurusan itu tidak memenuhi persyaratan.

Rektor UIN Alauddin Prof Hamdan Juhannis nampaknya tak memperhatikan beberapa mekanisme yang menjadi fundamental ataupun hal yang mendasar pada saat menunjuk beberapa pimpinan fakultas. Ada pimpinan fakultas yang kemudian seharusnya tak menduduki jabatan tersebut, dikarenakan administrasi yang tak sesuai pada PMA Nomor 20 tahun 2014 tentang statuta UIN Alauddin Makassar pada pasal 43. Kemudian beberapa poin yang tercantum pada pasal itu dilanggar oleh Rektor yakni pada bagian poin D, E dan F.

Sebut saja Dekan Fakultas Kesehatan dan Ilmu Kedokteran yang sampai hari ini masih menjabat dengan pangkat yang tak sesuai. Juga dugaan Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK)=yang tak pernah menjabat sebagai lektor kepala dan juga beberapa poin. Pada statuta dan juga PMA tersebut, dianggap sudah mengganggu kredibilitas dan kualitas dekan yang menjabat. Terlepas dari pada itu juga beberapa struktur prodi ataupun jurusan yang juga melanggar pengangkatan walaupun sudah ada beberapa yang mengundurkan diri tetapi sampai hari ini belum ada klarifikasi.

Selain dari pada itu, berbagai kado untuk mahasiswa UIN Alauddin Makassar turut mewarnai milad kali ini. Seperti halnya pembatasan kreativitas di dalam kampus yakni jam malam, yang landasan aturan tersebut tak jelas asal muasalnya. Yah, walaupun wakil Rektor III mengatakan itu adalah sebuah penegakan aturan pada buku saku dan juga statuta, tapi jelas itu meresahkan mahasiswa UIN Alauddin Makassar itu sendiri. Saya beranggapan bahwa ketika toh pimpinan hari ini menegakkan aturan maka janganlah juga melanggar aturan seperti yang saya katakan sebelumnya.

Lagu lama kaset baru juga diberikan sebagai kado untuk UIN Alauddin Makassar, diantaranya kasus mangkraknya rumah sakit yang sampai hari ini juga belum selesai, kasus skorsing 19 mahasiswa juga belum selesai dan terpentalnya berbagai polemik UKT semester IX, perkuliahan dengan sistem blok, pelarangan organisasi semester I & II, serta fasilitas kampus ataupun public space.

Saya berharap bahwa berbagai kado milad yang ke 54 kali ini, bisa diadakan konferensi pers untuk menyelesaikan ataupun juga mendengarkan berbagai alasan dari birokrat UIN Alauddin Makassar itu sendiri.

*Penulis merupakan Sekertaris Jendral Dewan Eksekutif Mahasiswa UIN Alauddin Makassar.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami