Semua Akan Bucin pada Waktunya

Facebook
Twitter
WhatsApp
Dok Pribadi I Arya Nur Prianugraha

Oleh: Arya Prianugraha

Dewasa ini, budak cinta atau yang biasa diakronimkan  bucin  adalah kata yang populer di kalangan masyarakat Indonesia, walaupun kata ini hanyalah jenis  kata prokem dan  tidak ada di antara 275 ribu lema  dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi ke lima, namun kata ini tidak kalah populer dari kata lainnya.

Tidak, tulisan ini tidak akan menjelaskan sejarah kata bucin atau apakah kata bucin perlu dimasukkan dalam KBBI ataupun karena penulis pada saat menulis tulisan ini berada dalam kondisi bucin, tapi kalau sekiranya pembaca menuduhkan yang  ke tiga itu juga tidak sepenuhnya salah.

Menurut teori aktualisasi diri Abraham Maslow, ada lima kebutuhan dasar  manusia dan  bersifat hirarki, yaitu: kebutuhan fisiologis, rasa aman, kasih sayang, penghargaan, dan aktualisasi diri. Terori Maslow menjelaskan, setelah kebutuhan fisiologis dan rasa aman terpenuhi dan dimiliki oleh seorang individu (manusia), maka secara alamiah individu tersebut membutuhkan kasih sayang dalam hal ini cinta dari dan terhadap manusia  lainnya.

Sedangkan menurut filsuf  kelahiran Prancis, Jean Paul Sartre berpendapat bahwa pada dasarnya setiap orang memiliki sifat individualisme. Tak peduli latar belakang, usia, jenis kelamin,dan pendidikan. Setiap manusia  bersifat individualitas atau menganggap dirinya adalah subjek (pemegang kendali atas diri sendiri) dan  cenderung melihat manusia yang lain sebagai objek.

Merujuk kepada  kedua tokoh di atas maka kita sampai pada kesimpulan bahwa pada dasarnya manusia memang memerlukan kasih sayang atau cinta, seperti yang dijelaskan maslow pada teori aktualisasi dirinya, di sisi lain menurut Sartre manusia itu bersifat individualitas atau menganggap diri adalah subjek, sedangkan cinta adalah pertemuan antara suatu subjek dan subjek lainnya yang hanya menunggu waktu salah satu subjek berubah menjad objek.

Semisal, ketika kita bertemu seseorang dan saling jatuh cinta, pada dasarnya adalah penjara. Karena kamu berusaha menjadikannya objek bagi dirinya dengan segala tuntutan dan sebaliknya dia juga berusaha menjadikanmu objek dengan segala tuntutan sehingga akhirnya manusia kehilangan eksistensinya aebagai manusia.

Orang yang mencintai pada hakekatnya ingin meniliki dunia orang yang dicintai mengobjekkan dan meminta menyerahkan dunia serta dirinya secara bulat-bulat. Jika kondisi itu terjadi maka satu subjek yang kalah atau telah di dominasi dan sudah menjadi objek maka secara otomatis subjek tersebut sudah terpenjara atau dengan kata lain seunjek tersebut telah manjadi bucin.

Karena kita tidak bisa menafikkan cinta seperti kata maslow dan kita tidak bisa menafikkan dijadikan objek seperti kata sartre, maka saya dengan percaya diri berani berkata bahwa Semua akan bucin pada waktunya.*Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Hukum semester tiga  Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar*

 

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami