Sistem Membungkam Suara Mahasiswa

Facebook
Twitter
WhatsApp
Dok Pribadi : Ahmad Al-Faruq

Oleh : Ahmad Al-Faruq

Akhir-akhir ini sangat sedikit mahasiswa yang gandrung membaca, menulis dan berdiskusi. Padahal ketiganya adalah syarat utama untuk melihat dunia, menganalisa situasi maupun bergerak mengkritisi kekuasaan, birokrasi kampus maupun kebijakan pemerintah negara.

Dalam era demokrasi saat sekarang ini bisa dikatakan hampir punah. Secara Individu, lembaga maupun organisasi, mahasiswa bingung melangkah dan mengkoordinir pergerakan yang bercorak intelek, progresif dan peduli terhadap kehidupan masyarakat dan bangsa.

Hanya segelintir orang mahasiswa yang peduli dengan persoalan sosial kemasyarakatan, politik dan kenegaraan. Ramai justru cenderung mengejar Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi, mahasiswa apatis dan skeptis, pragmatis serta mahasiswa pengejar rupiah lewat orderan demonstrasi, seminar, diskusi, deklarasi dan mendukung kekuasaan yang zalim terhadap masyarakat.

Mahasiswa sudah terlalu lama berada pada era dekadensi dan depolitisasi kekuasaan yang mendegradasi jati diri mereka. Jauh-jauh hari, pemerintah sudah menyadari gerakan mahasiswa sangat berbahaya bagi pembangunan ekonomi. Sifat kritis yang dimiliki, membuat mahasiswa mampu melihat celah cacat dan menantang kebijakan anti rakyat.

Mulai zaman orde baru sampai era  revolusi saat ini, upaya istana mematikan gerak kritik mahasiswa sangat kuat. Dulu mahasiswa dikandang Soeharto lewat kebijakan BKK/NKK. Seluruh kegiatan dan gerakan mahasiswa yang berbau politik dikontrol langsung oleh rektor dan dekan. Kebijakan tersebut praktis menjadikan kampus sebagai lembaga yang bersifat birokratis dan hirarkis. Sebaliknya, corak intelektual mahasiswa yang lebih menekan objektifitas dan ilmiah didegradasi perlahan.

Pergerakan kritis di lingkungan kampus hilang karena juga ditekan secepatnya menyelesaikan studi dari pada peduli dengan perbaikan kehidupan bangsa. Ini sama halnya dengan mahasiswa dikondisikan agar berpengetahuan hanya di alam pikiran tapi tidak untuk diterapkan dalam praktis sosial.

Mahasiswa dikandang paksa tidak ikut campur dalam persoalan politik. Maka dibuatlah sistem pembelajaran basis pemadatan SKS, pemadatan kuliah. Mahasiswa juga dilarang secara langsung dan diancam sanksi jika turut terlibat melawan kebijakan kekuasaan. Mahasiswa dilarang berjuang melawan penindasan. Kampus telah menjadi jeruji besi bagi aktivis.

Apa yang dilakukan pemerintah terhadap mahasiswa di masa lalu  telah menjadi semacam kekerasan simbol yang mengakar kuat di kampus. Kekerasan yang secara turun temurun membuat mahasiswa lupa diri bahwa mereka adalah makhluk intelektual yang bermoral.

Di era Jokowi sekarang kekerasan simbol itu tetap kuat. Nyatanya, intelektual dan moral mahasiswa makin jadi, bisa saja diinjak mati lewat program pembinaan mahasiswa dari istana yang dilaksanakan secara institusional dan taktis. Derita rakyat akibat ulah pemerintah adalah urusan rakyat sendiri.

Di era sekarang mahasiswa diajarkan untuk semakin lupa diri. Dididik menjadi buta dan tuli akan kebenaran. Padahal secara akademik, mereka seharusnya punya pengetahuan tinggi karena diberi pendidikan yang tinggi di perguruan tinggi. Sedangkan dengan berpengetahuan tinggi, seharusnya mahasiswa peka dan berminat dengan masalah yang menyangkut manusia,  yakni masalah moral dan politik.

Seharusnya dengan berpendidikan tinggi membuat mahasiswa mampu membentuk prinsip, pendirian-pendirian moral dan pendirian politik independen yang menjadi modal dasar bagi mereka bebas bergerak melakukan advokasi dan edukasi untuk melindungi masyarakat dari krisis akibat kebijakan pemerintah.

Banyak mahasiswa yang sudah lupa bahwa mereka adalah bagian dari masyarakat. Mereka tidak boleh bersikap pasif dan membiarkan kehidupan bermasyarakat sepenuhnya diatur dan dikendalikan oleh kekuasaan. Atau malah mendukung kekuasaan bertindak sesuka mereka dengan jabatan yang dimiliki. Mahasiswa punya kewajiban turut serta bertanggung jawab terhadap perbaikan hidup bangsa.

Sadarlah wahai mahasiswa karna kalian memikul kewajiban intelektual dan moral. Dengan kemampuan akademik, kalian wajib tampil menganalisa dan menguji kebenaran. Jika diam melihat kejahatan meruntuhkan kehidupan masyarakat, sama halnya dengan mengkhianati nilai dasar kemanusiaan yang dimiliki mahasiswa sebagai makhluk intelektual yang bermoral. Sungguh sangat menyedihkan dan tidak tau diri.

* Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi Semester VII.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami