Oleh: Iwan Mazkrib
Adakah yang keliru,
Ketika yang Maha Kudus dibayangkan hadir sebagai tidak semata kalam,
Yang mengalir lirih dari senyap ke bunyi,
Bunyi ke aksara, dari aksara menyusur pada sebatang anak sungai literasi yang beku,
Lalu dikukuhkan dalam Kitab? (Mohd. Sabri AR, 2013)
Menaruh harap yang dalam kepada yang Maha Tunggal, demikianlah juga suatu tradisi nubuat merupakan kisah yang aneka dalam menghiasi kehidupan manusia. Setiap peristiwa mestinya menjadi renungan para pemimpi agar tidak terjajah kebingungan, terkadang pun kebingungan telah meningalkan kesepian.
Kita telah melewati bulan kemerdekaan yang ke-74 tahun, bukan berarti hawa dan bau tentang kemerdekaan masih hangat dibicarakan. Dalam pelaksanaannya di mana rakyat Indonesia di seluruh penjuru telah merayakan tujuh belasan dengan caranya masing-masing. Kemerdekaan memang unik, sebab manusia dijebak untuk merayakannya bukan hanya dengan seremonial menyanyikan lagu-lagu kebangsaan saja, melainkan juga ada yang merayakannya dengan senyum bangga dan besar hati, tawa yang dihiasi dengan hiburan lomba panjat pinang dan segala macam permainan, kritikan pedas, kebahagiaan palsu, perkelahian hingga berujung pada kerusuhan yang dihiasi dengan air mata dan darah.
Kita mestinya tak menutup mata, telinga dan kepedulian kita dalam menyaksikan letupan-letupan isu yang beredar diberbagai media, tentang isu penyerangan Asrama Mahasiswa Papua diberbagai kota-kota besar yang ada di Indonesia seperti di Surabaya dan Malang. Hal demikian terjadi dan bermula dengan alasan bahwasanya telah ditemukan kain bendera pusaka di selokan (tempat yang tak semestinya) tepat di depan Asrama Mahasiswa Papua. Gelora dan amarah para aparat negara TNI, Polisi, Pol PP dan Ormas kini berakhir pada kerusuhan dan kerusakan (Rasisme). Kejadian demikian mendapatkan respon yang serupa, perlawanan dalam hal ini “membinatangkan manusian dan memanusiakan binatang.”
Miris!!! Terindikasi, bahwa manusia masa kini telah menjebak diri dengan candu kekerasan. Lantas bagaimana dengan isu pemindahan ibu kota? Serta kepanikan-kepanikan lainya yang mampu merusak peradaban negeri ini?
Entahlah!!! Benar atau tidaknya (hoax) isu tersebut itu juga merupakan salah satu bentuk perayaan kemerdekaan bagi rakyat Indonesia. Lalu siapa yang salah? Yang salah adalah ketika kita tidak lagi peduli dengan kondisi kemanusiaan.
Nah, begitulah kemerdekaan! Setelahnya bendera dan umbul-umbul yang menyala di sepanjang jalan dan rumah-rumah pun akan kembali dilipat dan disurukkan ke dalam laci lemari. Seperti membenamkan segala kenangan dan semangat kemerdekaan ke lubuk hati yang paling dalam. Tentu saja dengan penuh harap bahwa di bulan Agustus berikutnya, bendera dan segala macam peristiwa akan dikibarkan kembali dengan nuansa yang berbeda.
Setiap peristiwa tentunya akan terekam oleh waktu bahwa setiap kehidupan sosial dan budaya manusia akan tercantum dalam literasi sejarah. Kenapa tidak? Segala peristiwa yang lahir juga merupakan benturan cinta dari setiap penganutnya. Tanpa cinta, segala perbuatan tak akan dihitung pada masanya. (Jaluluddin Rumi)
Kecintaan manusia terhadap sesuatu juga merupakan kemerdekaan bagi setiap individu. Tapi bagaimana jika kita membicarakan cinta yang dibaluti kebersamaan? Jika cinta kepada Negara Indonesia hanya lahir pada tiap kepentingan kelompok saja, maka perayaan kemerdekaan adalah perayaan kelompok semu. Sebab mereka hanya merayakan kemerdekaannya dari penjajah asing dan melupakan penderitaannya akibat ketiadaannya kemerdekaan pada bangsa sendiri. Lantas kapan individu-individu rakyat itu akan merayakan kemerdekaannya sendiri? Mungkin saat di toilet!
Kemerdekaan itu adalah nasi
Dimakan jadi tai. (Widji Tukul)
Lalu, bagaimanakah kemerdekaan itu? Apakah anda merasa baik-baik saja membaca literasi kemerdekaan? Dari senyap ke bunyi, bunyi ke aksara, aksara menyusup dan mengalir ke sungai literasi, aksara yang rapi menuliskan kata kemerdekaan, lalu dikukuhkan dalam sejarah, kemerdekaan nyenyak dalam tidur, sembari mengeja mimpi. Ya, di negeri ini, di bulan Agustus adalah waktu yang paling syahdu membicarakan tentang kemerdekaan. Namun memasuki September ternyata disuguhkan pula dengan berbagai jenis kecongkakan persoalan. Semisal perubahan RUU Pertanahan, Calon Anggota Dewan yang akan dilantik berkasus hukum, kenaikan Iuran BPJS, dan perubahan UU KPK serta masih banyak lagi keunikan-keunikan di negeri merdeka ini.
Sederhana saja, jika kemerdekaan hanya dibicarakan di bulan Agustus. Maka di bulan-bulan yang lain adalah merindukan kemerdekaan. Sebab kemerdekaan mengandung, keadilan, kesejahteraan, kemanusiaan, keindahan dan semua orang berhak merayakan kebahagiaan. Menerkalah setiap saat, sebab kemerdekaan masih mengeja mimpi. Jika sandiwara lebih asyik daripada derita, maka Merdekalah memahami derita dengan sandiwara!!!
*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Peradilan Agama Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) semester XI.











