Dunia Kampus, Dunia (Kuli)ah

Facebook
Twitter
WhatsApp
Dok Pribadi I Alifya Budi Karelita

Oleh: Alifya Budi Karelita

Dunia kampus memang beragam. Ada banyak warna di dalamnya. Tak pelak, untuk ukuran mereka-mereka yang baru saja keluar dari gerbang ‘seragam’nya. Melihat dunia ini tentu dengan ekspektasi yang cukup tinggi. Mulai dari hal paling mendasar dalam menuntut ilmu selama 12 tahun berturut-turut (re: pakaian), bayangan hidup ‘bebas’ dengan tinggal jauh dari orangtua (re: mandiri), atau mungkin romansa percintaan dengan frame yang berbeda.

Namun, dunia kampus tidak sesederhana tampilannya. Tidak sependek cerita kederangannya. Kampus adalah kampus. Di mana banyak ‘maha’ di dalamnya. Maha pemikir, maha pekerja, maha pergaulan, maha akademis, hingga maha-maha lainnya. Terlalu banyak pasang-surut, tinggi-rendah, mulus-terjal apapun itu.

Tak usah jauh-jauh. Sebelum kaki menginjakkan halaman kampus. Pundak sudah berat lebih dahulu sebab orang-orang di kampung seringnya berstigma, ‘anak kuliah itu pinter, banyak uang, sudah pasti sukses’. Alhasil secara naluriah, ketika si anak kembali ke kampung (re: libur semester) akan disambut dengan wajah girang dan merekah.

Awalnya mungkin si anak juga merasa bangga sama seperti mereka. Dielukan, ‘dilihat’ berbeda dengan anak kebanyakan. Katanya, mereka kuliah sudah pasti pintar, jago. Itu dulu. Sebelum benar-benar mengetahui bagaimana lika-liku hidup di kampus. Dosen yang ramah dan baik, kakak tingkat yang peduli, teman baru yang asik. Wah, menyenangkan sekali.

Alah, awal masuk mungkin seperti itu. Semuanya berjalan apik. Namun, seberes beberapa semester. Banyak hal berubah. Pemikiran, tingkah laku, tutur kata. Semuanya berubah. Bagaimana bisa? Bisa saja! Kenapa tidak?! Perubahan yang terjadi bisa baik bisa pula buruk. Tergantung sefrekuensi dengan individu yang seperti apa dan ikut circle yang bagaimana.

Belum lagi kalau bertemu dengan dosen-dosen yang manis seperti gula batu berubah menjadi dosen killer bikin jiwa disko-disko. Tugas yang kian lama bikin pening, sesak terus tepar. Lengkap sudah derita mahasiswa. Ditambah lagi punya temen-temen yang cerdasnya ngalahin kancil. Apalah daya kalau punya otak ala kadarnya.

Masih mending kalau anak holka (holang kaya) apa-apa mudah. Lah? Kalau anaknya pas-pasan, gimana? Mumet kepala semumet-mumetnya. Coba aja pikir uang kuliah yang tidak murah (meskipun sudah disubsidi, lebih-lebih ikut daftar beasiswa yang notabene bakalan ‘ditendang’ karena tidak ada orang dalam), tugas yang numpuk (mending kalau tidak pakai biaya cuman otak dipakai). Ini belum termasuk kalau ikut teman pergaulan yang bikin nyekik leher dan dompet. Siap-siap makan sebungkus indomie dibagi dua siang dan malam di akhir bulan. Miris. Miris.

Sedrama-dramanya dunia kampus. Tetaplah menjadi orang yang berintegritas. Jangan ambil pusing omongan orang. Jangan mudah terbawa arus. Harus punya prinsip. Sama halnya pepatah Cina Kuno, “Seorang bijak membuat keputusan sendiri, orang bodoh mengikuti opini publik.”

Nah, Karena sudah menyabet predikat mahasiswa. Sudah pasti filter harus siap dan tangkas dalam segala sektor. Selamat datang di dunia kampus, dunia (kuli)ah.

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) semester V.

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Tabloid Edisi 122: KIP Kuliah Marak Calo

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami