Oleh : Andi Wahid Fadjeri
Jika kita ditanya apa itu siri’? hampir semua orang bisa menjawab bahwa siri’ itu rasa malu, bahkan biasa kita mendengar ungkapan masiri’ siri’ka’ (saya malu-malu), atau tena siri’na/de’gaga siri’na (tidak punya malu) ini pengertian sederhana tentang siri’.
Tetapi jika kita kaji pengertian siri’ dalam bahasa Bugis/Makassar bermakna harga diri, jantung adat, etos kerja, etos budaya Sulawesi Selatan, bahkan manusia yang berasal dari kawasan Sulawesi Selatan yang faham makna siri’ sangat menjunjung tinggi fungsi siri’ dalam kehidupannya bermasyarakat.
Dalam buku yang berjudul “Siri’ Kearifan Budaya Sul-Sel” rangkuman dari makalah pakar, budayawan Sul-Sel dan Malaysia. Di buku ini ada ungkapan masyarakat Bugis Makassar yang berbunyi;
Hanya untuk siri’ kita hidup di dunia
Aku setia kapada adat
Karena dijaganya siri’ kita
Adapun siri’ jiwa imbalannya
Nyawa taruhannya
Ungkapan di atas menunjukkan bahwa siri’ di mata masyarakat Bugis Makassar adalah motor penggerak, sumber inspirasi, untuk mengembangkan kreatifitas, untuk memperkuat daya juang dalam menghadapi tantangan hidup, sehingga ketika ditanya apa etos orang-orang Bugis Makassar jawabanya adalah siri’, tetapi siri’ disini bukan bermakna gengsi.
Apabila manusia menjaga siri’nya (malu) dalam bermasyarakat atau bergaul tentulah dia tidak akan terpeleset kepada hal-hal yang bisa membuatnya malu di hadapan Tuhan, dihadapan keluarga dan dihadapan orang-orang sekitarnya karena disini terkandung nilai kejujuran, selalu jujur kepada hati kecilnya, selalu jujur kepada penciptanya, dan selalu jujur kepada manusia lain dengan didasari perasaan rendah hati.
Dalam agama Nabi Muhammad saw., pernah mengingatkan bahwa malu adalah bagian dari iman. Artinya kita malu melanggar perintah agama dan malu mengerjakan larangan agama.
Sebagai manusia Bugis Makassar dalam menegakkan siri’ kita perlu menunjukkan sikap kesatria dengan cara-cara yang terhormat, tidak seperti korek api yang punya kepala tapi tidak punya akal sehingga sedikit ada gesekan maka korek api akan panas, ini karena korek api punya kepala tapi tidak punya akal. Ini bukan bagian dari menegakkan siri’. Menegakkan siri’ disini misalnya pemudi harusnya malu menampakkan auratnya di mata laki-laki yang bukan muhrimnya, pelajar di sekolah malu karena selalu datang terlambat, malu karena lingkunganya kotor (rantasa), dan yang tak kalah penting kita malu karena tidak berbakti kepada orang tua dan guru-guru kita, dan tentunya malu karena tidak menjalankan perintah agama.
Dalam buku Tasawuf Modern karya Buya Hamka (Haji Abdul Karim Amrullah) Ulama Tasawuf, beliau tuliskan bahwa ada 3 sifat yang akan muncul karena beragama.
- Rasa Malu
- Amanah
- Siddiq (jujur)
Sangat besar pengaruh perasaan malu di dalam mengatur pergaulan hidup karena malu akan menjauhkan orang berakal melakukan perbuatan jahat seperti korupsi, mencuri, begal dan kejahatan-kejahatan lain. Sebelum orang-orang menggunakan UUD lebih dahulu orang-orang diatur dengan hukum malu yang diatur dalam budi pekerti seperti malu merusak lingkungan sekitar karena bisa mendatangkan bencana banjir dan musibah-musibah yang lain.
Dari malu muncullah perasaan mempertahankan diri, mempertahankan Bangsa, Negeri dan Agama. Dari malu memunculkan kemajuan pesat mencari kehormatan dan kemuliaan dihadapan pencipta, dihadapan keluarga, dan dihadapan manusia lain dalam lapangan kehidupan.
* Penulis merupakan alumnus UIN Alauddin Makassar Angkatan 2008.











