Penghancuran Buku, Kaum Elit atau Kaum Vandal?

Facebook
Twitter
WhatsApp
Dok Pribadi | Muh Akbar Hamzah

Oleh : Muh Akbar Hamzah

Fenomena peredaran buku yang berpaham marxisme dan leninisme yang di kumpulkan organisasi Brigade Muslim Indonesia untuk dikembalikan ke penerbitnya. Tepatnya, di Gramedia yang ada di Makasssar, pada tanggal 4 Agustus 2019.

Tentu kita harus bertanya yang di tolak adalah apanya? Jika yang di tolak pemikiran dalam buku itu maka bantahlah juga melalui pemikiran? Saya teringat bahwa antara Ir Soekarno dan Natsir yang saling membantah melalui media Majalah Panji Islam dan Al Mannar. Perdebatan ini yang saya maksud bermoral di bandingkan pembredelan dan razia buku yang baru di duga berpaham marxisme dan leninisme.

Jangan lupa, buku yang berjudul, Penghancuran Buku dari Masa ke Masa karya Fernando Baes, bahwa pelaku penghancuran buku adalah orang-orang vandal dan barbar. Budaya penghancuran buku, ada pesan kemanusian di dalamnya. Jangan-jangan pelaku pembredelan buku baru-baru ini, seperti dalam kata pengantar buku Fernando Baes adalah orang yang vandal dan barbar?

Ibnu Taimiyah pada masanya, ia membingungkan teman dan musuhnya. Para pencelahnya menuduhnya gila dan ia merana meninggal dalam penjara dan tidak jarang dipukuli, tapi ia menikmatinya. Al-Jahiz yang argumen-argumennya dalam mempertahankan dan membela perempuan bisa membuat siapapun terpikat. Tapi dimana buku-bukunya sekarang? An-Nasa’i seorang pengumpul hadis, ia disiksa karena menolak memuji Muawiyah melalui buku-bukunya, tidak lama ia meninggal dunia. Abu Hanifah yang menolak bersekutu dengan penguasa, akibatnya ia di penjarakan dan disiksa sampai meninggal dunia di balik jeruji besi. Jangan-jangan yang disita bukunya adalah orang yang tak mau bersekutu dengan penguasa rezim sekarang ini, seperti kasus Abu Hanifah?

Ibnu Rusyd mengalami pencelaan dan musuhnya menuduhnya bidah dan plagiarisme, ketika sedang shalat dengan anaknya di suatu mesjid, ia diseret ke pengadilan. Ibnu Rusyd menjelaskan dengan menakjubkan atas setiap karyanya, sampai-sampai orang-orang pada saat itu tak dapat membantahnya. Namun kedengkian dan pengkhianatan tidak juga mati. Buku filsafat di bakar, studi ilmu itu di haramkan dan Ibnu Rusyd di asingkan, sampai meninggal menghadap yang ia cintai. Kisah ini ada di novel perpustakaan kelamin.

Sekiranya bisa, buku-buku itu dijelaskan secara akademis untuk menguji apa yang dituduhkan, lebih baik dibandingkan pekerjaan vandal dan barbar seperti fenomena yang kita sama-sama saksikan. Dan jika tidak, maka bantahlah dengan buah pemikiran sendiri untuk kita tidak mengimani buku kiri yang kalian anggap bertentangan dengan Pancasila.

Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Hukum Pidana dan Ketatanegaraan Fakultas Syariah dan Hukum Semester VI.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami