Mahasiswa Baru yang (Tidak) Baru dalam Berpikir

Facebook
Twitter
WhatsApp
Eks Ketua Dema Universitas UIN Alauddin Makassar, Askar Nur.

(Telaah Fenomena Tes Kesehatan bagi Mahasiswa Baru di Kampus)

Oleh: Askar Nur

Perayaan kedatangan dan kepergiaan selalu menjadi rona tersendiri dalam siklus kehidupan manusia. Seperti halnya pula dalam dunia pendidikan khususnya perguruan tinggi yang identik dengan kehidupan ber-mahasiswa. Setiap tahun ada yang ‘pergi’ dan ‘datang, yang ‘pergi’ adalah mereka yang meninggalkan status mahasiswanya dan menyelesaikan studinya (Wisuda) sedangkan mereka yang ‘datang’ adalah mereka yang menambahkan kata “Maha” di depan gelar lamanya, “Siswa”. Siklus kepergian dan kedatangan dalam arena perguruan tinggi merupakan sebuah perhelatan yang acapkali diwarnai dengan perasaan suka dan duka, pergi dari ruang yang telah ditempati selama beberapa tahun menimbulkan perasaan campur aduk menjelma rintihan tersendiri. Kiranya seperti itu yang dirasakan beberapa manusia khususnya bagi mereka yang memutuskan meninggalkan tanah kelahiran untuk pertama kalinya menuju perantauan di kota atas nama pencarian jati diri melalui medium pendidikan.

Fenomena kedatangan para calon ‘manusia’ (Jika kita bersepakat, ruang pendidikan sebagai arena penciptaan manusia) akan menjadi pemandangan baru di kampus selama beberapa waktu. Pakaian rapi dan serba baru serta raut wajah lugu memadati antrian di depan tempat penerimaan mahasiswa baru. Semuanya dijalani dengan ikhlas demi harapan besar agar bisa merasakan atmosfir menjadi ‘anak kuliahan’ atau mahasiswa bahkan apapun yang diinstruksikan tanpa banyak tanya, mereka spontan menjalani semuanya apalagi instruksi itu berasal dari kelompok orang yang menurut mereka adalah orang yang patut untuk diikuti, sekelompok orang yang memiliki modal simbolik, sosial dan budaya yang mapan. Hal demikian pernah kita rasakan dengan pandangan yang sama, bahwa mereka yang telah memiliki ‘gelar’ di belakang namanya adalah orang yang patut untuk diikuti karena mereka adalah orang-orang yang sukses (Dalam artian kesuksesan materi yang mumpuni) namun setelah mengetahui semuanya, kita bersepakat untuk menertawai diri masing-masing bahwa kita pernah melakukan tindakan unik nan menggelitik.

Rasanya perlu kita berterima kasih atas beberapa risalah yang pernah bersarang dalam benak kita baik dari kakak angkatan maupun orang-orang yang hanya untuk menemui dan memberinya berkas-berkas yang telah kita selesaikan dengan begitu berat namun itu semua bukan merupakan sebuah permasalahan yang terpenting saat itu adalah harapan kita untuk kuliah terpenuhi, kita rela berada dalam antrian panjang di bawah terik matahari yang membakar kulit muda yang masih menebar aroma pedesaan (Bagi kita yang dari desa). Berkat mereka, hari ini kita bisa bercerita tentang sebuah kisah yang kerapkali mengundang tawa dan menyadari bahwa dulu kita pernah berada di bawah payung kehidupan yang sama, kehidupan yang begitu lugu, kehidupan yang ‘kocak’ hingga sampai hari ini kehidupan itu masih tetap hidup kala melihat mereka yang hadir hari ini. Jika membahas kisah masa lalu saat pertama kali menginderai yang namanya kampus, mungkin saja dalam pembahasannya sangat susah untuk memberinya titik dan ruang untuk mengulasnya bukan merupakan niatan dari tulisan ini meskipun di atas sedikit mengulas tentang itu namun itu hanyalah sedikit refleksi. Ulasan mengenai kisah kasih dalam dunia kampus akan menjadi pembahasan khusus di kolom Microsoft Word selanjutnya. Itu merupakan semacam janji sebuah perjalanan kepada kehidupan untuk diabadikan bukan hanya hidup abadi dalam memori namun perlu diterjemahkan dalam bentuk lembaran-lembaran yang akan selalu tersimpan karena yang tertulis akan selalu mengabadi, yang terucap dan terpikir akan berlalu bersama angin.

Kehidupan kampus merupakan serangkaian perjalanan menuju pendewasaan diri. Kampus sebagai lingkungan yang ramah untuk proses belajar-mengajar untuk pencapaian asa sebagai manusia dan cita sebagai manusia yang memanusiakan, kiranya itulah sebuah gagasan ideal lahirnya kampus. Kampus seperti versi definisi di atas, sangat menyejukkan bukan? Kendati demikian jika bumi beserta kroni-kroninya berjalan di atas nilai dan praksis atas definisi maka tentu akan lebih menyejukkan lagi. Sebaliknya, jika sebuah definisi atau deskripsi hanya hidup dalam teks dan akumulasi pikiran namun ‘alergi’ dengan praksis di kenyataan. Sungguh, itu sangat menyakitkan bukan? Tapi mungkin tidak sesakit dengan konstruksi wacana kaum kekinian “ditinggalkan oleh sang pujaan pas lagi sayang-sayangnya”, sedikit bualan namun itu kenyataannya malahan banyak di antara mereka yang sampai mencoba memisahkan jiwa dan raganya secara terpaksa (bunuh diri). Mereka adalah para korban dari ‘redaksi kata menyejukkan’ namun kurang relevan adanya di dalam kenyataan, antara kehidupan word dan world  terdapat serangkaian black hope di tubuh word yang sangat menyakitkan bagi world. Bukan ‘kata’ yang keliru melainkan para penggunanya yang kurang mencintainya layaknya seorang pembaca buku yang hanya sekedar membaca sinopsis buku tersebut dan kemudian menarik sebuah kesimpulan tanpa menjelajahi halaman demi halaman, merasakan aroma kata demi kata, dialektika redaksi demi redaksi hingga bertumbuh menjadi sebuah dunia kecil dengan segala polemiknya berbentuk buku. Terlalu puitis dan metaforis kalimat-kalimat di atas, bukan? Iyalah, kita kan anak sastra (sebuah fenomena yang kerap menjadi identitas tersendiri bagi mahasiswa jurusan sastra), dengan entengnya mengklaim diri seperti itu. Bahasa sastra memang kerapkali memantik emosi pendengarnya bahkan mempengaruhi psikologi lawan bicaranya melalui alunan kata-kata merdu namun sastra dan sastrawan yang sebenarnya bukan hanya menggerakkan seseorang melalui pantikan semangat untuk bergerak tanpa sebuah landasan ideologis, bagi Pram seorang pengarang atau sastrawan bukan hanya mengutarakan kata-kata manis dan menghadirkan tulisan-tulisan penghibur semata melainkan mereka, para sastrawan, menjadi pemberontak ulung yang melawan ketidakadilan terhadap manusia dan kemanusiaannya melalui tulisannya. Sekali lagi, kita janganlah cepat terpengaruh dengan kata-kata merdu nan manis yang membuyarkan konsentrasi perasaan tanpa ada dialog pada rasa karena yang manis di kata-kata belum tentu manis di dalam kenyataan.

Serangkaian cerita usang yang terus tereproduksi dari masa ke masa yang mewarnai khazanah penerimaan mahasiswa baru di berbagai kampus khususnya yang sedang ditempati belajar oleh si tukang oceh dalam tulisan ini, lagi dan lagi si tukang oceh versi kitab KBBI adalah orang yang berkata-kata yang bukan-bukan. Semoga saja yang dikatakan KBBI benar adanya sehingga tidak terjadi proses ‘pembawaan’ perasaan yang mendalam di antara kita. Salah satu cerita usang yang sekaligus banyak oran  g merasakan keresahan, sebuah cerita yang berlatar ‘finansial’. Tentunya masalah yang satu ini seringkali jadi buah mulut. Dalam hal pengurusan persyaratan-persyaratan untuk menjadi mahasiswa misalnya, sebuah keniscayaan kesabaran dan ‘isi’ dompet kerapkali menghadapi ujian-ujian hidup. Kesabaran bagi calon mahasiswa baru dituntut demi terselenggaranya pengurusan berkas yang ber-integrasi yang lumayan banyak itu, harus siap siaga diinstruksikan kemanapun dan kapapun demi kelancaran pengurusan berkas dan tak lupa pula ‘isi’ dompet harus selalu menemani karena pada dasarnya konstruksi kehidupan dewasa ini merujuk pada gagasan “tidak ada yang gratis” dan memang itulah kebenarannya. Dunia acapkali diinderai ‘jahat’ bagi mereka yang tidak seberuntung ‘mereka’ (menunjuk pada mesin pendingin ruangan. Sebuah sistem tanda yang menginterpretasikan kemewahan kehidupan manusia atau yang akrab kita sapa Semiotika) dan memang begitulah adanya. Adagium ‘tak kenal maka tak sayang’ seolah sering diterjemahkan dalam realitas ‘tak ber-uang maka kita kadang tak saling mengenal apalagi saling menyayangi’. Yah, ini pandangan subjektivitas pengoceh.

Menjadi orang-orang yang berpegang teguh pada nilai kesabaran utamanya kepada para mahasiswa baru tentu memiliki tantangan dan konsekuensi masing-masing. Kita belajar banyak dari kisah Jenny, istri dari Marx, ia tetap sabar menghadapi Marx yang kerapkali meninggalkan rumah dan lebih memilih perpustakaan hingga suatu hari pasca Marx membaca buku di perpustakaan, ia berdiskusi dengan rekan-rekannya yang kemudian berakhir pada pesta perayaan, minuman beralkohol yang oleh Plato membahasakannya dalam artian harfiah sebagai Symposium yakni pesta minum-minum bersama untuk merayakan sesuatu. Marx kala itu terbawa pengaruh alkohol hingga terjerumus pada kehidupan yang mungkin saja perempuan yang menjadi istri sah dari Marx saat itu akan mengamuk hingga memutuskan untuk bercerai, Marx tertangkap ‘basah’ main serong dengan perempuan lain di depan mata istrinya sendiri, Jenny. Namun bagaimana respon Jenny? Pastinya kita akan berpikiran seperti perempuan kebanyakan (kalaupun tidak ingin menyebut semuanya) dan melakukan sebuah tindakan  yang mungkin saja wajar dilakukan yakni perceraian. Namun hal demikian tidak berlaku pada Jenny, ia hanya merasa marah dalam diri namun tidak memunculkannya di hadapan Marx, ia memaklumi hal demikian dengan alasan bahwa Marx melakukan itu bukan karena murni kesadarannya melainkan menggunakan kesadaran yang dikonstruksi oleh alkohol. Hingga akhirnya hubungan mereka berdua tetap berjalan lancar sampai akhirnya Marx menyelesaikan Das Kapitalnya yang berjilid dan Jenny tetap berada disampingnya.

Kesabaran yang dipertontonkan oleh Marx dan Jenny kiranya menjadi sebuah barometer untuk para mahasiswa baru. Namun situasi dan kondisi yang dihadapi mahasiswa baru tentunya berbeda dengan sikon Marx dan Jenny kala itu. Jenny mampu bersabar dengan alasan yang masuk akal baginya dan sebenarnya begitupula kebenarannya, Marx melakukan itu bukan karena kemauannya sendiri melainkan pengaruh alkohol yang berlebihan. Kesabaran boleh-boleh saja tetap dijunjung tinggi selama memiliki muatan ideologis dan masuk akal. Misalnya kesabaran seorang mahasiswa baru terhadap ‘isi’ dompetnya yang selalu keluar seiring perjalanan pengurusan berkas, tidak menjadi sebuah permasalahan selama itu masuk akal. Seperti membeli materai 6000, foto copy dan print berkas yang dibutuhkan di toko ATK. Semua itu bisa dikategorikan sebagai sesuatu yang masuk akal karena outputnya jelas dan transparan tentunya.

Kisah lain datang dari sudut yang berbeda dan masih menyangkut prosesi penerimaan mahasiswa baru. Sebuah fenomena yang terus tereproduksi dalam arena kampus yang menurut Pengoceh sendiri masih kurang jelas dari segi baik pelaksanaannya maupun outputnya, sebut saja tradisi Tes Kesehatan yang diwajibkan oleh seluruh mahasiswa baru yang digelar pada saat mahasiswa tersebut telah dinyatakan lulus dari ujian pada jalur masuk yang diikuti dan sedang menjalani proses pendaftaran ulang. Dalam selebaran persyaratan pendaftaran ulang yang diterima oleh mahasiswa baru, tes kesehatan merupakan salah satu poin dari beberapa poin persyaratan yang diwajibkan. Tradisi tes kesehatan bukan kali pertama digelar di tahun ajaran saat ini namun terhitung dari tahun ajaran 2013 sampai sekarang atau lebih tepatnya saat pertama kali sistem pembayaran uang kuliah berubah dari SPP menjadi UKT-BKT pada bulan September 2013 atau saat mahasiswa angkatan 2013 memasuki semester 2 (seingat Pengoceh). Meskipun sebenarnya, pelaksanaan tes kesehatan wajib dijalani oleh mahasiswa baru dengan alasan-alasan tertentu, misalnya seorang mahasiswa baru yang terindikasi memakai obat-obat terlarang sehingga diputuskan untuk memberikan waktu menjalani masa rehabilitasi di tempat tertentu dikarenakan ketakutan bahwa ia akan tetap memakai obat-obat tersebut setelah menjalani proses perkuliahan di kampus, tentunya itu akan membawa efek tersendiri bagi pelaksanaan proses belajar-mengajar di kampus. Kendati demikian, pelaksanaan tes kesehatan menurut hemat pengoceh idealnya dilakukan pada saat sebelum menjalani tes ujian masuk agar supaya mereka yang dinilai terganggu dari segi kesehatan diberikan masa perbaikan seperti contoh di atas dan belum diperkenankan untuk mendaftar mengikuti ujian. Itu sebagai pola antisipasi ‘kekecewaan’ di kemudian hari karena jangan sampai (hanya unsur praduga) seorang mahasiswa baru yang telah dinyatakan lulus tes ujian dan dalam proses menjalani tes kesehatan, ternyata si mahasiswa tersebut misalnya mengidap penyakit yang kontra terhadap jurusan yang ia tempati lulus sehingga poin persyaratan pendaftaran ulang dari segi tes kesehatan dinyatakan tidak lulus dan harus mengurungkan niatnya untuk merasakan dunia kampus. Selain dari pada kerugian yang berbuah kekecewaan tersendiri, juga membawa kerugian lain pada wilayah ‘isi’ dompet yakni biaya mengikuti tes ujian.

Selanjutnya, pelaksanaan tes kesehatan yang menyentuh pada biaya tesnya. Dari tahun 2013 sampai saat ini, biaya tes kesehatan selalu mengalami perubahan (naik-turun tapi mayoritas naiknya). Tahun 2015 berdasarkan pernyataan mahasiswa 2015 yang terekam dalam pendiskusian, menyebutkan nominal biaya tes kesehatan sebanyak Rp. 85.000,- untuk biaya tes kesehatan itu sendiri selain dari pada ‘biaya-biaya’ lainnya yang masih seputaran tes kesehatan. Tahun 2017 dan 2018, ada dua sumber data yang ditemukan, ada yang mengatakan bahwa biaya tes kesehatan mahasiswa baru 2017 lalu sejumlah Rp. 120.000,- dan ada pula yang mengatakan lebih daripada itu. Asumsinya seperti tahun 2015 yang memiliki biaya yang masuk kategori ‘lainnya’. Mahasiswa baru 2018 pun seperti itu, ada yang mengatakan biayanya Rp. 100.000 dan ada pula yang menyatakan lebih dari pada itu. Sedangkan untuk biaya tes kesehatan khusus mahasiswa baru 2019 sejumlah Rp. 120.000, sesuai hasil pendiskusian dengan beberapa mahasiswa baru yang telah menjalani tes kesehatan di jalur tertentu.

Sampai di sini, kita bisa menelaah secara bersama persoalan biaya tes kesehatan dari beberapa segi. Pertama dari segi biaya yang harus dikeluarkan mahasiswa baru untuk tes kesehatan berdasarkan tinjauan sistem UKT-BKT, kita ketahui secara bersama bahwasanya UKT merupakan biaya yang harus dikeluarkan oleh mahasiswa setiap semesternya berdasarkan kemampuan ekonominya dan dibayar secara tunggal, artinya pembayaran UKT sudah mengakomodir segala sesuatu yang dibutuhkan selama satu semester dan tidak ada lagi pembayaran lainnya. Logika sederhananya, mahasiswa baru 2019 merupakan mahasiswa yang tergolong menjalani sistem UKT-BKT sehingga ia hanya dikenakan pembayaran satu kali yakni UKTnya dan tidak ada lagi pembayaran lainnya sesuai aturan main UKT-BKT. Aturan tersebut bisa kita simak pada Permenristekdikti No. 39 tahun 2017 tentang UKT-BKT pada pasal 6 yang berbunyi, “PTN dilarang memungut uang pangkal dan atau pungutan lain selain UKT dari mahasiswa baru…” dan pada KMA No. 211 tahun 2018 tentang UKT-BKT pada diktum keenam yang berbunyi, “Perguruan tinggi keagamaan negeri dilarang memungut uang pangkal dan pungutan lain selain UKT dari mahasiswa baru program diploma dan sarjana”.

Menelaah tradisi tes kesehatan melalui tinjauan UKT, kita ketahui bersama bahwa mekanisme pembayaran biaya tes kesehatan dibayarkan di Bank kemitraan kampus dan secara otomatis, itu terpisah dari pembayaran UKT karena biaya yang dikeluarkan bersumber dari ‘kantong pribadi’ mahasiswa baru tersebut. Sederhananya, jikalau biaya tes kesehatan sudah masuk list UKT lantas mengapa masih ada pembayaran yang dipisahkan dari tubuh UKT? Maka idealnya biaya tes kesehatan dibayarkan beserta unit-unit lain secara kolektif (tunggal) dan tidak terpisah pembayarannya. Kedua dari segi nominal biaya tes kesehatan yang tidak menentu, pertanyaan mendasarnya adalah apa yang membedakan tes kesehatan dari tahun ke tahun? Apakah ada fasilitas yang berubah dari proses tes kesehatan yang berlangsung sehingga menuntut perubahan biaya setiap tahunnya? Kiranya pertanyaan itu adalah bentuk ketidaktahuan yang sebenarnya sehingga bergerak untuk mencari tahu melalui penjelasan dari yang menjalankan kebijakan tersebut dan berdasarkan aturan main pengelolaan pendidikan tinggi yang akuntabilitas dan transparansi maka perguruan tinggi/kampus wajib menjalankan prinsip tersebut utamanya prinsip transparansi meskipun ada batasan transparansi (sesuai bahasa pemangku kebijakan umumnya) tapi segala sesuatu yang berkaitan dengan mahasiswa maka sebuah keharusan adanya keterbukaan terhadap para mahasiswa. Dalam kasus ini, bukan hanya transparansi dari biaya tes kesehatan melainkan untuk nominal UKT yang dibayarkan oleh mahasiswa itu sendiri pun patut diketahui oleh mahasiswa utamanya persoalan apa-apa saja yang mereka bayarkan selama ini yang dibungkus dalam UKT. Harapan besar, semoga tradisi tes kesehatan dan biayanya mampu dijalankan dengan prinsip transparansi dan bagi yang menjalankan kebijakan ini mampu memberikan penjelasan dengan seksama kepada mahasiswa sehingga mampu mewujudkan bentuk sinergisitas dan integrasi antara mahasiswa dan pemangku kebijakan dalam kampus melalui medium keterbukaan satu sama lain!

Di sisi lain, bukan hanya sebenarnya fenomena biaya dan tes kesehatan yang mengundang beberapa pertanyaan, terdapat pula beberapa kebijakan lainnya yang masih dinilai kurang sreg sehingga menuntut hadirnya sebuah pendiskusian. Seperti, pembelian map yang dilakoni oleh mahasiswa baru dalam proses pendaftaran ulang berdasarkan desas-desus yang beredar sampai hari ini (perihal ini masih unsur praduga pula berdasarkan fenomena namun kita berharap semoga hal demikian tidak terjadi pada kenyataan) dan fenomena-fenomena lainnya yang semoga saja di ruang Microsoft Word selanjutnya akan mengulas tentang itu dan begitupula bagi para Pengoceh lainya, kita semogakan kehidupan ‘kata’ tetap lestari dan membumi sebagai medium kritis untuk membuka gerbang pertemuan kita di arena pendiskusian.

Teruntukmu, Kata-kata. Kita tidak menjadi baik karena terus menerus mendengarkan kata-kata baik dan kebaikan. Kita tidak menjadi adil karena terus menerus mendengarkan kata-kata adil dan keadilan. Tapi karena kita berbuat adil. Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata bagi Rendra dan manusia berbuat adil sejak dalam pikiran, perkataan apalagi perbuatan bagi Pram. Dan bagi kita, perjuangan tanpa kata-kata tidak lain hanyalah penghambaan pada kekosongan dan kata-kata yang tumbuh tidak adil dalam kenyataan adalah tabula rasa yang hidup mengapung.

 Penulis merupakan eks Ketua Dema Universitas UIN Alauddin Makassar periode 2018

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami