Habis Maba, Sepah di Mala

Facebook
Twitter
WhatsApp
Eks Ketua Dema Universitas UIN Alauddin Makassar, Askar Nur.

(Refleksi Gagasan terkait Kebijakan UKT Semester 9 ke atas)

Oleh: Askar Nur

Saat kebanyakan akun sosmed dari lembaga kemahasiswaan yang ada di kampus aktif dan update mengabarkan informasi maka saat itu pulalah kita dapat berkesimpulan bahwa tahun ajaran baru resmi dimulai. Di kampus, hal demikian ditandai dengan kehadiran sekelompok orang yang perawakannya terbilang masih sangat asing. Mereka adalah para calon mahasiswa baru yang akrab kita sapa “Camaba.” Sebuah akronim yang acapkali terdengar tak asing di telinga kita meskipun sebenarnya fase kelahiran dari kata itu, kita tidak ketahui kapan terjadinya perundingan hingga kapan pertama kali kata tersebut dilantunkan serta oleh siapa begitupulah akronim-akronim lainnya. Semuanya buram berlalu bersama keinginan untuk tidak perlu mengetahuinya secara mendetail. Kehidupan terlalu ‘mengenaskan’ jika hanya persoalan asal muasal sesuatu kita perdebatkan, hidup ini hanya untuk dinikmati begitulah pekikan kebanyakan. Pendiskusian perihal asal usul sesuatu yang menjurus pada aspek sejarahnya merupakan perkara yang tidak terlalu dianggap penting pada kehidupan saat ini, yang terpenting adalah hidup itu pilihan dan mayoritas pilihan adalah kesenangan. Menggali akar sejarah sesuatu bukanlah hal yang menjadi inti dalam tatanan hidup dewasa ini karena pada dasarnya penggalian aspek sejarah terhadap sesuatu telah dibantahkan oleh kata ‘Kepo’, sebuah kata yang diabreviasi dari kalimat Knowing Every Particular Object yang mengalami perkembangan yang cukup pesat dalam khazanah kekinian.

Dewasa ini, penggunaan kata ‘kepo’ merujuk pada penamaan bagi seseorang yang hobi mempertanyakan sesuatu sekaligus alat ampuh untuk mematikan psikologi seseorang yang ketika lagi asyik-asyiknya bertanya tentang sesuatu dan hanya dijawab dengan satu kata oleh lawan bicaranya yakni ‘kepo’. Mampuslah kita dikoyak-koyak kata-kata kekinian! Secara generik, penggunaan kata ‘kepo’ telah mengalami pergeseran makna dari makna sebenarnya. Kita ketahui bahwa asal muasal kata tersebut adalah Knowing Every Particular Object kemudian diserap ke dalam bentuk akronim yang kadang-kadang mematikan. Meskipun kalimat tersebut memerlukan segenap kesabaran lidah untuk melantunkannya dan kerapkali dicap sebagai produk kolonial oleh para kaum yang kiranya anti-kolonial tapi dari sekumpulan perenungan kita hingga melahirkan sebuah tanya bahwa sesuatu apa yang melekat pada diri dan menemani kita selama ini yang tidak berasal dari wejangan kolonial?

Knowing Every Particular Object (Kepo) jika diterjemahkan ke dalam bentuk bahasa Indonesia (bahasa yang semoga saja bukan produk kolonial juga) maka kita dapat menepi pada pendefinisian, sebuah keinginan seseorang untuk mengetahui setiap bagian terkecil dari suatu perkara atau objek. Pada kehidupan kita di dunia yang kerap manja ini, kata ‘kepo’ adalah kata yang akrab terdengar di kalangan para pegiat kehidupan modern untuk menjuluki seseorang yang dinilai ‘terlalu banyak tanya.’ Definisi modern sesuai penelitian yang pernah dilakukan oleh seorang profesor bernama Dorel Zaica pada tahun 1970-1996 (dalam Faisal Oddang, Sawerigading Datang Dari Laut) dengan mengajukan pertanyaan kepada anak yang berusia tujuh tahun, apa itu modern? Dan si anak menjawab bahwa modern adalah ketika kau melihat sesuatu yang indah dan mahal tetapi kau tidak punya cukup uang. ‘Kepo’ tetap menduduki posisi atas yang diikuti oleh kata ‘bacot’ dan ‘bacrit’ diperingkat kedua sesuai survei dari para korban tragis pembunuhan karakter melalui kata. Padahal jika mengurai makna sebenarnya, kata ini kurang elegan jika digunakan untuk memberi julukan terhadap orang-orang yang banyak cerita dan tanya apalagi digunakan sebagai senjata untuk meruntuhkan bangunan gombalan para laki-laki yang tengah berjuang menarik simpati sosok perempuan yang disukainya melalui tindakan spekulasi kata-kata yang marak terjadi di samping kiri-kanan kita. Sebagai seorang perempuan yang bijaksana, tentu harus menghargai usaha dari seorang laki-laki yang tengah menapaki hutan gelap untuk mengumpulkan ranting-ranting kata demi menghasilkan pembahasan yang akan ia bahas saat bertemu denganmu. Coba bayangkan, betapa susahnya seorang laki-laki yang harus menyusun kata demi kata agar bernilai di matamu meskipun seringkali kau hanya menjawab setiap pertanyaan yang ia lontarkan dengan sederhana sehingga ia harus berpikir lagi untuk mencari topik pembahasan tanpa berpikir untuk menyerah. Tolonglah, jangan mematikan semangat mereka dengan kata-kata yang akrab terucap pada bibirmu, saat ia banyak bicara di hadapanmu kau meresponnya ‘bacot’, saat ia bertanya sesuatu padamu kau meresponnya ‘kepo,’ saat ia berusaha memperhatikanmu kau meresponnya ‘modus’ dan saat ia mencoba membuatmu tersenyum dengan kata candaannya kau hanya meresponnya ‘sotta’. Kau perlu tahu, semua itu ia lakukan hanya untukmu. Jangan biarkan ia menyerah apalagi sakit hati hingga memaksanya untuk mengatakan bahwa “memang, semua perempuan sama. Sama-sama menyakitkan” karena suatu saat mungkin perkataan yang sama akan diutarakan pula oleh dirimu bahwa “memang, semua laki-laki sama. Sama-sama menyakitkan.” Jika hal demikian terjadi, maka saat itulah peradaban percintaan runtuh dan diselimuti ketidakpercayaan antar kaum sehingga dunia akan diselimuti awan mendung para kaum yang trauma atas nama cinta dan pada akhirnya kesucian cinta akan sirna dengan keputusan untuk hidup sendiri serta populasi manusia baru di dunia akan semakin turun.

Camaba, begitulah sapaan akrab para pengurus lembaga kemahasiswaan, mahasiswa lama dan mahasiswa yang ‘kelamaan’ terhadap sekumpulan manusia baru yang hadir dalam kehidupan mereka. Dibeberapa kampus khususnya di salah satu kampus yang terletak di pinggir selatan Kota Makassar, euforia penyambutan mahasiswa baru setiap tahunnya mungkin akan lebih berbeda dengan kampus-kampus lain. Di kampus tersebut, para mahasiswa khususnya pengurus LK memiliki antusias yang sangat tinggi dalam menyambut kehadiran para mahasiswa baru. Menyambut mahasiswa baru (maba) layaknya mereka menyambut tamu kehormatan, pejabat negara yang berpengaruh atau penyambutan yang mirip dengan tradisi kerajaan masa lalu hingga mereka rela mempersiapkan segalanya jauh hari sebelum hari H penyambutan, mulai dari menggagas tema hingga konsep penyambutan yang selain menguras waktu dan tenaga, juga pikiran mereka dalam memecahkan pertanyaan di mana mereka memperoleh anggaran untuk menyiapkan segalanya yang tentu tidak terlepas dari persoalan finansial.

Selain masalah penyambutan yang harus megah dan mendidik, mereka juga mengawal dan menemani para maba untuk mengurus kelengkapan dari segi administrasi, seperti informasi terkait kepengurusan berkas pendaftaran ulang hingga menyediakan jasa bantuan bagi maba yang memerlukan bantuan. Tak ayal, jika akun-akun sosmed LK selalu informasi yang tentunya dapat membantu para maba. Tentunya, kinerja para pengurus LK patut untuk diapresiasi dalam hal memperlakukan dengan elegan para maba meskipun beberapa di antara pengurus LK ataupun panitia penyambutan khususnya kaum laki-laki sesuai pengalaman pribadi seringkali menjadikan masa penyambutan maba sebagai arena mengidentifikasi raut wajah ‘unik’ para maba untuk dijadikan ‘teman diskusi’ di kemudian hari (maklum anak muda). Hal demikian wajar saja, itu adalah ‘dinamika’ sama halnya ketika pemangku kebijakan dinilai keliru dalam menjalankan sebuah kebijakan maka kalimat yang tak asing lagi akan terdengar di telinga kita, “kami khilaf nak” dan biasanya disertai dengan keringat dari otak manusia yang lelah berpikir yang kita namakan ‘air mata’ tapi entah air mata jenis apa karena dewasa ini fenomena membuktikan bahwa ada banyak jenis air mata. Yah, salah satunya mungkin saja itu yang sedang kalian pikirkan.

“Bagi mahasiswa baru, kami dari pengurus …… jurusan/fakultas ….. akan terus mengabarkan informasi terkait penyambutan mahasiswa baru dan lain-lain. Jadi untuk informasi selanjutnya silahkan follow akun sosmed kami atau list kontak person kalian untuk dimasukkan dalam grup khusus mahasiswa baru”

Kiranya seperti itulah info yang kerap kita temukan saat menjelang prosesi penyambutan maba meskipun dengan redaksi kata berbeda-beda tapi tetap satu jua esensinya. Hal demikian tidak bertahan lama dalam artian fenomena seperti di atas hanya berlaku bagi maba di setiap awal tahun ajaran baru. Segala polemik yang dihadapi maba akan dikawal dan ditindalanjuti oleh para pengurus LK. Kita bisa bayangkan bahwa betapa indah dan beruntungnya menjadi maba tapi sesungguhnya itu akan lebih indah dan elegan lagi jika Mahasiswa Lama (Mala) juga diperhatikan dari segi pengawalan atas keluhan-keluhan mereka. Pada dasarnya, itu juga menjadi tanggungjawab daripada pengurus LK.

Mahasiswa Lama yang dimaksud di sini, sekelompok mahasiswa yang pernah ‘manis’ saat menjadi maba hingga akhirnya menua bersama waktu dan tergantikan oleh yang lain. Kelompok mahasiswa kategori ini adalah kelompok yang tengah berjuang untuk menyelesaikan tanggungjawabnya di kampus dan mereka bisa kita jumpai di gazebo fakultas (berhubung bale-bale telah rata dengan tanah) di siang bolong dengan map beserta konco-konconya di sampingnya atau di dalam tasnya, di ruang jurusan yang sedang menunggu dosen pembimbing atau di kantin-kantin kampus dan sedang menafsir nasibnya, berkeluh kesah pada dirinya dan memikirkan masa jatuh tempoh kos-kosan atau rumah kontrakan hingga pembayaran UKTnya. Rasanya, sangat susah walau hanya sekedar membayangkan kondisi seperti itu.

Para mahasiswa lama itu juga sebenarnya membutuhkan uluran bantuan dari para pengurus LK untuk mengakomodir aspirasi mereka. Hal yang mungkin diresahkan oleh kebanyakan dari mereka adalah persoalan UKT. Momen seperti itu selalu menjadi mimpi buruk tersendiri bagi mereka. Betapa tidak, selain daripada siraman-siraman kebatinan perihal kapan menyelesaikan studi yang selalu didendangkan para orang tua, hal lain yang mengguncangkan batin mereka adalah masalah UKT. Derita mahasiswa lama melingkupi tiga aspek intim dalam dirinya, pertama serangan pertanyaan terkait penyelesaian studi, kedua penurunan uang bulanan dan ketiga adalah UKT yang harus selalu dibayar dengan nominal yang sama kala mereka masih semester muda.

Apalagi semenjak adanya ketetapan perihal revisi kategori UKT yang hanya diperuntukkan bagi mahasiswa semester 1-8 sementara mereka yang berada di semester 9 ke atas tidak bisa berbuat apa-apa selain terus membayarkan nominal yang sama saat mereka masih semester 1. Pada kondisi seperti inilah, mereka sangat mengharapkan uluran bantuan para pengurus LK untuk sekedar menjawab secara bersama pertanyaan tentang apakah adil jika mahasiswa semester 9 ke atas harus tetap membayar dengan nominal UKT sama seperti saat mereka semseter 1 dulu? Jika kita menjawab ‘adil’, maka di mana letak keadilannya? Sementara UKT selain daripada harus berdasarkan kemampuan ekonomi, berdasarkan prinsip keadilan, juga harus berdasarkan pada kebutuhan mahasiswa di jurusan. Berbicara kebutuhan, tentu kebutuhan mahasiswa semester 1-8 berbeda dengan kebutuhan mahasiswa semester 9 ke atas. Pertama dari segi jumlah SKS, mahasiswa semester 9 ke atas tentu hanya memprogram beberapa SKS dan tidak sama dengan mahasiswa semester 1-8 yang biasanya memprogram 22-24 SKS. Semester 9 ke atas hanya memprogram skripsi dan KKN sementara skripsi hanya sekitar 6 SKS dan KKN 4 SKS maka sudah seharusnya nominal UKT mahasiswa semester 9 ke atas diturunkan. Kedua dari segi keaktifan dalam ruang perkuliahan, mahasiswa semester 9 ke atas tentu tidak aktif lagi dalam ruang perkuliahan dan menggunakan fasilitas yang ada kalaupun ada yang mengulangi mata kuliah (pendalaman materi) maka seharusnya hanya membayarkan mata kuliah yang diulangi. Ketiga dari masa studi, yakni mahasiswa yang telah menyelesaikan tugas akhir dan hanya tinggal menunggu wisuda namun dalam proses menunggunya, tiba masa pembayaran UKT maka seharusnya mereka tidak membayar lagi meskipun sudah ada beberapa fakultas yang menerapkan 0 UKT pada segi ini namun masih ada pula yang mewajibkan pembayaran UKT. Oleh karena itu, seharusnya mahasiswa semester 9 ke atas tidak membayar UKT secara penuh lagi seperti waktu mereka masih duduk di semester 1-8 melainkan hanya membayar UKT sesuai kebutuhannya atau dikenakan pemotongan 50% dari jumlah UKTnya, misalnya 1.000.000,- menjadi 500.000,-.

Selanjutnya, jika pertanyaan di atas dijawab ‘tidak adil’ dengan alasan seperti yang telah diuraikan di atas maka pertanyaannya adalah siapa yang harus menginisiasi dan meneriakkan penurunan UKT mahasiswa semester 9 ke atas? Kepada siapa mahasiswa semester 9 ke atas harus mengadu? Haruskah para mahasiswa lama (Mala) menjadi mahasiswa baru (Maba) lagi agar diperhatikan dan dikawal oleh pengurus LK? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh orang-orang yang masih memperjuangkan dan menegakkan nilai keadilan. Bukankah perkataan Ernesto Guevara De La Serna, “Jika kalian bergetar saat melihat ketidakadilan, berarti kalian kawan saya”, masih sering terucap di bibir manis kita?

Semoga saja kisah kasih yang penuh kepiluan di negeri antah-berantah tidak terjadi dalam kehidupan nyata. Kisah percintaan aneh yang bersegi-segi antara Elka, Maba dan Mala di mana semenjak kehadiran Maba dalam kehidupan Elka, perhatian Elka hanya berpusat pada Maba dan mengacuhkan Mala bahkan tak ingin meliriknya lagi. “Padamu Mala yang malang, sesungguhnya kau tak perlu bersedih karna pada akhirnya Elka pun akan bergegas meninggalkan Maba saat ia mulai menua. Yang seharusnya membuatmu bersedih Mala bahkan harus meneteskan air mata adalah ketika Elka telah membiarkan ketidakadilan merajalela.”

*Penulis merupakan Demisioner Presiden Mahasiswa UIN Alauddin Makassar 2018 dan Duta Literasi 2019.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami