Bunuh Diri Kelas Hingga Harus Mudik

Facebook
Twitter
WhatsApp
Dok Pribadi I Muhammad Kasim

Oleh: Muhammad Kasim

Sebuah perubahan kultur pemikiran masyarakat di desa yang beranggapan bahwa pemenuhan ekonomi di kota lebih menjanjikan dibandingkan di desa.

Inilah yang kemudian menjadi faktor utama terjadinya urbanisasi, tanpa melihat potensi ekologis di desa. Saya teramat sepakat dengan pengakuan ayahanda Alwi Rahman dalam tulisannya yang mengatakan bahwasannya orang-orang yang melakukan urbanisasi adalah orang-orang yang bunuh diri kelas.

Mengapa demikian, karena mereka meninggalkan segala potensi ekonomis di desa dan berbondong-bondong ke kota demi pemenuhan hasrat. Ini kemudian berakibat pada kekosongan ataupun kekurangan sumber daya manusia terhadap sebuah lahan yang siap diolah.

Terlepas dari itu, dogma tentang kemudahan dan keramaian kota telah duduk manis dalam konsepsi mereka. Terlepas dari carut marut bunuh diri kelas, muncul sebuah kalimat tanya. Apakah munculnya masyarakat desa di kota akan membuat solidaritas orang dari desa di ruang-ruang  perkotaan menjadi kuat?

Ketika kita menelisik secara mendalam, ternyata solidaritas tidak nampak. Dimana seseorang hanya akan bertemu dan berkomunikasi ketika ada hubungan kerja. Itu artinya, ada marjinalisasi di ruang lingkup perkotaan.

Dapat menjadi perhatian masyarakat yang berkediaman dalam sebuah perumahan, mereka enggan untuk saling mengenal meskipun hanya dibatasi oleh tembok kecuali mereka memiliki status hubungan kerja, itu artinya semangat kerja seseorang betul-betul terbangun di kota sehingga mereka lupa dengan hal-hal yg sangat urgen dalam kehidupan bermasyarakat.

Kemudian pada suatu waktu tertentu akan muncul kebiasaan dalam hirup pikup masyarakat perkotaan yaitu “Harus mudik bukan arus mudik.”

Inilah yang menjadi hantu bagi masyarakat perkotaan disaat-saat tertentu, sehingga stigma tentang kewajiban mudik dapat terkonstruk dengan rapi dalam lanskap pemikiran.

Suatu ketakutan bagi saya jangan sampai karena tuntutan mudik sebagai kewajiban orang-orang akan cenderung melakukan berbagai cara hanya untuk menuntaskan hasratnya itu, misalnya mencuri, menipu dan lain-lain.

Kewajiban mudik ini akan semakin menggebu-gebu ketika beriringan oleh faktor sikologis yang sering orang namakan rindu, disini saya tdk akan membuat esoteris mengenai pemaknaan rindu yang hanya terbatas pada keluarga dan suasana desa saja. Tetapi saya melihat orang-orang sering merindukan bincang-bincang ringan dengan sanak family di desa, mengingat orang-orang di desa cenderung menjadikan pembahasan mengenai perkotaan sebagai konsuntif yang sangat menarik.

Kemudian satu yang perlu kita amati bahwa ketika orang di desa bertemu orang dari kota, mereka akan mengalami distorsi kepercayaan diri. Sepertinya tanpa mereka sadari ada sebuah penyamaan kedudukan antara orang dari kota yang sebenarnya asalanya dari desa juga dengan kaum priayi yang selalu menjadi kehormatan dan kiblat bagi orang kebanyakan.

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan PerPeradi Agama Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) semester VIII.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami