SKI Mengekspedisi Situs Sejarah

Facebook
Twitter
WhatsApp
Foto bersama Penghuni rumah adat Balla Jambu dan tim ekspedisi situs sejarah Balla’ Tujua dari jurusan SKI, UIN Alauddin Makassar. Bertempat di Lingkungan Buttatoa, kelurahan Buluttana Kecamatan Tinggimoncong Malino, Kabupaten Gowa, Senin (15/04/2019).

Washilah – Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Alauddin Makassar bertandang ke Situs sejarah Balla’ Tujua, Malino Kabupaten Gowa. Ekspedisi ini berlangsung dari 14 April hingga 15 April 2019.

Ketua HMJ SKI, Fian Anawangis mengungkapkan kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja HMJ dan bertujuan untuk mengekspos situs yang jarang diketahui banyak orang.

“Tujuan awal kami adalah berupaya untuk kembali melakukan penelitian pada situs yang jarang di ekspos, yang jarang diketahui khalayak sebagai warisan peninggalan sejarah di Gowa,” paparnya.

Mengusun tema “Jelajah Situs Sebagai Ekspos Jejak Sejarah,” ekspedisi ini diikuti oleh sembilan mahasiswa FAH. Memilih Balla’ Lompoa dan Balla’ Jambua sebagai tujuan ekspedisi, Fian menjelaskan bahwa timnya ingin berupaya mencari tahu lebih dalam tentang kedua tempat ini.

“Menurut berita yang masih simpang siur, 2 rumah adat ini dahulunya pernah ditempati sebagai peristirahatan sombayya gowa Sultan Hasanuddin, dan sebenarnya dahulu bukan 2 rumah tapi ada 7 rumah yang terbangun, tapi yang tersisa hanya 2 bangunan ini. Makanya kami berupaya untuk mencari tahu lagi,” tuturnya.

Lanjut, harapnya setelah kegiatan ini, tim ekspedisi dapat kembali mengungkapkan apa yang menjadi simpangsiur di tengah masyarakat melalui pendekatan komunikasi budaya oleh masyarakat adat setempat.

Ana Nurwina Tanal, mahasiswa yang juga ikut dalam ekspedisi ini mengungkapkan kegiatan ini merupakan hal yang wajar bagi mahasiswa jurusan sejarah dan menganggap kegiatan seperti ini patut untuk dibudayakan bagi akademisi sejarah.

“Dengan kegiatan seperti ini, kami bebas mengekspos situs sejarah. Kegiatan seperti ini patut untuk dibudayakan bagi akademisi sejarah, sebab teori dan aksi harus seimbang. Bisa dikatakan mahasiswa sejarah merupakan wisatawan professional, disamping mencari konsumsi sejarah juga merasa berwisata sebagai bentuk pelunasan dalam teori yang terkungkung oleh ruang,” bebernya.

Penulis: Ramalia
Editor: Dwinta Novelia

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami