Dua Tuntutan Mahasiswa FUFP Saat Demonstrasi

Facebook
Twitter
WhatsApp
Koordinator Lapangan, Firdaus mahasiswa Sosiologi Agama saat menyampaikan orasinya terkait pencairan anggaran Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dan persoalan intimidasi mahasiswa, bertempat di depan gedung Fakultas Ushuluddin Filsafat dan Politik (FUFP), Senin (25/03/2019).


Washilah – Pengurus Lembaga Kemahasiswaan (LK) Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin, Filsafat dan Politik (FUFP) melakukan demonstrasi solidaritas mahasiswa, bertempat di depan gedung FUFP UIN Alauddin Makassar, Senin (25/03/2019).

Dalam aksinya, ada dua tuntutan yang menjadi dasar dilakukannya demonstrasi, yakni penahanan pencairan anggaran HMJ Sosiologi Agama dan persoalan intimidasi lembaga kemahasiswaan yang dilakukan pihak jurusan.

Terkait hal itu Jendral Lapangan, Ahmad Fandi mengatakan, kegiatan HMJ menjadi terkendala disebabkan ketua jurusan menahan pencairan anggaran.

“Mulai setelah raker sampai sekarang, anggaran untuk kegiatan selanjutnya belum dicairkan, membuat kegiatan yang lain jadi molor,” tuturnya.

Lebih lanjut Ahmad Fandi mengatakan, penyebab belum cairnya anggaran karena terlibatnya mahasiswa baru dalam struktur pengurus HMJ.

“Ketua jurusan tidak mau menandatangani proposal jika tidak mengubah struktur kepengurusan himpunan, alasannya ada mahasiswa baru yang menjadi pengurus, padahal kan dia tidak berhak mengatur siapa saja yang akan menjadi pengurus pada himpunan. Sebelumnya telah dilakukan mediasi, tapi tetap saja tidak mau ditandatangani,” jelasnya.

Menanggapi hal itu, Ketua Jurusan Sosiologi Agama, Wahyuni S Sos tetap konsisten dengan keputusan penandatanganan pencairan anggaran akan dilakukan setelah mengubah struktur kepengurusan.

Hal tersebut Wahyuni lakukan, dengan mengacu pada buku saku UIN Alauddin Makassar tahun 2018, Pasal 20 Nomor 6 tentang pengurus LK memiliki IPK minimal 3,0 dan duduk di semester III sampai semester VII.

“Saya tidak melarang mahasiswa baru untuk berkegiatan, tapi ini belum masanya, biarkan mereka fokus ke kuliahnya, berikan dulu kesempatan pada mahasiswa semester tiga dan lima yang masih banyak belum tercantum dalam struktur kepengurusan, dan sudah jelas itu tertulis pada buku saku 2018 pasal 20 nomor 6,” ungkapnya.

Setelah melakukan aksi demonstrasi, Ketua HMJ Sosiologi Agama Aulia Febiola siap melakukan reshuffle sesuai dengan regulasi yang telah ditetapkan dalam buku saku.

“Cuman sangat disayangkan kalau ketentuan buku saku yang menjadi rujukan, sedang jurusan yang lain tetap melibatkan mahasiswa baru dikepengurusannya. Jalan terbaik agar anggaran tetap dicairkan kami me-reshuffle mahasiswa baru dari kepengurusan,” ujarnya.

Penulis: Viviana Basri

Editor: Dwinta Novelia

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami