[Cerpen] – Bukan Anak Kebanggaan

Facebook
Twitter
WhatsApp
Sumber Provoke-online

Oleh : Andi Haris Daeng Patanga

Bapak sedang melangsungkan sebuah rapat penting, berdua saja dengan ibu. Mereka mengatur siasat memuluskan jalan rusak yang telah tercakar-cakar kaki ayam jago. Itu semua untuk aku, anak yang sangat disayangnya. Ayam jago milik kami satu-satunya di dalam sangkarnya ikut meresmikan rapat tersebut. Kami bukan keluarga nelayan, seandainya begitu, maka kepiting dan ikan kerapu juga akan ikut meresmikannya.

“Anak ini memang tidak pernah beres. Tidak seperti anak-anak lainnya, mereka normal-normal saja”, itu pendapat bapak ibuku.

“Jika di ingat-ingat, sekolahnya memang tak pernah normal. Daeng masih ingat kan, dulu waktu dia masih ingusan, dia terus jadi bahan bulian oleh teman-temannya di TK. Masuk SD, berubah jadi bahan omongan guru-gurunya karena dia bodoh, telinga ini sudah seperti minyak di atas wajan panas. Kelakuannya juga tak pernah berubah semenjak duduk di bangku SMP. Bahkan bukan kabar-kabar miring lagi yang datang menghampiri, sudah gurunya langsung datang ke rumah ini menegur kita. Daeng, begini, bagaimana ya, rasanya punya anak yang sama seperti anak-anak para tetangga? Meskipun mendapat teguran, setidaknya semua kawan-kawannya ikut kena juga. Bukan cuma si Ippang”, bapak menyimak dengan baik dan sependapat.

Bagi bapak dan ibuku, saya bukanlah anak yang patut dibanggakan. Betapa rindunya mereka mendengar kabar-kabar baik tentangku sampai ke telinga mereka. Namun mereka tetap sayang kepada saya. Mau gimana lagi, mau tidak mau kan saya ini anaknya mereka. Di sini saya cukup mengerti, bahwa untuk sekedar membahagiakan mereka, tidak perlu ada prestasi yang mesti saya capai, cukup dengan dengan tidak membuatnya malu.

Ba’dah magrib bapak keluar dengan sepeda motor butut andalannya. Dengan lampunya yang tidak mampu melihat lobang pada jalan yang sunyi. Kunang-kunang ingin mencoba meneranginya namun tak mampu. Dia pergi ke rumah salah satu guru di kampung kami. Namanya cukup dikenal sebagai orang baik dan suka menolong itu, dengan alasan kekeluargaan.

Di belakang, istri pak guru lagi sibuk mengurus menu makanan enak. Begitu banyak bahan makanan bertumpuk di dapurnya, mulai dari ayam, kelapa hibrida, beras ketan hitam, dan juga kepiting. Sampai di pertemuan arisan para ibu-ibu, beberapa darinya istri-istri guru, mereka pada sibuk memperbincangkan dapurnya masing-masing yang tertimpa berbagai bahan makanan dan sembako.

Sebagai tamu di malam itu, bapak dihidangkan oleh pak guru, bubur beras ketan hitam.
” Waduuuh. Maaf sekali ini, Pak Guru, jadi merepotkan begini”
“Sudah, silahkan dicicipi buburnya. Tadi ada rejeki sedikit, salah satu orang tua murid membawakan beras ketan ini, katanya ini yang kualitas terbaik dari panennya kemarin. Silahkan silahkan”.
Sangat nikmat bubur buatan istri pak guru itu. Memang tidak ada yang bisa membantah kalo santan ketika dipadu dengan gula aren memang rasanya nikmat sekali.

“Begini nih, Pak Guru”, Dengan sikap malu-malu memulai pembicaraan.
“Oooh. Iya pak, tentu. Tentu saya akan bantu. Kita ini kan masih famili toh, santai sajalah”, Wah, Pak Guru sudah menangkap rupanya. “Siapa lagi yang hendaknya saling tolong-menolong kalo bukan keluarga sendiri”, kata pak guru itu kepada bapak.
“Terimakasih banyak ini, Pak Guru. Sekali lagi terimakasih, saya tambah merepotkan begini”

“Daeng Baso’, tambah lagi buburnya, silahkan, ini ada masih banyak”
“I iya iya, Pak Guru, makasih banyak. Sudah ba’dah isya rupanya, tidak terasa sekali. Saya mau pamit dulu kalo begitu”
“Kenapa buru-buru begitu Daeng Baso'”
“Ndaaaa’. Makasih loh ini Pak Guru, Salamu Alaikuum”
“Walaikum Salaam, hati-hati Daeng”

Bapak sudah hendak pergi meninggalkan rumah Pak Guru, belum jauh dari halamannya, terlihat dua orang dewasa laki dan perempuan, sepertinya suami istri, mereka berjalan ke arah bapak menghampiri, sepertinya hendak bertamu ke rumah Pak Guru juga. Di tangan si suami terlihat sedang menjinjing beberapa buah kelapa hibrida, sepertinya enam buah. Juga di tangan istrinya sebuah kantongan agak besar.

“Mau ke Pak Guru Juga?”, Kata bapak pelan kepada mereka.
“Iya nih. oooow, Daeng baru sajaaa…?”
“Hehehe, iya. Eh, itu apaan terlijat berat sekali?”
“Oooh. Ini loh, gula aren. Kebetulan ada sedikit rejeki, kebun lagi sedang baik-baiknya. Eh, kalo begitu saya duluan ya, Daeng. Keburu tengah malam, nda enak nanti bertamunya”

Tahun siswa baru diikuti dengan baju seragam baru pula. Di pasar baju, ibu sibuk memilih seragam putih abu-abu, pokoknya dari bahannya harus yang berkualitas. Gengsilah kalo tidak seperti itu, kan sekolah favorit.
“Bu. Memangnya tidak terlalu cepat sekali beli baju seragam?, kan masih lama masuk sekolahnya. Lulus masuk kesana juga belum tentu”

“Sudahlah, tidak perlu khawatir tidak lulus. Kamu nanti akan bisa duduk di bangku SMA favorit itu”.
” Lah, caranya gimana toh. Kok sudah pasti begitu?”
“Pokoknya kamu tenang saja. Kalo nda begini, Ujung-ujungnya pasti gagal juga kalo hanya andalkan otak buntumu itu. Sekolah favorit itu bukan tempatnya orang-orang bodoh, tapi kalo kamu bisa masuk di sana, setidaknya kamu bisa buat kami ini sedikit banggalah”
“Adduuh. Saya bingung jadinya bu”
“Eeeh, nak. Nda usah kebingungan begitu, yakin saja kamu bisa lolos kesana, lagipula ayam jago kita itu sudah berkokok di atas wajannya pak guru”

Ah sudahlah, saya nda mau ambil pusing, turuti sajalah apa maunya bapak sama ibu. Tapi tunggu dulu. Bukannya sekolah itu tempat dimana kita dididik supaya pintar?, kenapa mesti ada ujian masuk segala. Kalo memang seperti itu, gunanya apa sekolah-sekolah elit itu kalo memang nda mau menerima dan mendidik orang bodoh?, bukannya yang dididik itu memang yang bodoh. Ahh, kenapa jadinya saya kayak orang gila begini, bertanya-tanya sendirian.

Untungnya negara ini negara yang mewajibkan anak-anaknya bersekolah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka dari itu dikenallah ada istila sekolah pembuangan, maklum, itu tempatnya bagi mereka yang tidak lolos ujian masuk ke sekolah yang katanya bagus itu. Hehehe. Ternyata sekolah juga ada kasta-kastanya.

“Eh. Daeng intan dari mana, jinjingannya banyak begitu, mari saya bantu”
“Saya dari pasar Pang, makasih ya”
“Ngomong-ngomong Appang mau lanjut SMA mana daeng”
“Di tempat kamu mendaftar juga. Nih, makanya saya beli kepiting banyak-banyak”.

Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Peternakan Angkatan 2014 Fakultas Sains dan Teknologi UIN Alauddin Makassar

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Tabloid Edisi 122: KIP Kuliah Marak Calo

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami