Musim Gugur

Facebook
Twitter
WhatsApp
Dok Pribadi I Andi Sahi Al-Qadri

Oleh: Andi Sahi Al-Qadri

Indonesia adalah negara yang kaya dari segala aspek; kultur, suku, histori dan segala macam. Keadaan ini tak lepas dari luas wilayah Indonesia, berbentang pulau dari sabang sampai merauke, baik pulau yang alami maupun buatan, dari pusat kota hingga yang berdomisili di pesisir pantai. Demikian adalah sedikit gambaran yang bisa saya sampaikan mengapa kemudian secara geografis bisa dikatakan kaya.

‌Kita Melimpah, Percayalah

“Kolam Susu” satu dari banyaknya lagu yang menggambarkan betapa kayanya alam raya di negeri ini, lagu yang dinyanyikan oleh grup musik pada tahun 60 dan 70an sukses dan pernah merajai industri musik pada tahun 1973, Koes Plus.

Sedikit bunyi liriknya “tiada badai tiada topan kau temui, ikan dan udang menghampiri dirimu” seakan menggambarkan bagaimana kaya dan bersahabatnya alam raya tempat kita bernaung, sampai-sampai ikan dan udang menghampiri kita. Hanya dengan kail dan jala, sudah cukup untuk menghidupi kita. Betapa saktinya tanah air ini, sumber daya alam yang begitu melimpah, bahkan hanya dengan tongkat, mampu menjadi sebuah tanaman.

Berkaitan dengan nyanyian fenomenal tersebut telah mengisyaratkan bahwa sesungguhnya kita berada pada percikan-percikan dari surgawi, memudahkan segala kehidupan, menghadirkan semua yang dibutuhkan, ditambah lagi sajian alam yang begitu menyejukkan, hingga memanjakan mata dari keindahan.

‌Pluralisme Budaya

Tak cukup sampai disitu, kita punya beragam kultur yang menjadikan indonesia lebih berwarna, selain limpahan dari darat dan lautan, tradisi kita menawarkan pelbagai destinasi yang menjadi magnet bagi wisatawan asing. Dari semua yang dijangkau maupun tidak, dari yang sudah hampir tergusur zaman maupun belum tersentuh sedikitpun, seharusnya hal ini menjadi perhatian khusus bagi kita, agar tetap menjaga dan melindungi kelestariannya dari benturan dan mungkin dari sentuhan para tangan oknum-oknum perusak yang tak bertanggung jawab.

Disatu sisi, dari perbedaan kultur yang begitu beragam, jarang saya melihat penampakan konflik antar budaya yang secara tendensius, menjatuhkan budaya dari golongan tertentu, sebab pikirku, kita sadar bahwa kita kaya akan kemajemukan, menghargai sesama, yang menjadi terjemahan dari Binneka Tunggal Ika, semboyan dari negeri ini.

Seluruh aspek kebudayaan yang bermukim di Indonesia tak semua pernah kita nikmati, tapi yang terpenting bahwa setiap daerah mempunyai kekhasan dan aturan main masing-masing, ini yang membuat kita berbeda tapi tetap satu dalam balutan kebinnekaan, tarulah devinisi sopan, sopan dari setiap daerah berbeda, karena budaya kita yang membedakannya dengan keyakinan dan pengajian yang berbeda, hingga menemui kesepakatan sejauh mana sopan menurut keyakinan masing-masing, salah satunya budaya tabe’ di daerah Sulawesi Selatan.

Secara demokrasi, sebagai warga negara, kita memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan yang bertujuan mengubah kehidupan sosial, tak ada batasan ekspresi selama tidak menyalahi regulasi yang sudah disahkan dalam revisi UU informasi dan Teknologi, eh anu maksud saya ada batasan, sesuatu yang bersifat provokatif, atau mungkin agar meminimalisir penyebaran konten negatif, entahlah, kurang lebihnya seperti itu alasan undang-undang ini disahkan.

Penyampaian yang membingungkan ini akan lebih mudah dimengerti dengan sebutan politik, meski ini hanya sedikit penafsiran tentang “politik”, namun hal tersebut bisa mengklasifikasikan teori klasik Aristoteles bahwa politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Tujuan utama dari yang ingin saya sampaikan bahwa demokrasi erat kaitannya dengan politik, bahwa demokrasi tidak berjalan baik apabila tidak ditunjang oleh terbangunnya politik yang sesuai dengan prinsip- prinsip demokrasi. Keberadaan politik memperlengkap kondisi negeri ini, bahwa warga negaranya kaya, kaya dari perspektif manapun yang sepertinya membosankan pembaca bila saya sampaikan secara rinci, esensinya bahwa negeri ini kaya.

Dari segala ras, suku serta budaya yang berbeda dan semua wawasan nusantara yang begitu melimpah, menjadi sebuah anekdot bahwa Tuhan juga suka pamer, memperlihatkan segala Kuasa-Nya yang tak segan memberi dan memanjakan mahluknya, salah satunya di Indonesia ini. Jika melihat semua kekayaan alam nusantara, sebenarnya kita tak lagi menjadi negara yang berkembang, namun karena kita terlalu dimanja, kita hidup dengan kenyamanan. Tak perlu berpikir keras untuk mencari makan, tak perlu repot untuk menanam sayuran dan bebuahan, makanya kita larut dalam manjaan, hingga jika menemui masalah, gerakan kita seolah kaku, sebab terbiasa hidup manja. Tapi, perlu digaris bawahi bahwa yang menikmati manjaan hanya golongan tertentu, beda cerita yang tak punya tanah atau saudara kita yang sedang lapar dan berpikir besoknya mau makan apa, okelah kalau kata Sujiwo Tejo bahwa itu sudah menghina Tuhan, tapi apa mereka sempat berpikir demikian dalam kondisi lapar?

Toleransi

Perbedaan keyakinan dari segi penyembahan, adalah celah yang sangat rapuh hingga memudahkannya menjadi lahan provokasi dan berpotensi memecah belah kebinnekaan.

Memperluas perspektif akan membawa kepada wawasan yang luas pula. Bila ada yang secara demokrasi fokus pada satu titik, maka itu belum tentu dikatakan benar oleh golongan yang fokus dengan titik lain pula.

Kita berlimpah, di satu sisi masih ada saudara yang setiap hari terlihat susah, di sisi lain ada yang hidupnya mewah. Ada yang menjarah, tapi ada juga yang sedang nikmat dalam menjajah. Kita lahir dengan keadaan bahagia, tak punya masalah namun setelah dewasa akhirnya merasa, bahwa kita ada pada tempat dimana yang berada hanya sibuk memikirkan pribadinya, lebih terhormat dari mereka yang ikhlas berbagi pengetahuannya demi kepentingan masa depan bangsa. Apakah kepekaan sosial hampir punah?

Kini, Nusantara semakin pilu, Perseteruan sampai perpecahan antar golongan, konflik saudara setanah air, saling menjatuhkan antar ummat manusia di negeri Indonesia atas dasar pilihan politik yang berbeda, menjadi bahan tontonan para penikmat media elektronik, bahan bacaan bagi media daring kepada para pembaca yang budiman.

Menyebar informasi miring nampaknya semakin mudah sebab kemajuan teknologi mengalir sangat deras, berdalih kepentingan bersama namun kesannya bermaksud lain. Kasus ini terus berlanjut, serangan-serangan melalui media sosial dan permainan oknum pada media-media elektronik. Sejatinya perbedaan perspektif dan persepsi adalah manusiawi, kemudian dibenarkan dengan demokrasi yang ada di negeri ini.

Melihat fenomena ini, sepertinya kita harus mengutip pernyataan pemimpin revolusi, Soekarno. Dalam pidatonya selepas Negeri ini merdeka, Presiden RI pertama tersebut mengatakan bahwa “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah,
tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Apakah kita perlu kembali dijajah agar kita kembali bersatu, saling merangkul, tak ada sikap tendensius yang menyudutkan satu golongan, sebab kita punya tujuan yang sama yaitu melawan penjajahan dari negara lain? Saya rasa tidak, Kita hanya butuh negara ini berdaulat adil dan makmur yang ditafsirkan secara luas pada UUD Ayat 2.

Sedikit informasi, saya hanya menyampaikan pendapat pribadi, sebenarnya tulisan ini saya persembahkan untuk perayaan Hari Pers Nasional (HPN) yang jatuh pada hari ini. Saya hanya sekadar ingin menulis, makanya kalau diperhatikan lebih detail, tulisan di atas sedikit agak ngawur dan tidak beraturan. Apabila ada yang tersinggung, mohon dimaafkan, jangan dilaporkan.

*Penulis merupakan alumni Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah dan Keguruan

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami