Oleh: Muhammad Junaedi
Ada sebuah seni mengkerdilkan tanaman di Jepang, bonsai namanya. Pada zaman edo, bonsai merupakan pekerjaan sambilan seorang samurai, namun sejak masuk zaman meiji, bonsai dianggap sebagai hobi yang bergaya.
Dalam proses pengkerdilan tanaman itu, seorang seniman bonsai, memilih tanaman yang sesuai, lalu menaruhnya di pot yang dangkal. Setiap hari dirawat, memotong ranting, lalu membengkokkan sesuai kemauan seniman yang merawatnya. Dalam pembentukan tanaman, seorang seniman harus sabar, bertahun-tahun lamanya untuk sampai pada pola yang diinginkan seniman. Tanaman adalah makhluk hidup, dan tidak ada bonsai yang dapat dikatakan selesai atau sudah jadi.
Seniman bonsai menghambat pertumbuhan tanaman, mereka menyelewengkan corak perwujudan, membentuk sesuai pikiran dan kemauan yang ada dalam otaknya, sehingga terbentuklah bonsai yang indah dimatanya. Lain kepala, lain pikiran. Jadi, bonsai yang dibentuk seorang seniman, bukan bonsai yang indah seutuhnya dan abadi.
Kini, seni seperti itu jarang lagi diminati, mungkin karena masyarakat Jepang sudah sibuk. Tapi masih banyak anak-anak yang terhambat pertumbuhannya, karena pada mereka tak ada kasih yang tepat. Karena pada mereka tak ada kepercayaan yang perlu dan tentu saja, kebebasan. Anak-anak itu pun takut bahkan untuk senyum, apalagi buat berbicara bebas dan mencipta sendiri. Tubuh mereka mungkin normal, tapi jiwa mereka adalah sebuah hasil bonsai.
Seperti mereka, jiwa Mahasiswa pun jangan-jangan bisa di bonsai: mahasiswa yang tak menggeliat-geliat sedikit pun ketika di injak, dengan kata lain, mahasiswa yang tidak bisa lagi tumbuh, jadi aneh, tidak wajar.
Pendidikan kita hari ini jangan-jangan telah di bonsai. Dosen sebagai seniman bonsai, dan Mahasiswa jadi tanaman yang di bonsai. Dosen membengkokkan ranting-ranting mahasiswa, sehingga mahasiswa menjadi apa yang diinginkan sang dosen. Padahal dosen seharusnya menjadikan apa yang tidak mungkin menjadi mungkin, membuat mahasiswa jadi dirinya sendiri, meningkatkan potensi yang tersimpan dalam diri mahasiswa, tidak mengukir mahasiswa sesuai apa yang diinginkannya.
Pendidikan tidak sesederhana yang dipikirkan. Ada guru yang mengajar, dan monyet, ikan, burung, kelinci, dan buaya belajar, hewan-hewan itu digambarkan sebagai siswa yang berbeda-beda. Jadi, untuk menguji para siswa harus berbeda-beda. Kadang guru bodoh, menyamaratakan ujian siswa, padahal siswa itu berbeda-beda. Guru jadikan “panjat pohon” sebagai ujian para siswa, dan hasilnya, hanya si monyet yang lulus dari ujian tersebut. Ikan, burung, kelinci, dan buaya dianggap bodoh karena tidak lulus ujian yang diberikan oleh guru.
Padahal, ikan adalah perenang yang baik dan burung adalah penerbang yang baik, namun mereka dianggap bodoh, karena mereka tidak bisa mengikuti kemauan guru, yaitu manjat pohon. Seharusnya, bukan hanya panjat pohon yang dijadikan patokan untuk mengukur kecerdasan seseorang.
Mungkin itulah sebabnya kita harus meninjau patokan untuk mengukur kecerdasan dengan cara lain. Patokan kecerdasan bukanlah semacam ruangan, dengan ukuran pasti dan mutlak dan kita bisa dengan mudah berkata bahwa kurang dari itu berarti bodoh. Patokan kecerdasan mungkin perlu dilihat sebagai sesuatu yang terletak dalam situasi yang dinamis.
Maka akan tampaklah bahwa sejarah adalah riwayat tarik tambang antara mereka yang cemas akan kebebasan dengan mereka yang cemas akan ketidakbebasan. Maka akan tampaklah bahwa tarik tambang itu tak akan pernah selesai, tak pernah mencapai titik yang sudah bisa dibilang final. Akan ada orang cemas semacam Burke. Akan ada juga orang yang bersuara menentangnya.
*Penulis merupakan mahasiswa jurusan Ilmu Politik fakultas Ushuluddin, Filsafat dan Politik.











