MIWF Kunjungi UIN Alauddin Melalui Seminar Internasional

Facebook
Twitter
WhatsApp
Pemberian materi oleh salah satu writer Ayu utami (kedua dari kanan) pada seminar Makassar Internasional Writer's Festival ( MIWF) bertajuk 20 years reform : "Challenges After 20 Years of Indonesian's Political Reform from in / Outside Perspectives" di Gedung Rektorat lantai IV Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar. Kamis (03/05/2018)

Washilah – Komisi Humas UIN Alauddin Makassar, Jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) bekerja sama dengan Makassar International Writers Festival (MIWF) menggelar seminar internasional. Kegiatan yang bertajuk “20 Years Reform: Challenges After 20 Years of Indonesian’s Political Reform from In/Outside Perspectives” berlangsung di Gedung Rektorat lantai IV Kampus II UIN Alauddin Makassar, Kamis (03/04/2018).

Pembicara dalam kegiatan tersebut di antaranya Mark Heyward (penulis), Ayu Utami (penulis), Hikmat Darmawan (penulis), Ziggy Z (penulis) dan moderator John McGlynn (editor).

Komisi Humas UIN Alauddin Makassar Dr Firdaus Muhammad MA mengatakan, jurusan Jurnalistik selalu mendapat kesempatan mengikuti seminar internasional setiap tahun, termasuk saat penyelenggaraan MIWF.

“Kegiatan hari ini bagian dari rute MIWF. Beberapa kampus di Makassar turut andil, termasuk kampus kita,” ujarnya.

Hikmat Darmawan mengatakan bahwa sejak reformasi salah satu yang gagal adalah menyederhanakan dan membatasi Partai Politik (Parpol)

“Politik sekarang itu masih terpusat di partai. Nah, kalau parpol ini semakin berkuasa jadinya bisa ngapa-ngapain aja. Dia kehilangan mekanisme koreksi, kehilangan cara membenarkan dirinya,” ucapnya.

Lanjut, ia berharap dengan adanya MIWF mahasiswa bisa mendidik dan mempratikkan kepada masyarakat serta bisa membangun relasi yang baik dengan orang lain.

Penulis yang sekaligus perintis Aliansi Jurnalistik Indonesia (AJI) Ayu Utami mengatakan, bahwa sekarang kita memiliki kebebasan pers yang luar biasa, tidak serta merta memilih berita yang real kebenaranya tapi yg memuaskan hasrat, kebencian, selera dan kepentingan tertentu.

“Terus terang saya terkejut karna pada masa kami yang berjuang melawan Suharto dengan pers bebas, dengan sendirinya masyarakat menjadi baik atau rasional, ternyata tidak. Pers bebas ternyata penuh dengan hoax, berita palsu dan fitnah,” Tegasnya.

Senada dengan hal tersebut salah seorang penulis Mark Heyward mengungkapkan merasa kaget melihat kebebasan pers pada masa reformasi di Indonesia.

“Pada era reformasi saya sangat kaget melihat kebebasan pers lokal saya kira itu cukup kuat untuk mendorong reformasi pada saat itu,” ucapnya.

Penulis: Hikmah
Editor: Desy Monoarfa

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami