Masih hangat pada ingatan
Sore sebelum kemerdekaan kemarin
Saat serdadu itu mencoba merampas ia dariku
Saat merah jingganya mulai ditengggelamkan oleh waktu
Untung saja ia pulang
Memberi kabar hilangnya petang
Namun esok akan nampak lagi setelah perginya siang
Terdengar suara lonceng berbunyi
Pertanda petang akan tiba sesaat lagi
Namun serdadu itu selalu sigap mengawasi
Tak letih-letihnya ia berdiri tanpa hati
Angin berhembus kencang ke arah barat
Kupanjati dinding pedesaan berkawat
Melewati lorong-lorong tak bertuan
Tanpa sadar aku telah dikejar-kejar rasa ketakutan
Kutiba di tepi hutan
Dengan degup dada tak beraturan
Mulai terdengar tapak sepatu sih juragan
Di ikuti pula oleh serdadu-serdadu hartawan
Berlari memasuki rimba raya
Yang gelap tak berupa
Senyap pula suara dari belantara
Menembus senja dari ufuk khatulistiwa
*Penulis merupakan mahasiswa semester IV jurusan Ilmu Falak (IF) Fakultas Syariah dan Hukum (FSH)











