Dema Universitas, Revitalisasi Setelah Empat Tahun Dibekukan

Facebook
Twitter
WhatsApp
Ilustrasi | Andi Noormalasari (Magang)

Washilah – Setelah melalui proses panjang serta pertimbangan yang matang, akhirnya menggiat kembali Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang bertransformasi menjadi Dewan Mahasiswa (Dema) Universitas.

Hal ini berdasarkan keputusan Rapat Pimpinan, Kamis (07/01/2018) lalu. WR Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Prof Siti Aisyah menyampaikan bahwa Hasil rapat memutuskan, pengaktifan kembali Lembaga Kemahasiswaan (LK) tertinggi tingkat Universitas ini.

Pendaftaran Kandidat telah dibuka pada hari Senin (15/01/2018) lalu hingga hari ini. Berdasarkan keputusan Rektor Nomor 005 tahun 2018 tentang panitia pelaksana Pemilma, pemilihan Ketua Sema-U dan Dema-U akan berlangsung pada Senin (29/01/2018) mendatang.

Sejarah Singkat Pembekuan Presma

Sejak Pemilihan Mahasiswa (Pemilma) raya, kamis (16/01/2014). sistem yang diterapkan saat itu melalui pemilihan langsung, dimana semua elemen mahasiswa merasakan dan turut berpartisipasi dalam pesta demokrasi mahasiswa, baik sebagai pemilih, kandidat, maupun tim pemenangan. dari data yang dihimpun dari terbitan washilah.com pada Pemilma tahun 2014, empat tahun yang lalu, delapan pendaftar, ada enam kandidat yang dinyatakan lulus berkas setelah melalui proses verifikasi oleh Lembaga Penyelenggara Pemilma (LPP)

Hasil perhitungan suara yang dihimpun oleh Reporter Washilah pada hari Jum’at (17/01/2014) silam :
1. Syahrul Afandi (Fakultas Syariah dan Hukum) : 1081 Suara
2. Rahmat (Fakultas Sains dan Teknologi) : 1139 Suara
3. Buradin (Fakultas Sains dan Teknologi) : 2349 Suara
4. Fajar Asfar (Fakultas Adab dan Humaniora) : 1626 Suara
5. Takdir (Fakultas Tarbiyah dan Keguruan) : 2383 Suara
6. Bohari (Fakultas Tarbiyah dan Keguruan) : 1067 Suara

Dengan total suara 9645 dan 208 Suara abstain (Batal). Dari enam kandidat yang bertarung, Takdir memiliki suara terbanyak dan diikuti oleh Buradin dengan mengumpulkan suara terbanyak kedua dengan selisih perbedaan 34 suara.

Polemik Pemilma BEM-U bermula, ketika Buradin yang tercatat sebagai suara terbanyak kedua, menganggap ada keganjalan di salah satu Tempat Pemungutan Suara (TPS). Alasannya, Jumlah TPS yang ditetapkan LPP Pusat hanya 15, Delapan di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) dan masing-masing satu di Fakultas Adab dan Humaniora (FAH), Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK), Fakultas Sains dan Teknologi (FTK), dan Fakultas Usluhuddin, Filsafat dan Politik (FUFP). namun tanpa sepengetahuan pihak Buradin, keputusan berubah menjadi 16 TPS, tambahan satu dari Ushuluddin sehari sebelum pelaksanaan pemungutan suara dilakukan. Rabu (15/01/2018).

Menanggapi pernyataan Tersebut, Wahyu, selaku Sekertaris LPP Pusat menjelaskan, jika penambahan jumlah TPS di FUFP, atas permintaan LPP Fakultas yang disarankan oleh WD Bidang Kemahasiswaan agar tidak terlalu lama. Menurutnya, LPP telah menyampaikan hal tersebut kepada pihak Buradin. Namun, menurut Buradin, pihaknya sama sekali tidak mendapatkan informasi mengenai penambahan jumlah TPS, jumlah ID Card yang diterima pihaknya hanya 15, tidak berubah selama Pemungutan suara selesai. Gugatan ini disampaikan Buradin sesaat sebelum rekapitulasi suara di gedung Rektorat.

Masalah selanjutnya, ketika suara ditetapkan oleh LPP, suara terbanyak, Takdir dan Buradin saling bersikukuh untuk menduduki jabatan Presiden Mahasiswa. Berangkat dari segala polemik yang terjadi antara kedua kandidat ini, pimpinan menggelar rapat yang dihadiri WR Bidang Kemahasiswaan Prof Natsir M Ag dan Kepala Biro kemahasiswaan, Nuraeni Gani waktu itu, bersama dua kandidat, mengusulkan tiga pilihan. Pertama, bahwa kepengurusan antara kedua kandidat dilebur, yakni ketua dan sekretaris. Pilihan Kedua, kepengurusan dibagi menjadi dua periode, yakni kandidat satu memimpin tahun ini, dan kandidat lainnya memimpin tahun berikutnya. Ketiga, jika diantara kedua belah pihak belum ada kesepakatan untuk bersama, maka BEM-U akan dibekukan.

Namun dari ketiga pilihan yang disarankan, tak ada yang ingin mengalah menjadi sekertaris, meski Takdir dan Buradin telah bersepakat untuk melebur, namun nyatanya belum ada kepastian dari kedua belah pihak, hingga akhirnya, pilihan yang telah disepakati pada Rapim, maka diputuskan, pilihan ada pada kesepakatan yang ketiga yaitu pembekuan Presma.

Transformasi BEM Menjadi Dema

Ada yang berbeda dengan pemilihan Presma jika dibandingkan dengan pemilihan empat tahun lalu, jika dulu dinamakan BEM-U, sekarang berganti menjadi Dema-U. Bukan hanya nama, sistem pemilihannya juga akan berubah, dari pemilihan langsung menjadi pemilihan tidak langsung. Saat ditanyai soal perubahan ini, Prof Dr Natsir Siola, M A mengungkapkan sistem perwakilan ini dianggap lebih aman dibandingkan sistem pemilihan langsung.

Kehadiran Dema sebagai lembaga eksekutif, akan diikuti oleh organisasi Senat Mahasiswa (Sema). Sema seharusnya mengawasi serta bertanggung jawab atas jalannya roda keorganisasian Lembaga Kemahasiswaan (LK). Sema punya peranan penting sebagai lembaga legislatif di tingkat fakultas, maupun Universitas yang sebentar lagi akan dimiliki oleh UIN Alauddin Makassar, diantaranya merencanakan dan membuat kebijakan LK, merumuskan norma yang berlaku di lingkungan lembaga kemahasiswaan, serta beberapa tugas dan wewenang lainnya yang berkaitan dengan legislatif.

Terkait Pemilihan Dema-U, Sekertaris Panitia Pemilma, Dr Nur Syamsiah mengatakan, sistem yang digunakan sama dengan pemilihan Dema Fakultas yang dipilih oleh tiga delagasi. Sedangkan untuk Sema-U, akan dipilih oleh dua delegasi dari setiap fakultas.

“Dari delapan fakultas, Panitia Pemilma akan mengumpulkan 24 suara untuk pemilihan Dema-U, berbeda dengan Sema-U yang akan mengumpulkan 17 suara,” katanya. Selasa (16/01/2018)

WD Bidang Kemahasiswaan FDK ini menambahkan, bahwa untuk pemilihan Sema-U, Tarbiyah mendapatkan jatah hak suara sebanyak tiga, tujuh fakultas lainnya, FAH, FDK, FSH, FEBI, FKIK, FUFP dan FST masing-masing dua hak suara.


Kehadiran Dema Universitas Dibutuhkan

Pengaktifan Dema-U adalah keputusan yang sangat ditunggu oleh masyarakat kampus UIN Alauddin Makassar, hal ini merupakan Euforia bagi seluruh elemen mahasiswa, maupun birokrasi. Tak terkecuali Kurniadi Asmi, Ketua UKM SB eSA periode 2016. Ia menganggap, keputusan yang diambil adalah langkah yang tepat, hal tersebut menurut Nadi, sapaan akrabnya, adalah sebuah angin segar bagi kekuatan perubahan mahasiswa menuju lebih baik.

Menurutnya, bukan hanya birokrasi yang membutuhkan Rektor, mahasiswa pun membutuhkan pemimpin atas fakultas yang berbeda-beda.

“Selain itu, kita menyaksikan ada jarak sosial antara Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dengan fakultas-fakultas, itu kenapa? Karena tidak adanya penyambung komunikasi antara keduanya. Fakultas fakultas dan UKM memiliki pemimpinnya sendiri namun untuk menyatukan hal itu dibutuhkan seoranh figur yang dapat menyambung segalanya,” tuturnya.

Tanggapan senada juga dilontarkan oleh Ketua HMI Komsariat Tarbiyah dan Keguruan, Dedi Miswar mengenai kesepakatannya kehadiran Dema-U. Menurutnya, Pengaktifan Presma adalah sebuah keharusan dan merupakan kepentingan dari semua pihak.

“Akan tetapi dalam hal ini birokrasi perlu memahami bahwa Pemilihan Mahasiswa merupakan pesta demokrasi Mahasiswa itu sendiri, dan juga di atur dalam statuta bahwa birokrasi tidak boleh mengintervensi,” tangkasnya.

Penulis: Sahi Al-Qadri
Editor: Erlangga Rokadi

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami