Puisi “Rakyat Menunggu Dirakyatkan” Oleh Devi Fitriani

Facebook
Twitter
WhatsApp
Ilustrasi | Sumber: Sorotkebumen

Tuanku..pandanglah aku.
Semakin hari tulang semakin menonjol ditubuhku.
Setiap detik kuharap tetesan air mengalir ditenggorokanku.

Harapanku pada aliran darahmu.
Ikrar…entah kemana itu berlari.
Anganku pada hembusan nafasmu.
Belas kasih, akankah ada pada jiwamu?.

Saat ku melawan kejamnya kehidupan,
Jangan kau beradu dibilik sidang.
Ketika ku terpontang-panting oleh keraguan,
Jangan kau melancong ke negeri seberang.

Jas mewahmu tak cocok ditempat kumuhku.
Alas kaki rajamu tak sejalan dengan kasut usangku.
Penglihatanmu teralihkan oleh mereka yang membenciku.
Gedung bintang lima jadi tujuan langkahmu.
Dan aku sadar tersisihkan oleh nafsumu.

Jangan menabur janji,
Hanya demi sebuah kursi.
Tak usah berlagak peduli,
Jika akhirnya kau pun pergi.

Apa perlu merusak,
Lantas untuk dilihat?.
Apa perlu memberontak,
Lantas untuk didengar?.

Rambut kian memutih,
Ku tunggu kau menepi.
Berharap menghampiri,
Setiap hati yang kau sakiti.

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) semester III

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami