Opini : Guru Dan Tugas Historisnya

Facebook
Twitter
WhatsApp
Ilustrasi | net

Oleh : Asy’ari

Dalam pandangan yang [mungkin] paling awam dan kaku, seorang guru hanya dimaknai sebagai seseorang yang memiliki gelar sarjana pendidikan, mengajar disekolahan dan memiliki beberapa seragam pegawai negeri. Sejatinya, seorang guru adalah mereka yang mengabdi pada kemanusiaan, mendidik manusia supaya menjadi manusia yang sejati, memiliki tugas historis yang mulia dan karenanya pekerjaan yang di ridhoi Tuhan.

Seorang guru yang sejati, dalam tugas historisnya, bekerja untuk pembebasan. Pembebasan terhadap kebodohan  dan laku dehumanistik-eksploitatif kaum penindas dengan segala kekuasaannya.  Pembebasan yang dimaksud adalah melakukan penyadaran kepada masyarakat bahwa telah terjadi proses dehumanisasi (perilaku yang tidak manusiawi) dalam kehidupan manusia. Saran eksistensi manusia dieksploitasi, pendidikan di kapitalisasi, perampasan ruang hidup oleh kaum pemodal dan masih banyak lagi. Oleh karena itu, guru sejati dalam mendidik melakukan proses penyadaran kepada masyarakat agar menjadi subjek-aktif dalam laku kesehariannya agar dapat menjadi manusia-manusia yang progresif-revolusioner yang menjaga sarana eksistensi manusia dan meneruskan tugas historisnya kepada yang lain.

Guru sejati dalam proses penyadarannya, tidak terikat dengan kurikulum yang tidak kontekstual dengan kondisi peserta didik. Guru, sebagai guru yang sejati punya bahan ajarnya sendiri, bahan ajar yang  kontekstual dengan kondisi di mana peserta didik itu meng-ada dan menjadi subjek dalam laku kesehariannya dan tentunya sesuai dengan kebutuhan si peserta didik, sehingga peserta didik tidak merasa terasingkan dalam proses pendidikan.

Misalnya, Seorang guru yang mendidik di masyarakat dengan latar belakang masyarakat agraris tentunya mendidik sesuai dengan corak kultur dan latar belakang masyarakat tersebut. Jadi, guru dalam kerja mendidiknya melakukan proses penyadaran bahwa manusia harus menjaga alamnya karena alam sebagai sumber penghidupan dan kehidupannya, alam sebagai sarana eksistensi manusia dan karenanya tidak boleh diekploitasi.

Dalam mendidik, kultur agraris dan kontradiksi-kontradiksi sosial masyarakat sekitar menjadi bahan ajarnya. Seorang guru yang sejati harus berani, bebas, ilmiah dan berlaku adil sejak dalam fikiran dan perbuatannya. Guru yang sejati harus berani, tidak takut melawan sistem pendidikan yang dehumanis, dan tidak takut terhadap ancaman-ancaman yang mungkin ia terima.

Guru sejati juga harus bebas, tidak terikat oleh kekangan dan berani melawan godaan status quo yang dewasa ini banyak memakan korban para guru. Guru sejati juga harus ilmiah, banyak membaca, diskusi dan menulis agar cakrawala pengetahuannya terus bertambah dan dengannya proses pembebasannya bisa lebih bermakna. Guru sejati juga harus berlaku adil sejak dalam fikiran dan perbuatannya, karena bersikap adil adalah ciri-ciri seorang terpelajar, sikap adil juga menghindari diri dari sifat-sifat eksploitatif yang menjangkiti para penguasa.

Untuk menjadi seorang guru sejati, terlebih dahulu harus memahami hakikat manusia sebagai makhluk yang meng-ada, dan juga memahami pendidikan yang dialogis dan tentunya berideologi liberasionism (pembebasan) dan yang paling penting harus berani merasakan rasa sakit akibat dari proses kelahiran yang menyakitkan, kelahiran yang tentunya melahirkan pembebasan.

Sekian..

Jadilah Guru sejati.

*Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Angkatan 2013

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami